Sebuah pertandingan sepak bola di Indonesia, tak hanya ditentukan oleh skor akhir, tapi juga sebuah bus yang datang ke stadion setengah jam jelang sepak mula. Setidaknya di Surabaya. Saat bus yang membawa rombongan ofisial dan pemain Arema FC tiba di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, tanpa ada kaca yang pecah, kemenangan awal sudah dituai Persebaya yang menjadi tuan rumah.
Selain Persija Jakarta menghadapi Persib Bandung, Persebaya melawan Arema di Gelora Bung Tomo, Sabtu (23/9/2023) sore itu, adalah pertandingan yang termasuk kategori berisiko tinggi. Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 yang memakan korban 135 jiwa membayang-bayangi pertandingan tersebut. Sejarah ketegangan antara Bonek dan Aremania ditambah memori perlakuan yang dialami tim Persebaya setahun silam menghadirkan drama sebelum Hari-H.
Sepekan jelang pertandingan, Pemerintah Kota Surabaya menerima surat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tetanggal 15 September 2023 yang melarang penggunaan Gelora Bung Tomo untuk pertandingan sepak bola lokal hingga pertandingan Piala Dunia U17 kelar. GBT memang satu di antara empat stadion tuan rumah perhelatan sepak bola dunia itu. Kementerian PUPR beralasan stadion tersebut hendak direnovasi.
Kecurigaan mengapung. Pemerintah khawatir terjadi kerusuhan serupa Kanjuruhan di Surabaya. Wali Kota Eri Cahyadi sendiri menyebut alasan keamanan ini. “Sopo sing wani, ketika ada kerusuhan sedikit maka batal ini (Piala Dunia). Seperti yang disampaikan Ketua Umum, Liga 1 jangan ada kerusuhan, karena FIFA akan mencabut itu,” katanya.
Pemerintah Kota Surabaya sendiri selalu membuka pintu GBT untuk Persebaya. “Wong iki kandange Persebaya. Tapi kalau ada kepentingan bangsa yang lebih besar, kita harus bisa mengutamakan kepentingan negara ini. Untuk kepentingan negara, kita harus bisa mengutamakan negara,” katanya, Senin (18/9/2023).
Surat tersebut menuai perlawanan dari Bonek. Komunitas dari empat tribun GBT berkumpul dan merencanakan aksi unjuk rasa besar-besaran. Mereka menganggap larangan itu tidak adil, terutama karena Persis Solo masih bisa menggunakan Stadion Manahan yang juga menjadi arena Piala Dunia U17.
Kekhawatiran terhadap meletusnya kerusuhan juga dinilai berlebihan, karena Bonek dalam sejumlah pertandingan tidak menunjukkan agresivitas kendati Persebaya kalah. Terakhir, dalam pertandingan uji coba melawan Persija Jakarta, ratusan Jakmania bisa diterima dengan baik di Gelora Bung Tomo, sekaligus mengakhiri rivalitas puluhan tahun.
Rencana aksi unjuk rasa ini konon membuat Eri Cahyadi harus ikut turun tangan mengontak PSSI dan Kementerian PUPR. Intinya adalah bagaimana pertandingan di pekan ke-13 Liga 1 itu bisa tetap terselenggara di GBT. Pemerintah Kota Surabaya percaya penuh dengan kemampuan aparat kepolisian untuk mengamankan pertandingan.
Empat hari jelang pertandingan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memberikan lampu hijau. “Oh bisa, Pak Erick (Thohir)sudah telepon saya. Kan tadinya mau direnovasi dulu, [renovasi] diundur dulu. Persebaya kan main Sabtu ini kan, boleh main dulu,” katanya, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (19/9/2023).
Bonek pun membatalkan aksi. Namun drama belum selesai. PSSI dan kepolisian membatasi jumlah penonton hanya 25 ribu orang dari kapasitas 46.806 penonton. Manajemen Persebaya pun menaikkan banderol tiket dua kali lipat, dari Rp 100 ribu menjadi Rp 200 ribu untuk kategori fans, Rp 300 ribu untuk super fans tribun atas lantai lima, dan Rp 350 ribu untuk super fans tribun bawah.
