Jember (beritajatim.com) – Terilhami filsuf Yunani Socrates, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menggelar loma bertutur untuk siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Salah satu ikhtiar penguatan literasi sejak usia anak-anak.
Lomba ini diikuti 34 siswa sekolah dasar. Mereka diminta menceritakan kembali sejumlah cerita rakyat nusantara dan merekamnya visual untuk diunggah di YouTube dan laman media sosial lainnya seperti Instagram dan Facebook.
Dari 34 peserta itu, dipilih 10 perserta terbaik untuk masuk babak final dan tampil langsung di hadapan dewan juri di kantor Dinas Perpustakaan, 20-21 November 2023. Dewan juri memilih tiga peserta terbaik dan satu peserta lagi akan dinobatkan juara favorit berdasarkan jumlah penonton (viewer) tayangan video masing-masing di YouTube.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Achmad Imam Fauzi mengatakan, tugasnya adalah membangkitkan kegemaran membaca dan berliterasi. “Ini bukan persoalan kontrak jabatan, tapi amanah konstitusi. Siapapun pejabat publik wajib mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.
“Lomba bertutur ini sebetulnya dalam rangka bagaimana melatih anak-anak berorasi sejak kecil. Berorasi itu sebuah kemewahan di era Yunani. Orang-orang kaya pada masa lalu membayar para filsuf untuk mendidik anak-anak mereka agar status sosial menjadi agung,” kata Fauzi.
Hari ini, lanjut Fauzi, para filsuf tersebut adalah orang tua dan guru pendamping yang mendidik peserta lomba bertutur. “Bagaimana mengkomunikasikan ide gagasan memenuhi kriteria intelektual, diterima juri sebagai representasi masyarakat. Orang pintar berdiri di ruang hampa percuma. Ukuran kepintaran adalah ketika dia menarasikan dan berorasi tentang (ide-ide) itu,” katanya.
Fauzi mencontohkan Cicero yang melatih anak-anak aristokrat pada zaman Romawi kuno agar pandai bernarasi dan berorasi. “Melanjutkan tradisi Socrates dari zaman Yunani agar mereka berdebat pada konteks apapun. Pasar intelektualnya dulu seperti di aula perpustakaan ini. Siapa yang punya konsep dan dalil, mereka naik podium dan bernarasi atau bertutur,” kata mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini.
Cicero adalah filsuf dan orator yang memiliki keterampilan handal dalam retorika pada zaman Romawi Kuno. Sementara Socrates adalah filsuf yang memulai kajian filsafat dengan dialog dan adu argumentasi tentang sebuah topik.
Dengan kemampuan bertutur dan bernarasi ini, menurut Fauzi, seseorang akan bersentuhan dengan persoalan sosial kemasyarakatan dan kekuasaan. “Banyak cerita orang cerdas yang berorasi itu berbenturan dengan kekuasaan. Tidak apa-apa. Bahkan saya berharap lahirlah kaum intelektual dari kader-kader kecil (peserta lomba), karena intelektual itu akan mengubah paradigma. Mereka akan bercerita soal perjuangan keadilan dan kesejahteraan,” kata Fauzi.
“Tapi, kata Antonio Gramsci (pemikir Italia), jangan intelektual tukang, melainkan intelektual organik yang lahir dari perdebatan-perdebatan intelektual yang tidak tercerabut dari akar masalahnya. Harapan para pendamping, dengan bertutur, lahir para pemikir dari masyarakat ke depannya. Ini tujuan jangka panjangnya. Tergantung para filsuf pendamping ini mengarahkan adik-adik ini mau jadi apa,” kata Fauzi.
Ketua Pantia Triono Fuji Santoso mengatakan, lomba ini ingin menguatkan karakter budaya lokal. “Di tingkat provinsi juga ada lomba bertutur setiap tahun pada Juni. Kami menyiapkan (wakil Jember) untuk dikirimkan tahun depan,” katanya. [wir]






