Ponorogo (beritajatim.com) – Ribuan orang pada Kamis (09/11) malam, memadati alun-alun Kabupaten Ponorogo. Mereka datang untuk mengikuti pengajian dari KH Muhammad Ali Shodiqin atau yang biasa akrab dipanggil Gus Ali Gondrong. Ya, pengajian yang juga disertai shalawatan itu digelar, dalam rangka hari jadi ke 10 tahun komunitas Mafia Sholawat (Manunggaling Fikiran lan Ati ing Ndalem Sholawat).
Pengajian dan shalawatan dengan tema mengetuk pintu langit, berteduh indahnya shalawat itu, sedianyaakan dihadiri oleh bakal calon presiden (bacapres) dari PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo. Namun, karena ada sesuatu hal, akhirnya Ganjar Pranowo hadir tidak langsung ke alun-alun. Namun, mantan Gubernur Provinsi Jawa Tengah itu, menyapa ribuan orang dengan zoom. Sebuah layar raksasa di panggung utama alun-alun, menampilkan wajah Ganjar Pranowo.
Dalam kesempatan zoom itu, Ganjar mengutarakan permintaan maafnya kepada semua yang hadir dalam pengajian dalam rangka 10 tahun Mafia Sholawat, karena tidak jadi hadir di tengah-tengah masyarakat yang memadati alun-alun Ponorogo. Dia tidak memungkinkan untuk ke Ponorogo, dengan padatnya jadwal, baik itu dari dirinya sendiri maupun bakal calon wakil presiden (bacawapres) pasangannya, Mahfud MD.
Baca Juga: Pengadaan Seragam Sekolah Gratis Gresik di Tahap Uji Kain
“Sebenarnya ingin sekali mengikuti shalawatan Gus Ali. Saya lihat di video-video youtube, pengajian shalawatan Gus Ali banyak sekali yang datang. Selamat untuk Mafia Sholawat yang ultah ke-10 tahun,” ungkap Ganjar Pranowo saat melakukan zoom, Kamis (09/10/2023).
Ganjar pun teringat dirinya saat berkunjung ke Kabupaten Ponorogo pada tahun 2000 lalu. Ia menceritakan bahwa saat itu, dirinya diajak oleh Bupati Sugiri Sancoko yang waktu itu masih calon bupati, untuk sarapan di depot sate ayam Ponorogo. Dia merasa kangen karena sate ayam khas bumi reog itu enak sekali.
“Sate ne enak pol, kangen sate ayam Ponorogo,” ungkap Ganjar yang terus ditepuki tangan oleh ribuan warga yang hadir.
Selain kulinernya, Ganjar juga teringat akan baju penadon. Saat berkunjung ke bumi reog, Ia ingat dipakaikan baju kebesaran para warok itu. Dia terlihat gagah dan berwibawa saat memakai pakaian yang serba hitam-hitam itu. Ketika membahas Ponorogo, Ganjar pun juga tidak lepas oleh keseniannya yang telah mendunia, yaitu Reog Ponorogo. Kesenian budaya asli Ponorogo ini, bisa menjadi hiburan rakyat, dan sudah terkenal ke seantero Indonesia.
“Reog Ponorogo merupakan seni budaya yang luar biasa. Ponorogo memiliki akar budaya yang tinggi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Ganjar Jatim, Budi Kanang Sulistyono menceritakan bahwa sebenarnya Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko sudah berupaya untuk menghadirkan Mas Ganjar dan Pak Mahfud MD. Namun, ternyata agenda mereka sebagai bacapres dan bacawapres terlalu banyak. Sehingga tidak memungkinkan untuk pargi dengan transportasi darat. Sehingga tidak bisa hadir dalam acara pengajian shalawatan Mafia Sholawat yang sudah berusia 10 tahun.
Baca Juga: Wali Kota Eri Bakar Semangat Pemuda Surabaya di The Leader 2045
“Sehingga malam ini kita semua datang di acara shalawatan dan doa untuk negeri ini. Kita kawal bersama, dengan Bupati Sugiri Sancoko dan Gus Ali Gondrong,” ungkap mantan Bupati Ngawi 2 periode tersebut.
Pemilihan acara musik dibalut pengajian dan shalawatan di Kabupaten Ponorogo juga bukan tanpa sebab. Menurutnya, Kabupaten Ponorogo, Ngawi dan Trenggalek itu memiliki satu kemiripan. Yakni selain banyak pendukung merah, juga banyak pendukung hijau yang cukup kental.
“Maka kita adakan musik shalawatan. Alhamdulillah antusiasme warga luarbiasa, ada ribuan orang yang memadati alun-alun Ponorogo,” pungkasnya. (End/ian)






