Gresik (beritajatim.com) – Di tengah upaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan, Pimpinan Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Daun telah berhasil mengubah sampah menjadi sumber pendapatan melalui bank sampah yang mereka kelola.
Bank Sampah Putri Majeti, demikian nama bank sampah ini, tidak hanya menjadi tempat penampungan sampah, tetapi juga sebuah wadah kerjasama antara pengurus Fatayat NU dan pemerintah setempat.
Lokasi bank sampah yang terletak di Dusun Daun Laut, Kecamatan Sangkapura, Gresik, bukan hanya menyediakan lingkungan yang bersih, tetapi juga memberikan peluang penghasilan bagi para nasabahnya. Konsep unik ini memungkinkan setiap nasabah mendapatkan imbalan sesuai dengan berat timbangan sampah yang mereka setor ke bank.
Baca Juga: 450 PPPK Ikuti Masa Orientasi, Sekda Tuban Pesan Agar Mengenali Etika Kerja
Manajer Bank Sampah, Ustadzah Rafi’ah, menjelaskan bahwa inisiatif pembentukan bank sampah ini bertujuan untuk meminimalisir penumpukan sampah di berbagai tempat.
“Kami membentuk kelompok bank sampah sebagai langkah konkret untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin meresahkan. Bank Sampah Putri Majeti bukan sekadar tempat pembuangan sampah, melainkan tempat menukar sampah dengan cara menabung, sehingga sampah-sampah tersebut dapat diolah kembali, seperti plastik, besi, alumunium, dan kertas,” ungkapnya.
Para nasabah bank tidak hanya menerima keuntungan finansial, tetapi juga dilengkapi dengan buku tabungan untuk mencatat setiap kontribusi mereka. “Setiap minggunya, kami mencatat berat timbangan nasabah beserta jenis sampah yang disetor dalam buku tabungan. Harga per kilogramnya disamakan untuk semua jenis sampah, yakni senilai seribu rupiah,” tambah Ustadzah Rafi’ah.
Baca Juga: Persebaya Terancam Gagal Gunakan Gejos Saat Menjamu PSIS Semarang
Prosedur pengelolaan bank sampah ini melibatkan beberapa langkah, termasuk pemilahan sampah sesuai jenis di rumah, penyetoran ke bank sampah, registrasi atau pendaftaran nasabah, penimbangan sampah, pencatatan dalam buku tabungan, hingga pengangkutan sampah oleh petugas bank sampah.
Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Bawean berharap agar setiap desa di Bawean minimal memiliki bank sampah. “Jika dibandingkan dengan tempat pembuangan akhir, yang tujuannya tidak jelas, bank sampah memberikan manfaat yang lebih banyak untuk menjaga kebersihan Bawean ke depannya,” ujar ketua tersebut.
Dengan inisiatif seperti Bank Sampah Putri Majeti, diharapkan masyarakat semakin tergerak untuk berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengelola sampah menjadi sumber daya ekonomi lokal. (ian)






