Sumenep (beritajatim.com) – Kepala Puskesmas Batang-Batang Sumenep, Fatimatul Insaniyah mengatakan, sesuai surat edaran (SE) Kemenkes RI, setiap bayi yang baru lahir wajib dilakukan Screening Hipotiroid Kongenital (SHK).
SE yang menjadi pedoman pelaksanaan SHK adalah SE dengan Nomor HK.02.02./II/3398/2022 Tanggal 13 Oktober 2022 tentang Kewajiban Pelaksanaan SHK di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Penyelenggara Pertolongan Persalinan.
“SHK ini perlu dilakukan untuk memastikan bayi yang baru lahir tidak mengalami penyakit hipotiroid kongenital. Apabila ditemukan bayi terkena hipotiroid kongenital, bisa mendapatkan penanganan secara cepat,” katanya, Rabu (29/11/2023).
Pernyataan tersebut menjawab protes sejumlah warga timur daya dan keluarga bayi Adelia Aziz Bella Negara yang meninggal saat berumur 5 hari. Versi keluarga, pasca pengambilan darah di tumit itu, kondisi bayi drop. Badannya panas dan tidak mau minum ASI maupun susu formula, hingga akhirnya si bayi meninggal. Padahal saat nayi perempuan itu lahir di Puskesmas Batang-batang, dalam keadaan sehat.
Keluarga bayi kemarin mengungkapkan ada beberapa kejanggalan dari proses SHK. Diantaranya, tidak ada persetujuan keluarga. Kedua, yang mengambil sampel darah untuk skrining bukan dokter, tetapi bidan. Selain itu, di tumit bayi yang diambil darahnya, ada bekas lebam biru menghitam. “Petugas kami sudah memberikan edukasi pada ibu bayi. Karena ini memang program baru, maka sudah dijelaskan oleh bidan tentang SHK. Sudah sesuai SOP yang dilakukan petugas kami,” ungkap Fatimatul.
Ia menjelaskan, selesai melahirkan, ibu dan bayi memang diijinkan pulang, namun disuruh kembali pada hari Sabtu untuk pengambilan SHK. Karena pengambilan SHK itu memang tidak boleh langsung setelah bayi lahir, melainkan harus menunggu minimal 24 jam dan maksimal 14 hari.
“Kemudian orang tua bayi, Aziz dan Rumaini datang ke Puskesmas membawa bayinya untuk SHK. Prosedur skrining ini juga berlaku untuk bayi-bayi lain. Saat ini tercatat sudah 35 bayi yang kami lakukan SHK di Puskesmas Batang -Batang,” paparnya.
Pada Selasa (28/11/2023), sejumlah Pemuda Timur Daya dan keluarga bayi berusia lima hari yang meninggal, berunjuk rasa di depan Puskesmas Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Mereka menuding kematian bayi Adelia Aziz Bella Negara akibat SHK. Mereka menuntut agar Kepala Puskesmas mundur dari jabatannya. (tem/kun)
BACA JUGA: Warga Binaan Rutan Sumenep Jalani Pemeriksaan TBC






