Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPP PDI Perjuangan, MH Said Abdullah menyatakan Capres Cawapres Ganjar Pranowo dan Mahfud MD (Ganjar-Mahfud) akan berkomitmen bangun manusia Indonesia yang unggul seutuhnya. Ia juga menegaskan, di tengah derap pembangunan infrastruktur yang dijalankan selama hampir 10 tahun ini, seperti mendapati kemegahan namun jiwanya kosong.
“Perekonomian tumbuh berlipat-lipat, namun kita mendapati jiwa bangsa yang makin miskin. Hampir 10 tahun ini pembangunan mental bangsa tertinggal jauh di belakang, kalah cepat dengan laju kemajuan kemajuan fisik,” tegas Said, Minggu (26/11/2023).
“Dahulu kita mencanangkan revolusi mental agar menjadi ruh bagi seluruh gerak pembangunan lahiriah. Tanpa ruh, tanpa mental yang memberikan ‘nyawa’ dari pembangunan fisik, sesungguhnya pembangunan kita tanpa narasi, tanpa kerangka filosofis, kita tidak memiliki raison d’etre yang kuat,” imbuhnya.
BACA JUGA:Miliki 41 Ribu Pil Koplo, Bandar Dukuh Pakis Digulung Polisi
Kekosongan jiwa itu makin absurd, parerel dengan makin turunnya kualitas demokrasi dalam pemerintahan (demokratic governance), Indeks Negara Hukum dan Indeks Persepsi Korupsi.
Ketiganya menjadi pekerjaan domestik yang harus dipulihkan ke depan, agar politik kewargaan tidak berjalan timpang. Refleksi panjang atas perjalanan selama ini menjadi problem serius atas ketiadaan jiwa bangsa.
“Kita makin kering keteladanan, di tengah menjamurnya silat lidah yang dikemas oleh industri citra pesona. Problem inilah yang mendasari, menjadi raison d’etre Ganjar-Mahfud menyusun visi dan misinya sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden. Ganjar-Mahfud ingin mengembalikan gagasan revolusi mental yang 10 tahun lalu kita gaungkan sebagai fondasi penting pembangunan. Kini kita pakai sebagai modal kita menuju Indonesia emas 2045, kita pakai fondasi menuju Indonesia unggul,” jelasnya.
“Bisa kita lihat dalam Visi Misi Ganjar-Mahfud, sebagian besar urusannya membangun manusia Indonesia agar menjadi manusia unggul,” tambahnya.
Menjadi manusia unggul sesungguhnya pesan utama pembangunan, lanjut dia, sebab diskursus pembangunan sedemikian rupa direduksi urusan ekonomi, bahkan belakangan dikerdilkan lagi sebatas urusan investasi usaha.
Lima tahun terakhir, demi investasi usaha, semua diterjang, diminta minggir. Tentu saja investasi usaha hal yang penting. Tetapi apakah sudah tepat ini menjadi prioritas pembangunan.
Seluruh kontemplasi itu menjadi latar belakang Ganjar-Mahfud menatap masa depan, meletakkan kembali agenda revolusi mental untuk menjadi manusia unggul.
“Jati diri kepribadian bangsa perlu kita nyatakan secara lugas. Semua nilai-nilai luhur bangsa, gotong royong, anti korupsi, produktif, inovatif, mandiri, patuh pada etika dan hukum, menghargai perbedaan dan kebebasan, emansipasi perempuan, melindungi minoritas perlu mendapat tempat, dan dihadirkan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” kata Said yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim ini.
Semua nilai-nilai itu, menurut Said, harus menjadi ruh bagi setiap gerak pembangunan di semua bidang.
“Bagi saya, inilah jalan kebudayaan kita menuju manusia unggul. Paling mula harus menjadi praktik hidup dan contoh nyata bagi seluruh para penyelenggara negara. Kami yakin, jika seluruh penyelenggara negara bisa melaksanakan nilai nilai tersebut pada gerak hidupnya sehari hari, hal itu akan memantul lebih luas menjadi jiwa bangsa,” tukasnya.
Dengan penghayatan total atas nilai nilai luhur itu, maka seluruh potensi pembangunan nasional akan lebih mudah diorganisir untuk menopang cita-cita pembangunan. Keteladanan pemimpin nasional yang menyebar ke seluruh level penyelenggara negara akan menjadi energi penggerak penting bagi pembangunan.
“Harapan kita untuk menaikkan pendapatan per kapita, menurunkan tingkat kemiskinan, membuka lapangan kerja, meningkatkan partisipasi pendidikan, meningkatkan harapan hidup rakyat, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, talenta anak anak bangsa yang hebat, menempuh jalan ekonomi hijau, menjadikan poros maritim dunia semuanya perlu, dan akan ditopang oleh kekuatan gotong royong semesta, asalkan penghayatan atas jiwa bangsa diatas telah menubuh. Jadi, gerakan pembangunan bukan semata mata agenda dan urusan pemerintahan,” paparnya.
BACA JUGA:Kapolda Himbau Anggotanya Netral Dalam Pemilu 2024
Rakyat akan merasa memiliki cita cita itu. Jadi, ini bukan semata milik atau agenda Ganjar dan Mahfud. Nalar inilah yang luput pada pembangunan selama ini, karena semua agenda pembanguan dipahami dan hanya diformulasikan secara teknokrasi. Teknokrasi sangat penting karena memandu kalkulasi dan mitigasi, namun sama pentingnya adalah rasa kepemilikan rakyat atas agenda pembangunan.
Visi manusia unggul adalah visi bersama, dan keunggulan itu dimulai dari sikap mental semua rakyat sebagai satu bangsa. “Harus kita akui hal ini menjadi agenda berat, tidak mudah, namun kita tidak bisa menghindarinya, sebab itulah jawaban atas kemerosotan nilai-nilai pembangunan selama ini. Belajar dari semua bangsa yang jatuh pascaperang dunia kedua, karena kalah perang, namun kenapa mereka bisa segera bangkit? kebangkitan mereka dimulai dari kebangkitan mental bangsanya,” tuturnya.
“Perjalanan sejarah bangsa kita sesungguhnya cukup menjadi gemblengan untuk menuju bangsa yang kuat. Kini, Ganjar-Mahfud memanggil kita semua, bukan demi kekuasaan beliau berdua, tapi karena kita perlu memperkuat cita-cita reformasi, dan panggilan ini adalah keniscayaan sejarah yang harus kita lalui, untuk sebenar-benarnya menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang unggul, setara, bahkan melampaui bangsa bangsa yang maju di dunia,” pungkasnya. (Tok/Aje)







