Jember (beritajatim.com) – Ketahanan nasional harus diawali ketahanan keluarga. Kemampuan menjadi orang tua (parenting skill) penting untuk mewujudkan generasi bangsa yang unggul.
Demikian disampaikan Akhmad Malik Affandi, Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Jember, Jawa Timur, usai acara seminar parenting skill, di aula Kantor Dewan Pimpinan Daerah LDII Kabupaten Jember, Sabtu (21/10./2023).
“Jadi tidak mungkin terwujud ketahanan nasional kalau tidak diawali ketahanan keluarga. Kala keluarga sudah harmonis dan romantis, kami meyakini akan terhindar dari kenakalan remaja, stunting, narkoba, perkelahian remaja, dan lain-lain,” kata Malik.
Pelatihan parenting skill ini diikuti 220 orang perempuan dari Wanita LDII, Muslimat NU, dan Aisiyah Muhammadiyah, dengan narasumber utama Ida Royani, anggota Dewan Pakar Pimpinan Pusat LDII Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga. Sekretaris LDII Jember Agung Pangaribowo mengatakan, program ini sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Jember.
“Kami ingin mengedukasi para orang tua dalam mendidik dan membimbing generasi muda, Ini kan butuh skill orang tua. Harapannya ke depan para orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, sehingga dihasilkan generasi unggul,” kata Agung.
Dalam konteks ketahanan keluarga ini juga, LDII Jember mengkritisi fenomena ‘childfree’ dengan alasan ekonomi, yakni fenomena pasangan atau seseorang yang memilih untuk tidak memiliki anak dengan alasan kemampuan finansial.
“Itu menentang sunnah rasul. Salah satu tujuan orang berumah tangga adalah membuat keturunan. Kita punya anak jangan dijadikan beban, tapi aset jariyah untuk kita. Kalau kita mendidikan anak dengan baik, itu akan jadi ladang jariyah buat kita. Kita jadikan mereka anak soleh dan solihah, sehingga menjadi ladang pahala jariyah ketika kita meninggal dunia,” kata Malik.
Malik mengatakan, umat Islam meyakini bahwa pertolongan dari Allah turun bagi mereka yang berkeluarga dan memiliki anak. “Oleh sebab itu, kita menganggap penting parenting skill ini, agar tidak menganggap punya anak jadi beban secara ekonomi, memunculkan ketakutan,” katanya.
“Kita yakin Allah menciptakan anak dengan meng-qadar rezekinya masing-masing. Tentu ada takarannya, sesuai qadar masing-masing. Tapi jangan sampai orang Islam takut punya anak karena masalah ekonomi,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember ini.
Sementara itu, Ida Royani menekankan perlunya kesabaran dalam membimbing anak. Ia membesarkan delapan orang anak, dengan anak bungsu yang terlahir sebagai disabilitas. Namun ia tidak berputus asa. Dia meyakini di balik kelemahan ada kelebihan.
Ida Royani mengatakan, persoalan tengkes (stunting) di Jember bisa diatasi salah satunya dengan ketahanan keluarga yang cukup kuat. Tak hanya ketahanan ekonomi, tapi juga ketahanan karakter dan ketahanan agama. Tengkes bisa dicegah dengan cara mencegah pernikahan dalam usia terlalu muda. Orang yang menikah dalam usia terlalu dini maupun terpaksa hamil di luar pernikahan tidak bahagia dan bisa mengakibatkan tengkes. [wir]






