Surabaya (beritajatim.com) – Tim Dosen Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya menyerahkan mesin pengayak rajangan sampah di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.
Ketua Tim Amelia ST MT mengatakan bahwa penyerahan bantuan ini memanfaatkan program hibah LLDIKTI Wilayah VII Jatim dengan total dana sebesar Rp 50 juta.
“Sebelumnya kami telah melakukan survei ke Desa Mojotrisno, mereka tidak mempunyai mesin pengayak ini. Jadi ini sesuai dengan kebutuhan para warga,” ujar Amelia, ditulis Rabu (6/12/2023).
Mesin pengayak berkapasitas 50 kilogram/jam ini, kata dia, mampu melakukan pengayakan dengan ukuran maksimal 5 mm.
Baca Juga: Pekan ke-22 Liga 1 Diwarnai Big Match Persebaya vs Persija
Sedangkan di Desa Mojotrisno, sampah yang paling banyak ialah daun bambu. Butuh waktu tiga minggu untuk mengolah sampah daun bambu, mulai dari proses penghancuran, fermentasi, untuk kemudian diayak.
“Jadi, harapannya hasil rajangan dari mesin pengayak ini bisa meningkatkan kualitas dan produktivitas pupuk kompos,” kata Amelia.
Ditambahkan anggota tim, Jani Rahardjo, bahwa berbeda dengan alat pengayak pada umumnya, alat pengayak yang diberikan ini memperhatikan K3 atau Keselamatan dan Keselamatan Kerja.
Baca Juga: Pemkab Probolinggo Siapkan Lapak Sementara Bagi Pedagang Pasar Leces
“Caranya, kami menambahkan cover agar hasil ayakan tidak mengganggu kesehatan para pekerja, serta melindungi pekerja dari putaran mesin dan barang-barang yang mungkin lompat dari ayakan,” katanya.
Sementara itu, Maspuatin, salah seorang penggerak desa mengaku senang dengan adanya bantuan ini. Bantuan ini dinilai akan dapat meningkatkan pendapatan warga.
“Bersyukur sekali dan sangat berterima kasih dengan adanya pengadaan alat ini di sini. Sebab secara tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan mengolah sampah yang sudah ditimbun sebelumnya,” tuturnya.
Untuk diketahui, Indonesia darurat sampah. Permasalahan sampah, baik itu sampah basah atau kering sudah menjadi masalah global, termasuk di Indonesia salah satunya di Desa Mojotrisno.
Baca Juga: Bercanda Bawa Bom, Penumpang Pesawat Pelita Air Diamankan Petugas Bandara Juanda
Setiap harinya di desa tersebut, sampah basah atau keringnya mencapai 720 kilogram/hari dan sangat berpotensi untuk diolah jadi pupuk organik dan bahkan memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Melihat itu, tiga dosen UK Petra Surabaya melakukan pengabdian masyarakat di desa setempat. Mereka adalah Amelia, ST MT dari Sustainable Mechanical Engineering and Design, Dr Njo Anastasia SE MT dari Finance and Investment dan Drs Jani Rahardjo MBA Tech PH.D dari Industrial Engineering. [ipl/ian]






