Mojokerto (beritajatim.com) – Kontingen cabang olahraga (cabor) Dancesport Kabupaten Mojokerto, Ashila Cadfael Vyhandini dan Azalia Cleva Vhyandini berhasil medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur (Porprov Jatim) VIII pekan lalu. Keduanya mempunyai hubungan adik-kakak.
Siapa sangka jika ternyata kedua kakak-beradik ini merupakan putri dari Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar), Kabupaten Mojokerto, Norman Handito. Meski mengetahui kedua putrinya suka dance, tapi Norman mengaku tidak tahu awalnya mengikuti seleksi Porprov Jatim.
Dari kedua putrinya inilah akhirnya Kabupaten Mojokerto memiliki wadah bagi atlet dancesport yakni Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI). IODI Kabupaten Mojokerto terbentuk pada bulan Maret 2023 lalu menjadi wadah atlet dancesport Kabupaten Mojokerto dan berpartisipasi pertama di ajang olahraga dua tahunan tersebut.
Dari lima atlet dari cabor dancesport yang dikirim ke Porprov Jatim VIII, tiga diantaranya berhasil menyumbangkan medali bagi Kabupaten Mojokerto. Ashila Cadfael Vyhandini dan Azalia Cleva Vhyandini berhasil meraihbmedali perunggu serta Muhammad Kurniawan Yulianto meraih medali perak.
“Jadi awal itu, di akhir tahun 2022. Anak saya mengikuti seleksi Dancesport di SMAN 2 Kota Mojokerto. Saya mengantar waktu itu, iya dua-duanya. Siangnya saya jemput dan mengatakan, ‘yah aku lolos’. Saya tidak menyadari waktu itu kalau seleksinya Porprov-nya kota (Kota Mojokerto),” ungkapnya, Selasa (19/9/2023).
Ini lantaran kedua masih bersekolah di SMPN 2 Kota Mojokerto. Sejak diterima seleksi, masih kata Norman, keduanya sering latihan dan sang ayah memberikan fasilitas dengan menyewa sanggar dan lain sebagainya. Ia mengaku terkejut saat kedua putri mengatakan jika latihan tersebut untuk ikut Porprov Jatim menjadi kontingen Kota Mojokerto.
“Waktu seleksi keduanya sekolah di SMPN 2 Kota Mojokerto, sekarang kakaknya di SMAN 1 Puri (Kabupaten Mojokerto) dan memang di SMPN 2 itu ada pelatih dance. Iya hanya selisih satu tahun. Ternyata mereka bisa masuk seleksi Kota Mojokerto karena masih punya fotocopy saat rumah di Purwotengah (KK Kota Mojokerto),” katanya.
Baca Juga: Tiga Anggota Polres Mojokerto Raih Medali di Porprov Jatim VIII
Keduanya mendaftar seleksi altet Dancesport Kota Mojokerto menggunakan fotocopy Kartu Keluarga (KK) saat rumah masih di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Sementara saat ini, tempat tinggal mereka sudah pindah ke Perumahan Japan Raya, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
“Padahal saat seleksi itu, saya sudah pindah jadi warga Kabupaten Mojokerto. Saya mikir akhirnya, anak saya seneng dan kayaknya punya bakat karena mereka lolos seleksi. Dan memang dari kecil keduanya otodidak kemudian ikut kompetisi-kompetisi, dari sini saya berfikir,” ceritanya.
Bahkan keduanya saat mengikuti kompetisi pembuatan video klip Gerakan Masif Aktif Siswa Bergizi tahun 2022 keluar sebagai juara nasional. Norman pun akhirnya menginisiatif untuk memberikan wadah dengan mendirikan IODI Kabupaten Mojokerto pada bulan Maret 2023 lalu karena memang saat itu belum ada.
“Kemarin kita punya atlet satu dapat perak (Porprov Jatim VII). Tapi sempat menjadi masalah karena tidak ada induk cabang organisasi di Kabupaten Mojokerto. Kita tidak punya IODI, belum ada tapi kita kirim atlet di Porprov Jatim VII kemarin. Dapat perak,” tuturnya.
Setelah membentuk wadah dance di Kabupaten Mojokerto dengan berkoordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mojokerto, kedua putrinya bergabung. Karena ada kekhawatiran saat membela sebagai kontingen Kota Mojokerto tidak bisa masuk karena bukan warga Kota Mojokerto.
“Puasa baru terbentuk, anak saya, saya tarik dan latihan di Surabaya karena saya juga khawatir jika ketahuan bukan warga kota (Kota Mojokerto) tapi membela kota malah nggak bisa ikut. Tahu (suka dance), dari SD memang suka dance, biasanya di depan rumah dance menirukan artis k-pop. Masuk SMP mungkin banyak teman yang suka, di SMPN 2 ada pelatihnya,” paparnya.
Dalam perjalanan, ia menemukan lagi dua atlet warga Kabupaten Mojokerto yang menjadi atlet Kota Mojokerto. Namun setelah tahu Kabupaten Mojokerto memiliki IODI sehingga keduanya masuk sebagai atlet IODI Kabupaten Mojokerto. Sehingga masuknya dua atlet dancesport dua orang yakni, Nabila dan Angel.
“Nabila dan Angel keduanya adalah genre-nya line dance, kalau anak saya hip hop. Kurniawan yang dapat perak kemarin bride’s, jadi kemarin kita kirimkan 5 atlet dengan 3 kelas yang berbeda. Kelas bride’s oleh Kurniawan dapat perak, hip hop anak saya dapat perunggu serta Nabila dan Angel belum berhasil mendapatkan medali,” jelasnya.
Baca Juga: Hari Terakhir, KONI Kabupaten Mojokerto Target 2 Medali Emas di Porprov Jatim VIII
Meskipun kontingen Kabupaten Mojokerto belum berhasil meraih medali emas di Dancesport, namun Norman mengaku cukup puas. Ia mengaku bakat kedua putrinya di cabang dancesport buka turunan, karena ia merupakan mantan pemain sepakbola dan sang istri pernah juara menembak.
“Istri saya pernah Juara 1 Piala Pangdam tahun 2015. Saya mensyukuri anak saya seneng olahraga, bagaimana pun sekarang pola hidupnya juga berubah. Arahan ke dancesport itu bukan dari saya, bukan dari istri saya. Itu karena hobby mereka, nggak tahu dari teman mereka, lingkungan atau dari media sosial,” urainya.
Meski di cabor Dancesport target medali emas saat ajang Porprov Jatim VIII lalu belum tercapai, namun Norman melihat banyak potensi atlet Dancesport di Kabupaten Mojokerto. Ini setelah sebelumnya Muhammad Kurniawan Yulianto berhasil meraih medali perak di Porprov Jatim VII meski organisasi belum terbentuk.
“Ikut kita (Kabupaten Mojokerto), kita kirim waktu itu belum ada organisasi cabor tapi tidak membatalkan medali perak yang diperoleh. Itu tidak ingin kami ulang lagi, kami ingin di tahun ini atlet ada, cabor ada, organisasi ada sehingga kita bentuk puasa hari kedua kemarin dengan harapan mereka yang memiliki bakat di Dancesport bisa tersalurkan dan berprestasi,” pungkasnya. [tin/ted]






