Ngawi (beritajatim.com) – Masa tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Lawu di wilayah Ngawi ditambah dua minggu. Pemkab Ngawi bakal fokus pada antisipasi dampak karhutla. Seperti, bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi imbas hutan yang rusak terbakar.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan, hasil rapat lintas daerah serta bersama pihak BNPB di Karanganyar, Jumat (13/10/2023) membuat pihaknya memutuskan untuk menambah masa tanggap darurat karhutla yang awalnya mulai 30 September 2023 hingga 13 Oktober 2023, kini ditambah sampai 28 Oktober 2023.
“Mengingat sebentar lagi ada ancaman bencana hidrometeorologi. Menurut BNPB, setelah karhutla banhak ranting dan batang pohon tumbang. Jika tidak diantisipasi, bisa menutup aliran sungai sehingga terhadi bendung alami. Jika sampai jebol, maka akan terjadi banjir bandang,” kata Ony, Minggu (15/10/2023).
Baca Juga: Prabowo-Budiman, Capres Stratejik dan Cawapres Futuristik
Dia mencontohkan Kota Batu di Jawa Timur yang mengalami banjir bandang pada 2021 lalu. Hal itu merupakan konsekuensi dari karhutla yang terjadi pada 2019 di pengunungn wilayah setempat.
“Dengan pengalaman itu, pihak BNPB mengaharap masa tanggap darudat karhutla di Bgawi diperpanjang. Karena, ada hal yang harus diperbaiki dan anitisipasi jika masuk musim pebghujan. Perkiraan BMKG, Ngawi masuk musim penghujan di sepuluh hari ketiga atau dasarian ketiga November 2023,” lanjut almunus Fakultas Teknik Sipil dan Perencanan, Universitas Islam Indonesia (UII) itu.
Baca Juga: Tinggal Asap, Tanggap Darurat Karhutla Magetan Berpotensi Diperpendek
Selama perpanjangan masa tanggap darurat ini, pihaknya bakal memobilisasi relawan dan warga untuk melakukan antisipasi. Baik antisipasi dampak karhutla, serta mencegah munculnya titik api baru. “Jika dirasa sudah siap dengan segala bentuk antisipasi, maka akan dicabut,” pungkas mantan Wakil Bupati Ngawi itu. [fiq/ian]






