Surabaya (beritajatim.com) – Radang amandel dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Pada umumnya, gejala radang amandel ini berupa sakit tenggorokan, demam, nyeri saat menelan, bengkak dan kemerahan pada amandel. Lantas, perlukah tindakan operasi untuk menangani radang amandel?
Dr. Budi Sutikno, Sp. THT-KL (K), FICS menjelaskan bahwa tonsila palatina atau amandel merupakan limfoid yang terdapat di dalam rongga mulut.
Fungsi amandel adalah sebagai pertahanan tubuh. Dua kelenjar kecil di tenggorokan ini berfungsi untuk mencegah infeksi.
Dosen FK Unair di RSUD dr. Soetomo ini menyebutkan bahwa radang amandel dapat dibedakan menjadi dua yaitu akut dan kronis. Untuk radang amandel akut, kata Budi, bisa sembuh melalui pengobatan dari dokter.
“Radang akut ini bisa sembuh dengan baik, bisa pengobatan simptomatik dengan minum obat, minum air. Sesuai pertimbangan klinis, ini perlu antibiotik,” ungkap Budi saat dihubungi tim beritajatim.com, Jumat (6/10/2023).
BACA JUGA: 8 Cara Atasi Radang Tenggorokan Tanpa Obat, Salah Satunya Minum Lemon Madu
Namun, berbeda halnya jika terjadi peradangan kronis pada amandel. Menurutnya, peradangan ini disebut kronis jika disertai pembesaran amandel dan mengganggu jalan nafas.
“Jika membuat anak kesulitan bernafas, maka ini ada indikasi melakukan pengangkatan amandel dengan bius total,” ungkap Budi.
Selain itu, jika terdapat infeksi berulang, maka pasien tersebut juga dapat melalui tindakan operasi. Berdasarkan kriteria “Paradise”, infeksi tenggorokan berulang terjadi jika ada serangan amandel tujuh kali selama setahun, lima kali selama setahun dalam dua tahun berturut-turut, atau tiga kali episode per tahun selama 3 tahun berturut-turut.
Risiko Operasi Amandel
Budi menjelaskan, risiko tindakan pengangkatan amandel ini lebih cenderung ke rasa nyeri pasca operasi. Namun, dalam hitungan beberapa minggu, rasa nyeri tersebut dapat hilang.
“Umumnya rasa nyeri selama seminggu, tapi nyerinya masih signifikan, pada minggu ketiga pasien sudah membaik,” tutur Budi.
Selain rasa nyeri, lanjut Budi, risiko dari tindakan ini yaitu komplikasi perdarahan.
“Ini bisa kita hentikan dengan dijahit. Bila merembes ringan bisa ditampon,” pungkas Budi. (nap)






