Surabaya (beritajatim.com) – Dating Violence atau kekerasan dalam berpacaran belakangan ini menjadi perbincangan publik. Karena itu, masyarakat perlu memahami dampak dan faktor dating violence tersebut.
Psikolog Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Soerjantini Rahaju mengatakan, tanda awal seseorang melakukan dating violence lebih bersifat subjektif. Biasanya, bisa dilihat dari caranya mengelola emosi.
“Kalau dalam relasi seseorang sudah berlaku kasar, maka pasangannya harus berpikir bahwa itu merupakan bibit dari kekerasan. Hal-hal ini perlu diwaspadai,” ujar Soerjantini, Jumat (13/10/2023).
Perlakuan yang bisa diperhatikan yakni seperti pasangan sudah bertindak semena-mena. Jika marah sering lepas kendali, tidak menghargai, sering mengekang, dan menjadikan pasangan samsak peluapan emosi.
“Faktor seseorang betah menjalani dating violence karena ada pengalaman kekerasan di masa lalu. Kebanyakan, pelaku sering terpapar adegan kekerasan di rumah dan menganggap kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah. Ditambah lagi, pelaku juga menghayati adanya ketidasetaraan gender,” jelasnya.
Sedangkan, kata Dosen Psikologi Klinis tersebut, alasan korban tetap mempertahankan hubungan adalah karena adanya kebutuhan yang berlebihan terhadap kasih sayang.
“Di masa lalu, korban bisa jadi mengalami kekerasan emosional berupa pengabaian dan tidak diperhatikan. Sehingga, dia butuh sosok yang bisa memenuhi itu, yaitu pasangannya,” ujar Soerjantini.
Tindak kekerasan dalam dating violence mengikuti siklus yang berputar dan berkelanjutan. Kata Soerjantini, setelah pelaku melakukan kekerasan, biasanya akan memperlakukan pasangannya dengan sangat baik.
“Hal ini disebut fase honeymoon. Tindakan ini membuat korban memiliki optimisme bahwa sang pasangan masih bisa berubah. Inilah yang membuat mengapa banyak pasangan tidak melaporkan adanya kekerasan, sehingga fenomenanya seperti gunung es,” bebernya.
Namun, pasangan yang menjalani dating violence dalam waktu lama akan berdampak pada kondisi psikologis. Seseorang akan kehilangan self esteem atau penilaian terhadap diri sendiri.
“Kemudian tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial, merasa rendah diri dan cenderung menyendiri bersama pasangannya. Bahkan pada tahap ekstrem bisa depresi dan bunuh diri,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Survei SMRC, NU Jatim Lebih Pilih Ganjar Dibanding Anies dan Prabowo
Selain itu, seseorang yang mengalami kekerasan fisik saat berpacaran dapat menimbulkan luka fisik bahkan cacat. Untuk itu, Soerjantini mengimbau masyarakat dapat memberikan psikoedukasi jika melihat ada kerabat yang mengalami dating violence.
“Bagi yang sedang mengalami, solusi yang dapat dilakukan adalah mengakhiri hubungan tersebut selagi belum lanjut ke pernikahan. Dalam proses tersebut, dapat memperluas diri untuk mempunyai support system yang dapat membantu,” tuturnya. [ipl/but]






