Malang (beritajatim.com) – Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PBSI FKIP) Unisma (Universitas Islam Malang) menghadirkan praktisi dari Universitas Binus Jakarta. Agenda ini mengajak mahasiswa untuk belajar tentang Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dan pengajarannya.
Puluhan mahasiswa menghadiri acara yang diisi oleh Rahmi Yulia Ningsih, S.Pd., M.Pd., di Hall Perpustakaan Pusat Unisma. Kuliah tamu ini berlangsung selama dua hari, yaitu Rabu-Kamis (8-9/11/2023).
Rahmi Yulia dalam keterangan kepada beritajatim.com menuturkan bahwa materinya disampaikan dalam beberapa sesi dengan beberapa topik. Materi pertama terkait dengan BIPA, mengenal lebih dekat dan peluangnya.
“Lalu saya juga membawakan tentang standar kompetensi pengajar BIPA, kemudian tentang penyusunan perangkat pembelajaran BIPA, metode pengajaran BIPA. Ada juga materi pengembangan alat evaluasi pembelajaran BIPA dalam topik khusus yang akan dikembangkan di hari kedua nanti,” ujar dosen Universitas Binus Jakarta tersebut.
Dari materi yang disampaikan Rahmi berharap agar mahasiswa dapat memahami peluang BIPA dan pengajaran BIPA. Dia juga berharap mahasiswa dapat mengembangkan penelitian BIPA.
BACA JUGA: FEB Unisma Datangkan Guru Besar dari Unair
“Kalau bisa juga untuk penulisan buku referensi, kemudian mereka bisa menerapkan metode pembelajaran yang aktif kreatif menyenangkan untuk BIPA. Harapannya mereka bisa menjadi pengajar yang profesional memahami seluruh perangkat pembelajaran BIPA,” ujar perempuan alumni pascasarjana Universitas Negeri Jakarta itu.
Rahmi mengapresiasi pembelajaran BIPA di Unisma. Ia merasa salut dan bangga dengan Unisma. Terakhir pihaknya melakukan uji coba tes penempatan BIPA untuk 190 peserta yang ada di Unisma.
“Ini saya melihat daya tarik di Unisma mampu menarik ratusan orang asing bisa belajar BIPA. Itu adalah sebuah tantangan yang luar biasa. Ada juga yang menarik ketika saya tanya untuk mahasiswa di Unisma sendiri itu belajar BIPA sampai belasan SKS, itu artinya Unisma berfokus untuk pengembangan potensi mahasiswa untuk menjadi pengajar yang profesional,” ungkapnya.
Kuliah tamu ini, lanjut Rahmi, sebagai bentuk konkrit Unisma untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas mencetak pengajar profesional. Lebih dari itu, dosen Binus ini juga berpesan kepada mahasiswa agar luar biasa menurut saya dan baru saya materi yang disampaikan bermanfaat dan dapat dipraktekkan nanti saat terjun ke dunia kerja.
BACA JUGA: Ekspansi Kampus, Unisma MoU dengan Forum PTKIS se-Kalimantan
“Yang paling penting adalah materi ini dapat memantik semangat mereka bahwa ternyata jurusan bahasa Indonesia itu punya peluang karir yang luar biasa banyak loh. Tidak hanya sekedar mengajar, tetapi mereka bisa menjadi apapun itu. Bisa jurnalis, pengajar ataupun pengajar BIPA, bahkan mereka adalah pionir untuk internasionalisasi bahasa Indonesia,” kata Rahmi menutup wawancara.
Ditambahkan oleh penanggung penanggung jawab bidang mahasiswa dan kerjasama Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) 2023, Dr. Ari Ambarwati, M. Pd., bahwa acara ini merupakan bagian dari peningkatan kompetensi mahasiswa melalui program praktisi mengajar berbasis distingsi prodi. Acara ini menjadi bagian dari pendanaan PPKM Kemdikbud Ristek untuk menunjukkan distingsi PBSI Unisma.

Tidak hanya BIPA, tetapi sebelumnya PBSI Unisma juga menghadirkan pakar dan kuliah tamu terkait pembelajaran inovatif dan penyusunan skenario. Hal Ini sebagai salah satu distingsi prodi yang jadi bagian dari program untuk peningkatan kualitas lulusan dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
“Kami menawarkan berbagai profesi yang bisa ditekuni lulusan karena nanti saat lulus mereka tidak hanya jadi guru, tetapi juga bisa menjadi penulis skenario, pengajar BIPA, dan pembuat bahan ajar bahasa Indonesia kreatif,” ujar Ambar.
Salah satu mahasiswa peserta acara mengaku tertarik dengan BIPA karena ingin mengajar di luar negeri. Ia juga berkeinginan mengajar bahasa Indonesia bagai masyarakat atau mahasiswa asing.
“Saya belajar BIPA agar bisa mengajar bahasa Indonesia di luar negeri. Lumayan bisa jalan jalan gratis ke luar negeri,” ujar salah satu mahasiswa semester 5 yang menjawab pertanyaan dari pemateri tentang alasan ketertarikan belajar BIPA. [dan/suf]






