Surabaya (beritajatim.com) – Musim kemarau dan cuaca panas menyengat menyelimuti berbagai daerah di Indonesia, tidak luput juga terjadi di Kota Surabaya.
Cuaca panas menyengat ini berada pada 34 derajat celcius, Minggu (15/10/2023) siang, merupakan imbas dari musim kemarau yang masih berjalan di Indonesia. Lalu kapan musim kemarau yang terjadi ini berakhir?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) telah meramalkan akhir musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia menjelang Oktober akhir, membuka jalan bagi datangnya musim hujan secara perlahan, yang dimulai pada awal November 2023.
Baca Juga: Pembelajaran Rangkap di Probolinggo Dituangkan dalam Film ‘Niti Kaweruh’
Namun, karena keragaman iklim yang mencolok, awal musim hujan tidak akan terjadi serentak di seluruh Indonesia. Diproyeksikan bahwa puncak musim hujan akan muncul pada bulan Januari dan Februari tahun 2024.
“Sesuai dengan prediksi BMKG, puncak dampak El Nino terjadi pada bulan September. Namun, setelah memeriksa data satelit terbaru, tampaknya intensitas El Nino belum berkurang pada Oktober ini,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Selala (3/10/2023) lalu.
Bahkan pihaknya memprediksi bahwa El Nino yang menyebabkan panas di hampir seluruh daerah di Jawa Timur ini masih bertahan sampai tahun depan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jawa Timur, 15 Oktober 2023: Beberapa Wilayah Mulai Hujan
“Fenomena El Nino ini diperkirakan akan bertahan hingga tahun depan,” ungkapnya.
Dwikorita mengatakan bahwa tingkat El Nino yang moderat akan bertahan, dan akhirnya berakhir pada Februari-Maret 2024.
Kedatangan musim hujan, jelasnya, erat kaitannya dengan peralihan Monsun Australia ke Monsun Asia. Saat ini, menurut Dwikorita, Monsun Asia telah mulai memasuki wilayah Indonesia, sehingga diprediksi bahwa hujan akan mulai turun pada November.
“Artinya, pengaruh El Nino akan perlahan berkurang dengan datangnya musim hujan. Oleh karena itu, diharapkan musim kemarau yang berkepanjangan ini akan segera berakhir. Ada wilayah di mana musim hujan dimulai sebelum November, dan wilayah lain yang tertunda. Namun, sebagian besar wilayah akan mengalaminya pada bulan November,” tambahnya.
Baca Juga: Ribuan Peserta Antusias Ikuti Mlaku Bareng Amin di Sidoarjo
Dalam kesempatan ini, Dwikorita dengan tegas memperingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan, mengingat musim kemarau masih belum berakhir.
“Sepanjang bulan Oktober, kondisinya masih kering, dan ini berarti kebakaran masih bisa terjadi tanpa niatan sengaja. Oleh karena itu, kita harus menjauhi segala tindakan, baik yang disengaja maupun tidak, yang dapat memicu api, karena memadamkannya akan menjadi pekerjaan yang sulit,” pungkasnya. (ian)