Media sosial riuh dengan tudingan bahwa Persebaya sedang aji mumpung. Seorang teman bertanya soal sikap saya terhadap kenaikan harga tiket yang menyulitkan Bonek sebagai pemangku kepentingan utama Persebaya dan yang memperjuangkan klub agar bisa bermain di GBT.
Pandangan aji mumpung memang mudah dilesatkan. Namun alasan manajemen Persebaya cukup masuk akal. Ini pertandingan dengan biaya operasional pengamanan tertinggi sepanjang sejarah laga kandang Persebaya. Sebanyak 4.925 personel gabungan TNI, Polri, dan Pemkot Surabaya dikerahkan.
Sementara dalam pertandingan-pertandingan kandang sebelumnya, tiket tak pernah terjual habis. Pertandingan melawan Barito Putera disaksikan 12.182 penonton, melawan Rans FC disaksikan 9.060 penonton, melawan Persikabo 1973 dihadiri 1.601 penonton, melawan Persita disaksikan 3.012 penonton, big match melawan PSM hanya dihadiri 5.078 penonton, pertandingan melawan Borneo FC disaksikan 12.021 penonton.
Rata-rata pertandingan Persebaya di GBT hanya disaksikan 7.159 orang. Hanya 15,29 persen dari kapasitas stadion GBT. Maka, ini saatnya manajemen Persebaya meraup pemasukan sebesar-besarnya untuk membiayai operasional klub.
Harapan itu tak bertepuk sebelah tangan. Tiket pertandingan Persebaya melawan Arema ludes terjual. Transfermarkt mencatat jumlah penonton mencapai 27 ribu orang, tertinggi sepanjang pertandingan kandang Persebaya di Liga 1 Musim 2023-24.
Antusiasme terlihat, kendati tensi dan ketegangannya jauh berkurang. Sebuah akun media sosial menayangkan cuplikan video tiga orang bocah berpakaian hijau tengah mengayuh sepeda menuju GBT dengan tiket melingkari pergelangan tangan.
Sementara itu tak ada lagi psywar panas di media sosial. Bonek tak begitu antusias melancarkan psywar. Sementara itu akun resmi x.com (Twitter) milik Arema FC justru diserbu komentar bernada kecaman dari sejumlah akun beridentitas arek Malang sendiri.
Tragedi Kanjuruhan mengubah banyak hal. Termasuk perspektif mengenai rivalitas dan permusuhan. Bonek tidak lagi menganggap Arema rival sepadan Persebaya dalam banyak hal. Masih adanya segelintir Aremania yang menyanyikan lagu maupun chant bernada kebencian terhadap Bonek pada saat perayaan HUT Atema medio Agustus lalu juga tidak dianggap terlampau serius.
Singkat kata: ini hanya pertandingan derbi biasa. Hanya pertandingan pekan ke-13 yang wajib dimenangi untuk menembus papan atas klasemen sementara. Bukan pertandingan besar. Ada semacam kesadaran untuk mengembalikan rivalitas Persebaya dengan klub-klub eks Perserikatan seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makassar, maupun PSIS Semarang.
Meredanya tensi ini terlihat saat sebuah bus berwarna hijau yang mengangkut ofisial dan pemain Arema memasuki pelataran Stadion GBT tanpa ada gangguan. Tak ada lemparan batu. Tak ada ancaman. Semua berjalan normal. Bonek telah berhasil menyelesaikan amarah dan dendam tanpa menggunakan kekerasan, dengan mengalihkan energi itu menjadi teriakan lantang dan nyanyian di balik pagar tribun sepanjang 90 menit.
Ini kemenangan pertama Persebaya dan Bonek hari itu: sebuah kemenangan moral. Keberanian panitia pelaksana dan kepolisian untuk menggunakan bus sebagai alat transportasi pemain dan ofisial Arema alih-alih kendaraan taktis membawa pesan jelas: sepak bola bukan perang.
