Yogyakarta (beritajatim.com) – Jutaan warga berkumpul di sekitar Tugu Pal Putih Yogyakarta, Pasar Kranggan, dan Malioboro, untuk menyaksikan perhelatan akbar karnaval Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #8. Kegiatan ini sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Yogyakarta.
Suasana yang ramai dan penuh sesak pada Sabtu petang (7/10/2023) tidak mengurangi semangat ratusan seniman yang berbaur dengan jutaan penonton yang berdesakan untuk mendapatkan posisi terdepan. Posisi terbaik agar bisa melihat pertunjukan dengan lebih leluasa.
Beruntungnya, cuaca malam itu cerah dan tidak ada hujan di kawasan Tugu Yogyakarta. Tugu Pal Putih yang biasanya dipadati oleh lalu lintas malam itu berubah menjadi panggung raksasa yang terbuka, menambah kemewahan suasana.
WJNC #8 diisi dengan pawai tokoh-tokoh dalam pewayangan, melibatkan total 800 seniman dan penampil dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta.
Beberapa tokoh dalam pewayangan yang ditampilkan meliputi Bathara Guru dan Para Bidadari, Ratu Sumengkoro dan Prajurit Raksasa Putri, Resi Garuda Pancaretno dan Cantrik, Kresna dan Para Pandawa, Garuda Malihan, Punokawan, Klanthang Kenya dan Para Raksasa Putri, Srikandi dan Bathari Uma, Duryudono dan Surowati, Suling Wasiat, Kurawa, Larasati, Istri Pandawa, dan Para Dewa.
Pawai dimulai dari dua titik start, yaitu Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Pangeran Diponegoro, lalu peserta pawai menampilkan aksi spektakuler mereka di Tugu Pal Putih dan Jalan Margo Utomo.
Tidak hanya warga Jogja yang menyaksikan acara ini, banyak wisatawan yang datang dari berbagai negara, termasuk Amerika, Belanda, Malaysia, Singapura, Korea, dan lainnya, yang rela bepergian jauh untuk melihat perhelatan besar ini. Mereka sibuk memotret acara ini dengan kamera masing-masing.
Acara dimulai dengan panggung musik hiburan sekitar pukul 18.30 WIB, dan sekitar pukul 19.45 WIB, kalender acara tahunan ini dibuka oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam sambutannya, Sultan mengatakan bahwa tema Pandawa Mahabisekha memiliki makna yang luar biasa.
BACA JUGA:
Ini Suasana Fashion Show Ala Bakul dan Buruh Gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta
Cerita Pandawa Mahabisekha menceritakan peran Ratu Kerajaan Parangwiduri, Ratu Sukmengkoro. Singkatnya, sang Ratu memerintahkan patih Surawati untuk meminta restu kepada Sang Hyang Bathara Guru untuk menguasai para raja di seluruh dunia. Namun, Bathara Guru tidak memberikan restu, sehingga terjadi peperangan antara dewa-dewa dengan Surawati dan pasukannya.
“Tema ini mencerminkan simfoni yang penuh makna seiring dengan semangat bijak kepemimpinan sekaligus ungkapan rasa syukur yang tulus kepada Sang Pencipta,” kata Gubernur DIY, Sultan HB X dalam sambutannya.
“Tema ini seolah menjadi undangan universal yang berisi pesan bagi seluruh warga Kota Yogyakarta untuk selalu merajut kekuatan dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan dinamika kepariwisataan,” lanjutnya.
Sultan juga menyatakan bahwa WJNC telah menjadi wadah kreativitas yang baik untuk memperkenalkan seni dan budaya Yogyakarta kepada masyarakat. Dalam penyelenggaraannya, WJNC selalu menggabungkan empat unsur, yaitu wayang, Tugu Jogja, pawai, dan nuansa malam hari. Hal ini akan memberikan kesan yang unik terhadap seni dan budaya Yogyakarta.
BACA JUGA:
LPS Ajak Kreator Muda Yogyakarta Berkarya di Era Digital dengan Modal Minim
Pejabat Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo, menyatakan bahwa penyelenggaraan acara ini adalah upaya untuk melestarikan kekayaan budaya dan nilai filosofi, khususnya Tugu Pal Putih yang telah ada selama berabad-abad.
“Kami berharap acara ini dapat memberikan dampak ekonomi yang positif bagi Kota Yogyakarta sambil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang budaya sebagai identitas bangsa,” katanya. [aje/but]






