Blitar (beritajatim.com) – Tambang pasir ilegal di Sungai Brantas, tepatnya di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar kembali marak. Tidak hanya manual, bahkan tambang pasir ilegal itu sampai menggunakan alat berat.
Aktivitas tambang pasir di Sungai Brantas Kabupaten Blitar ini sebenarnya sudah lama berlangsung. Namun awalnya dulu, kegiatan penambangan pasir dilakukan secara tradisional tanpa bantuan mesin seperti ekskavator ataupun pompa pasir.
Tetapi kini, pengambilan pasir sudah menggunakan mesin pompa yang dialirkan langsung menuju truk-truk pengangkut. Ekskavator pun diterjunkan untuk membuka jalan bagi truk-truk pencari pasir agar bisa mendekat ke bibir sungai.
“Ini kan sudah lama, tapi dulu tidak ada bego atau ekskavator. Sekarang sudah bebas,” ungkap warga Ngaglik yang akrab disapa Pak No.
Tentu dengan alat berat dan mesin pompa, proses penambangan pasir bisa dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Artinya jumlah pasir yang terkeruk dari dasar Sungai Brantas semakin banyak.
BACA JUGA:
Bupati Blitar Serahkan Dana Hibah Pemilu Sebesar 82 Miliar untuk KPU dan Bawaslu
Kondisi itu tentu akan mengubah dan merusak ekosistem sungai Brantas. Bahkan dengan adanya penambangan pasir ilegal ini, Sungai Brantas akan semakin membahayakan karena kedalamannya bertambah dan arus menjadi semakin deras.
“Ya kalau dikeruk terus menerus pasti akan semakin dalam dan membahayakan,” imbuhnya.
Menurut warga sekitar pemilik tambang ilegal ini bukan hanya orang lokal namun juga ada yang berasal dari luar Blitar. Mereka sengaja melakukan panambangan di sungai Brantas karena memiliki kualitas pasir yang cukup baik.
Pasir hasil penambangan di sungai Brantas ini pun beredar bukan hanya di Blitar namun juga wilayah sekitar, seperti Tulungagung hingga Kediri. Baiknya kualitas dan lebih murahnya harga, membuat pasir dari Sungai Ngaglik ini banyak diminati.
BACA JUGA:
Bawaslu Kota Blitar Tertibkan Alat Peraga Kampanye Caleg hingga Capres yang Terpasang
Dari keterangan warga rata-rata ada belasan hingga puluhan truk yang hilir mudik membeli pasir di area tambang ilegal tersebut.
“Wah kalau jumlahnya pasti banyak setiap hari, memang sudah dari dulu jadi banyak yang kenal juga,” tutupnya.
Selain merusak ekosistem Sungai Brantas, banyaknya kendaraan pengangkut pasir juga membuat jalan warga sering rusak dan berlubang. Warga sekitar sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka memilih untuk demi menghindari terjadinya konflik dengan para penambang pasir ilegal tersebut. [owi/beq]






