Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan profesor di seluruh Indonesia berkumpul di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk membahas tantangan teknologi kekinian dalam pencapaian kemakmuran rakyat dan kemajuan bangsa.
Setidaknya ada 220 profesor yang hadir dalam acara The 5th Professor Summit 2023 tersebut. Selama dua hari, yakni pada 19-20 Oktober 2023, forum diisi dengan 4 seminar nasional dan sebuah karya inovasi professor.
Para peserta itu merupakan anggota Asosiasi Profesor Indonesia (API), Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI), dan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (MDGB-PTNBH).
“Profesor summit itu pertemuan tingkat tinggi profesor se-Indonesia, dan ini sudah yang kelima. Ini terdiri dari tiga organisasi besar para guru besar,” ujar Ketua Dewan Profesor ITS Prof Imam Robandi, Jumat (20/10/2023).
Prof Imam mengungkapkan, adapun tujuan diadakannya pertemuan ini yakni untuk membahas pemanfaatan teknologi, yang nantinya teknologi tersebut akan berdampak pada efisiensinya pembangunan di Indonesia.
Selain itu, Prof Imam juga menilai jika Indonesia masih menjadi negara atau bangsa yang lebih mudah membeli ketimbang harus melakukan penelitian terlebih dahulu, untuk kemudian dilakukan produksi secara mandiri.
“Barang-barang yang di perguruan tinggi, kementerian, perusahaan BUMN, coba dihitung berapa barang impornya ? Nah, terpikir tidak menyelesaikan itu ? Terpikir tidak kalau motor-motor PNS itu seharusnya buatan Sidoarjo atau Magelang saja ?,” tanya dia.
Di samping itu, lanjut Prof Imam, bahwa dalam pertemuan para profesor se-Indonesia ini juga dibahas seputar kejadian yang belakangan ramai diperbincangkan publik. Termasuk kaitannya dengan kepatutan berteknologi.
“Jadi, kalau teknologi seperti membuat senjata nuklir tapi untuk menakut-nakuti negara orang lain, ya tidak ada artinya, atau tidak ada makna yang positif,” jelasnya.
BACA JUGA:
KH Marzuqi Mustamar Jadi Lulusan Doktoral Terbaik Wisuda ke-71 Unisma
Kemudian, forum tersebut juga membahas terkait kecepatan pertumbuhan dinamika masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan dinamika masyarakat tersebut tidak terkejar oleh pertumbuhan teknologi.
“Dinamika masyarakat lebih dulu tumbuh, teknologi mengikuti, selalu begitu. Karena pada prinsipnya teknologi itu kan untuk mengatasi kesulitan, jadi kalau tidak ada kesulitan kita tidak memunculkan teknologi. Nah, yang terjadi itu pertumbuhan masyarakat jauh lebih besar dari pada teknologi yang diciptakan,” terangnya. [ipl/but]






