Jember (beritajatim.com) – DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung pemberlakuan sistem lalu lintas satu arah di kawasan kampus Kelurahan Tegalboro, Kecamatan Sumbersari. Saat ini Pemerintah Kabupaten Jember sedang melakukan uji coba sistem satu arah di kawasan kampus hingga 31 Oktober 2023.
“Hendaknya kebijakan sistem satu arah telah melalui kajian komprehensif dan penerapannya tidak boleh setengah-setengah. Kami mendukung selama untuk kemaslahatan masyarakat, bisa mengurai kemacetan, dan meminimalsir kecelakaan,” kata Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi.
Penerapan sistem satu arah adalah langkah pertama untuk mewujudkan rencana pembangunan kawasan edukasi yang meliputi empat ruas jalan. Empat ruas jalan itu adalah Jalan Kalimantan, Jalan Mastrip, Jalan Riau, dan Jalan Jawa yang melewati kampus Universitas Jember, Politeknik Jember, Universitas PGRI Argopuro, SMA Negeri 2, dan SMP Negeri 3.
Pemkab Jember melakukan uji coba pada 10 – 31 Oktober 2023. Arus lalu lintas di empat ruas jalan itu berlaku satu arah pada jam 06.00 – 08.00 dan 16.00 – 18.00 WIB.
Itqon mengatakan, Masalah kemacetan tidak terselesaikan, karena volume jalan tetap atau bahkan berkurang, sementara jumlah kendaraan semakin bertambah. “Itulah kenapa kita butuh kepemimpinan nasiuonal yang berpihak pada transportasi publik. Jumlah manusia semakin banyak,” katanya.
Itqon berpesan agar kebijakan sistem satu arah terus dipantau. “Tentunya semua kebijakan publik memang harus ada keberanian untuk menerapkannya. Sembari ini berjalan, kita evaluasi terus plus dan minusnya seperti apa,” katanya.
DPRD Jember berharap Bupati Hendy Siswanto bisa bertemu dengan Rektor Universitas Jember Iwan Taruna untuk membicarakan penataan lalu lintas dan pedagang kaki lima di sekitar kampus. “Kapan agendakan kita duduk dengan rektor Unej, bicara dari hati ke hati,” kata Itqon.
Itqon meminta Bupati Hendy percaya diri dengan program yang dicanangkan. Pengguna kendaraan terbesar di area kampus adalah mahasiswa dan civitas akademika Unej. Jika kecelakaan terjadi, menurutnya, korban terbanyak adalah mahasiswa dan civitas akademika.
Itqon lantas mencontohkan penataan di bundara Universitas Gajah Mada yang dilihatnya saat kulah di Jogjakarta.. “Padahal waktu itu di UGM ada 19 fakultas. Kalau dari volume, bukan tandingan Unej. Kok bisa? Ternyata di sana PKL diajak ngobrol dengan stakeholder. Sampeyan kalau mau jualan dari jam segini sampai jam segini, dan itu bisa diterima. Di Jember PKL masih sulit menerima kalau dibatasi waktu,” katanya.
Bupati Hendy Siswanto menyambut baik masukan Itqon. “Wilayah kampus adalah mercusuar kita. Saya butuh masukan untuk dibangun bareng-bareng. Populasi pertumbuhan orang di kampus sangat banyak. Harus ada kebijakan kita yang didukung semua. Plus minus pasti ada. Tapi kita saling melengkapi,” katanya.
Dosen Universitas Jember Nurul Hidayat mengatakan, tidak mudah mengurai kemacetan, karena sudah terlanjur dipengaruhi banyak aspek. “Tapi bukan berarti mustahil. Yang penting memahami dimensi kemacetan. Macet itu tak hanya di jalan. Sebelum macet di jalan, ada kemacetan di pikiran. Persoalannya, sebelum macet di jalan, terjadi macet di pengambilan keputusan. lLalu lintas birokrasi tidak diurai. Para aktor di Jalan Jawa, yakni PKL, mahasiswa, dosen, tidak ada sambung rasa,” katanya. [wir]






