Surabaya (beritajatim.com) – Ribuan relawan yang tergabung dalam Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres (TKRPP) Ganjar-Mahfud Jawa Timur, mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) se-Pulau Jawa, di Hall B3-C3 JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Salah satu TKRPP asal Jatim yang turut mengikuti rakornas itu adalah Jaringan Arek Ksatria Airlangga (JAKA). Organ pendukung Ganjar-Mahfud dari para alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini dihadiri Teguh Prihandoko selaku ketua, Wahyudi Utomo dan FX Seran.
“Rakornas relawan Ganjar-Mahfud ini telah berhasil membakar semangat kami. Apalagi setelah Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Ibu Megawati memberikan pidatonya. Kami akan semakin semangat berjuang menjadikan Ganjar-Mahfud presiden dan wakil presiden berikutnya,” ujar Teguh, saat dikonfirmasi, Kamis (30/11/2023).
Menurut dia, rakornas ini diikuti sebanyak 8.000 relawan yang berasal dari utusan 2.721 organ relawan di Pulau Jawa. Jatim sendiri mengirim sebanyak 1.000 relawan dari berbagai organ yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara saja. Tidak termasuk anggotanya.
Dipimpin mantan Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi dan anggota DPRD Jatim Daniel Rohi, 1.000 relawan Ganjar-Mahfud berangkat ke Jakarta mengendarai 20 bus. Sepanjang perjalanan, kata Teguh, mereka terlihat sangat kompak dan semangat. Tidak ada guratan lelah, meski telah melewati perjalanan yang cukup jauh. Bahkan, selama rakor digelar tidak ada yang meninggalkan tempat. Semua mengikuti kegiatan sampai selesai.
BACA JUGA:
JAKA: Jika Berjiwa Ksatria, Anwar Usman Mundur dari Hakim MK
“Semua relawan mendukung sikap Bu Mega. Kita teriakkan kata ‘lawan’ sebagai bentuk sikap perlawanan terhadap rezim yang mulai kasar menjelang Pemilu 2024. Kami tidak ingin Neo Orde Baru muncul. Gelagat itu sudah mulai terasa sangat jelas,” ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Unair ini.
Teguh mengatakan, ternyata semangat relawan dan Megawati bersatu dalam napas kebersamaan mendukung perlawanan Neo Orde Baru, melawan praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan penegakan hukum.
Bersatunya napas ini, lanjutnya, sekaligus menjawab isu tentang adanya kesenjangan relawan dan Megawati yang arogan hingga banteng yang sudah kehilangan tanduknya.
“Bu Mega hampir satu jam menyampaikan pidatonya. Beliau sangat bersemangat dan emosional menceritakan kondisi Indonesia saat ini. Beliau tidak bisa menutupi kejengkelan atas apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan, beliau menyebut penguasa saat ini laiknya Orde Baru,” ungkapnya.
BACA JUGA:
JAKA: Jangan Ada Pencopotan Baliho Ganjar-Mahfud di Jatim
Neo Orba yang disebut Megawati, kata Teguh, itu berdasarkan fakta. Contohnya, aksi yang dinilai sewenang-wenang seperti intimidasi dan intervensi kepada masyarakat. “Bu Mega memberikan semangat kepada kami untuk tidak gentar dan takut. Bu Mega juga yakin jika Ganjar-Mahfud akan menang satu putaran,” katanya.
Teguh juga mengambil satu ucapan Megawati yang terus diulang selama memberikan pidato. Yakni ‘Who am I’ yang memiliki arti siapa saya. “Who am I banyak dilontarkan Bu Mega. Beliau mengingatkan kepada kita jika setiap orang harus tahu sejarah,” pungkasnya. [tok/beq]