Selama ini pemain dan ofisial Persebaya maupun Arema selalu diangkut menggunakan kendaraan taktis kepolisian pada Hari-H saat saling tandang. Penggunaan kendaraan taktis dalam perjalanan menuju dan pulang dari stadion ini untuk melindungi pemain dan ofisial dari serangan suporter tim lawan. Berakhirnya karir pemain Persebaya, Nurkiman, akibat pecahan kaca bus mengenai matanya setelah pertandingan melawan Persema Malang di Stadion Gajayana, Malang, pada medio 1995, menandai era penggunaan kendaraan taktis. Belakangan kendaraan taktis ini juga menjadi pilihan panitia pelaksana pertandingan Persija melawan Persib.
Kembali digunakannya bus sebagai alat transportasi tim dalam pertandingan Sabtu sore itu melengkapi sejarah baik yang dibuat pada medio November 1997, saat Persebaya dan Bonek menerima kehadiran Aremania beratribut lengkap di Gelora 10 Nopember tanpa kerusuhan. Sebagaimana kisah pada 1997 yang diceritakan hingga saat ini dari generasi ke generasi pendukung Persebaya, kisah di Gelora Bung Tomo akan diceritakan dari generasi ke generasi pula.
Kemenangan moral semakin lengkap dengan kemenangan 3-1 anak-anak asuhan Josep Gombau. Gol pertama dicetak Bruno Moreira pada menit 27, setelah berhasil mengintersep bola operan Syaiful Anwar. Tendangan melengkung Bruno tak bisa dijangkau penjaga gawang Arema Julian Schwarzer.
Gol kedua dicatatkan Dusan Stevanovic pada menit 45+5. Ia berhasil mengarahkan bola operan dari Bruno Moreira menerobos gawang Arema.
Namun gol terbaik dan paling berkesan tentu saja dicetak Ze Valente pada menit 50. Bola hasil tendangan voli dengan kaki kirinya sempat bisa ditepis Schwarzer. Namun tepisan itu tak menghalangi bola masuk ke dalam gawang Arema. Ini pertama kalinya Ze mencetak gol ke gawang tim yang dilatih sang ayah, Fernando Valente. Usai pertandingan, ayah dan anak ini berpelukan dan bertukar kata-kata.
Kemenangan ini adalah kemenangan pertama Josep Gombau sebagai pelatih Persebaya. Mantan pelatih sejumlah klub di Hongkong dan Australia ini menekankan penguasaan bola dan pressing ketat dengan garis pertahanan tinggi.
Di bawah Aji Santoso dan Uston Nawawi sebelumnya, para pemain Persebaya sudah terbiasa bermain menyerang dengan penguasaan bola selama mungkin. Namun di bawah rezim Gombau, mereka harus bermain dengan intensitas tinggi. Tidak ada ruang bagi pemain lawan untuk menguasai bola berlama-lama.
Pemain Persebaya terlihat belum terbiasa. Beberapa kali terjadi kesalahan oper. Stamina mereka juga terlihat belum mencukupi untuk memainkan sepak bola beroktan tinggi. Pekerjaan rumah Gombau adalah mendongkrak stamina pemain Persebaya jika ingin filosofinya diterapkan sempurna di lapangan.
Selain Bruno Moreira, bek kanan Persebaya Arief Catur Prasetya patut mendapat pujian. Penampilannya dalam bertahan dan menyerang sama baiknya. Menit 35, ia menyapu bola tendangan Dedik Setiawan yang sudah 99 persen gol karena gagal ditahan Andhika Ramadhani. Ia juga beberapa kali melaju sendirian ke kotak penalti Arema. Dua kali bola tendangannya ditepis oleh Schwarzer pada menit 45+1 dan 86.
Bagus di lini serang, lini belakang Persebaya harus menjadi perhatian Gombau. Kegagalan Andhika menangkap operan bola datar dari Dendy Santoso membuat kemelut yang nyaris berbuah gol untuik Arema jiika Catur tidak melakukan penyelamatan krusial. Gol Arema yang dicetak Dedik Setiawan pada menit 65 menunjukkan titik lemah koordinasi pertahanan Persebaya.
Peluit akhir berbunyi. Kemenangan dirayakan tak berlebihan. Dan bus warna hijau yang mengangkut pemain Arema pergi meninggalkan pelataran Gelora Bung Tomo tanpa rasa cemas. Petang itu sepak bola menjadi pemenangnya. [wir]






