Malang (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Islam Malang (Unisma) meraih pendanaan program Matching Fund Kedai Reka Kemendikbud Ristek RI tahun 2023. Proposal yang didanai ini untuk inovasi telur ayam rendah kolesterol.
Proposal riset diketuai oleh Ir. Brahmadhita Pratama Mahardhika, S.Pt, M.Si, IPP, bermitra dengan Koperasi Tani Nusantara. Dalam proposalnya ia membahas proposal tentang ‘Design Telur Fungsional Rendah Kolesterol dengan Konsep Zero Waste Farming System untuk Dunia Industri Melalui Implementasi Probiotik Lactobacillus Salivarius’.
Total dana yang diperoleh lebih dari 1,7 Miliar Rupiah. Dengan rincian, dana Kemdikbud Ristek sebesar 458.668.196, dana dari mitra, 1. 252.840.000, dan dari perguruan tinggi sebesar 37.663.000 Rupiah.
BACA JUGA:Mahasiswa ITS Gagas Panel Surya Piezoelektrik
Brahma, sapaannya, menjelaskan bahwa Mitra Koperasi Tani Nusantara sebagai industri dalam bidang peternakan ayam petelur terkendala pencemaran lingkungan. Hal itu disebabkan timbulnya bau tidak sedap akibat gas amonia dari penumpukan excreta selama pemeliharaan.
“Mitra koperasi Tani nusantara juga ingin melakukan pengembangan produk yang berfokus pada kesehatan konsumen. Bahkan sejak tahun 2008 memproduksi telur bebas AGP. Sejak 2017 sudah berkomitmen bebas antibiotik AGP. Mitra kita bercerita, telur ini inovasi sampingan, awalnya kita membuat untuk pertanian agar di sana tidak bau. Ini awalnya hanya menurunkan amonia,” ujar Brahma.

Produk telur fungsional ini, ditargetkan pada masyarakat yang peduli terhadap kesehatan dan masyarakat butuhan produk kesehatan khusus. Menurut Brahma, telur ini cocok untuk masyarakat yang punya masalah kesehatan seperti l jantung, aterosklerosis, hipertensi dan lainya.
“Implementasi probiotik Lactobacillus salivarius dalam industri ayam petelur dapat menjawab tantangan nasional terkhusu bidang lingkungan dan kesehatan. Telur ini, selain menghasilkan fungsional rendah kolesterol, juga dapat memperbaiki pencemaran lingkungan akibat gas amonia dari akumulasi excreta (kotoran unggas),” ungkap Brahma, dosen unisma.ac.id. tersebut.
Sementara itu, Rektor Unisma, menilai bahwa program matching fund menciptakan kolaborasi dari dunia usaha dan industri dengan perguruan tinggi. Melalui platform kedai reka, dukungan matching fund diberikan dengan 8 indikator yang ditetapkan.
BACA JUGA:Turnamen Icha Cup 2023: Tenis Lapangan, Ajang Persahabatan
Matching fund adalah pendanaan dari Kemendikbud Ristek yang memathckan perguruan tinggi dengan DUDI. Program ini mendukung 8 IKU, terutama berkontribusi pada IKU 2, mahasiswa berkegiatan di luar kampus, IKU 3 dosen bermitra dengan luar kampus, IKU 4 dosen sebagai praktisi, IKU 5 menghasilkan luaran, hasil kerja dosen di rekognisi di Internasional.
“8 indikator tersebut, meliputi lulusan perguruan tinggi mendapat pekerjaan layak, mahasiswa mendapat pengalaman luar kampus, ada desain pengalaman di luar kampus, praktisi mengajar, hasil kerja dosen diakui masyarakat dan internasional, kerjasama dengan mitra kelas dunia, kolaborasi nasional dan internasional, serta program studi bertaraf internasional,” ujar Prof Maskuri ketika jumpa media. (Dan/Aje)






