Surabaya (beritajatim.com) – STAI Taruna Surabaya melangsungkan prosesi wisuda ke-31. Kampus yang didirikan oleh empat sahabat, yakni KH Masykur Hasyim, KH Ischak Iskandar, KH A. Mu’thy Nurhadi, dan KH M. Ichsan Yusuf pada 1984 silam, kini melangsungkan prosesi wisuda di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
Menarik, bahwa dalam kesempatan itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan pesan melalui utusannya, yaitu Dr Suhartono MPd, Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan Jawa Timur
“Insya Allah saudara-saudara sekalian tidak salah telah memilih, mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan agama di kampus STAI Taruna selama ini. Bersama seluruh civitas akademika, saudara-saudara telah mendapat kehormatan untuk berproses menjadi seorang intelektual yang berilmu sekaligus berakhlak mulia. Di sisi Allah, Insya Allah memiliki derajat yang tinggi dan sudah selayaknya mampu menunjukkan peran-peran intelektual di masyarakat,” katanya.
Khofifah yang juga tokoh perempuan internasional yang juga lulusan STAI Taruna (dulu masih bernama STID Taruna) angkatan pertama tersebut, juga menyampaikan apresiasi kepada STAI Taruna Surabaya sebagai bagian penguatan sumber daya manusia yang berkualitas di Jawa Timur. Selain itu, Khofifah pun memberikan pesan penting untuk meneladani para tokoh penggerak pendidikan, di antaranya Edward Said dan Antonio Gramsci.
BACA JUGA:
Lepas Kirab Pataka Jer Basuki Mawa Beya Keliling Jatim, Ini Harapan Khofifah
“Kedua tokoh ini memiliki latar tradisi pemikiran yang berbeda serta medan perjuangan yang berbeda. Namun, keduanya memiliki pola kesamaan dalam memandang posisi seorang intelektual dalam kehidupan sosial, yaitu bahwa kaum intelektual memiliki peran penting dan tanggung jawab yang tinggi terhadap kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat dari spektrum perjalanan sejarah sebuah bangsa, dimana para kaum intelektual memainkan peran strategis dalam kemajuan bangsa,” imbuhnya.
Gubernur yang tak henti-henti mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional tersebut, kemudian menjelaskan detail pemikiran Edward Said dan Antonio Gramsci.
“Contoh dalam pandangan kritis Edward Said, seorang intelektual tidaklah berada di atas menara gading, tetapi sebaliknya, mereka terlibat langsung dalam memberikan solusi alternatif terhadap persoalan kemasyarakatan. Dalam konteks kenegaraan, pekerjaan mereka adalah mempertahankan negara dengan kewaspadaan dan tidak membiarkan negaranya berada dalam kesengsaraan. Mereka tidak boleh memilih diam untuk ketenangan pribadinya, melainkan harus tetap berpihak dan memberikan sumbangsih pemikiran kritikal dan kemampuan teknikalnya,” tegasnya.
“Sedangkan, dalam pandangan Antonio Gramsci, kaum intelektual tegak berdiri dalam dua wilayah, yakni teori (intelektual tradisional) dan menghubungkannya dengan realitas sosial (intelektual organik). Dengan demikian, intelektual adalah yang dengan sadar mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada. Ia bergabung dengan kelompok-kelompok revolusioner untuk mendukung transformasi yang direncanakan dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan berkeadilan,” tambahnya.
Khofifah juga berpesan agar para wisudawan mampu berperan mengatasi berbagai persoalan kekinian, masalah ekonomi, spsial-budaya, politik, lingkungan dan perkembagan teknologi digital yang kian masif.
“Para intelektual jangan berdiam diri, tapi segeralah turun langsung berperan aktif dalam memberikan kontribusi nyata untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut,” pungkasnya.
BACA JUGA:
Khofifah: Jatim Batuk, Dropletnya Sampai Ibu Kota
Dalam kesempatan itu, hadir Dr. H. Sumarkhan yang mewakili Kopertais IV, Ketua STAI Taruna Surabaya Dr. H. Zuman Malaka, MH,M.PdI. MKn., Ketua Yayasan UNITA Dr. Lia Istifhama, MEI., jajaran Wakil Ketua, Dr. H. Nasiri, M.HI., MH., Dra. Lailatu zahro, M.Pd.I., Dr. H. Fathurrohman, M.Ag, para civitas akademika, dan tentunya, para wisudawan.
Menyambung pesan gubernur, Ning Lia Istifhama menjelaskan, pentingnya membangun strategi dalam berperan di tengah masyarakat.
“Para wisudawan, seperti halnya pesan gubernur, maka kalian harus siap membangun peran. Bersiaplah menjadi syubbanul yaum rijalul ghod, bahwa kalian pemuda saat ini dan kalianlah pemimpin kelak. Maka bangun strategi melalui cara CANTIK, yaitu cerdas, inovatif, dan kreatif. Cerdas membaca realitas, berinovasi sebagai added value diri tanpa terjebak sikap diri inferior maupun superior, dan tetaplah memiliki karya kreatif sekalipun tampak sederhana di mata orang lain,” pungkasnya. [tok/beq]







