Mojokerto (beritajatim.com) – Aksi panggung spektakuler Opera Majapahit ‘Gayatri Sang Sri Rajapatni’ digelar di Pusat Informasi Majapahit Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (4/11/2023) malam. Para seniman se-Indonesia tampil menawan dalam pentas pertunjukan kontemporer teatrikal yang menceritakan mengenai sejarah Kerajaan di Jawa Timur mulai Singasari, Kadiri, Majapahit hingga akhir masa pemerintahan Gayatri. Opera ini karya penulis dan sutradara Mia Johannes alias Mhyajo.
Pagelaran Opera Gayatri begitu kental dengan irama nusantara karena diiringi orkestra besutan komponis Franki Raden. Pria kelahiran 4 Januari 1953 ini memadukan alat musik dari berbagai etnik Indonesia hingga membuat bulu kuduk merinding. Panggung semakin menarik dengan Festival Cahaya karya M Janna Bindiar.
Sutradara Opera Gayatri, Mia Johannes alias Mhyajo mengatakan, Opera Gayatri ini merupakan rangkaian Gaung Sakala Bhumi Majapahit dalam rangka memperingati hari lahir Majapahit ke-730. Opera Gayatri adalah pementasan teatrikal yang menggambarkan lini masa sejak Kerajaan Singasari, Kerajaan Kadiri, terbentuknya Kerajaan Majapahit sampai akhir Gayatri moksa.
BACA JUGA:Musim Pancaroba, Warga Langsar Sumenep Gelar Ritual Cahe
“Jadi di dalam lini masa tersebut terdapat banyak sekali kejadian-kejadian dan dia (Gayatri) ada di setiap lini masa yang penting. Dalam opera ini mengangkat sosok Gayatri yang sangat berperan di Kerajaan Majapahit,” ungkapnya, Minggu (5/11/2023)
Naskah dan adegan teatrikal Opera Gayatri yang ditulis 2018 itu sesuai lini masa dari rentetan kejadian-kejadian yang 100 persen pakem sesuai sejarah tidak diotak atik. Sehingga penyajian Opera Gayatri sekitar 80 persen dari lini masa dan selebihnya improvisasi tingkat kesadaran seniman.
“Kenapa namanya Gayatri (Opera), kalau Gayatri tidak memikat Raden Wijaya dan dia tidak menjanjikan kerajaan baru setelah Singasari habis (Diruntuhkan 1292) oleh Kerajaan Kadiri, oleh Jayakatwang. Maka tidak akan ada Kerajaan Majapahit,” jelasnya.
Inspirasi pengumpulan cerita Opera Gayatri tersebut diperoleh Mhyajo dari hasil riset dan literasi, arca, narasumber
bahwa Gayatri berperan dalam kelahiran Majapahit. Pementasan Opera Gayatri yang berlangsung lebih dari 1 jam 30 menit itu juga dilengkapi dengan pemutaran film di sebuah layar lebar.
“Jadi saya pikir bahwa kelahiran Majapahit itu tumbuh dari seorang gadis yang ditinggal mangkat (Meninggal) secara keji oleh Jayakatwang. kesedihannya itu dia mendapatkan jawabannya dari Raden Wijaya. Menurut saya, Gayatri dialah akarnya dari Kerajaan Majapahit,” bebernya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Fitra Arda mengungkapkan Gaung Sakala Bhumi Majapahit sebagai kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
BACA JUGA:Kejurnas Ajang Promdek Puslatda Jelang PON Sumatera Aceh
“Dalam rangka memperingati hari jadi Majapahit yang mendasarkan pada tanggal penobatan Raden Wijaya sebagai Raja pertama Majapahit. Gaung Sakala Bhumi Majapahit diisi rangkaian kegiatan sosialisasi, transmisi, apresiasi dan regenerasi terkait dengan Majapahit, KCBN Trowulan, dan OPK,” katanya.
Yakni mencakup aspek arkeologis, sejarah maupun nilai budaya Majapahit (Kemegahan dan Keragaman Infrastruktur, Kekayaan dan Keragaman Budaya, Harmoni dan Toleransi Masyarakat, Dinamika Kehidupan Selaras dengan Alam). Termasuk di dalamnya Opera Majapahit, Gayatri Sang Sri Rajapatni.
“Opera Gayatri untuk menguatkan identitas serta menjaga nilai-nilai keluhuran budaya Majapahit, melalui aktualisasi pentas/ekspresi seni budaya dengan mengangkat salah satu tokoh penting Majapahit, Rajapatni Gayatri,” pungkasnya. (Tin/Aje)







