Ngawi (beritajatim.com) – Musim kemarau jadi momok bagi warga Dusun Glagahselang, Desa Papungan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi. Sudah 30 tahun lamanya, mereka kesulitan air bersih setiap kali musim kemarau melanda.
Total, 90 kepala keluarga (KK) atau sekitar 300 jiwa yang belum maksimal mendapatkan bantuan air bersih. Salah satunya Sunarsih (50), warga setempat.
Ibu dua anak itu mengambil air ke sungai untuk keperluan mencuci baju dan mandi. Sementara untuk minum dan memasak, mereka sudah sempat mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Ngawi. Itupun baru sekali.
Berbekal jerigen dan ember berisi beberapa potong pakaian serta detergen, dia dan tetangganya, Kasni (65), berjalan kaki menuju sungai berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya. Bahkan, saat siang terik dengan suhu udara 35 derajat Celcius.
Mereka melewati jalan setapak di tengah-tengah perkebunan untuk menuju sungai. Tak hanya saat pagi, siang dan sore hari mereka menuju ke sungai untuk mandi, mencuci baju, hingga mengambil air untuk persediaan keperluan mandi cuci kakus di rumah.
Sampai di sungai, air yang mereka temui tak sepenuhnya jernih dan higienis. Kadang air bercampur lumpur. Bahkan, ada sampah juga meski tidak banyak.
“Ya mau bagaimana lagi. Bersih nggak bersih adanya ya itu. Harus naik turun sungai. Jalan sejauh kira-kira dua kilometer. Bisa balik tiga kali dalam sehari. Air kami bawa pulang untuk keperluan di rumah,” kata Sunarsih, Sabtu (16/9/2023)
Dia mengatakan, pada Selasa (12/9/2023) lalu, memang ada bantuan air bersih dari pemerintah. Namun, itu masih belum cukup. Air bersih itu digunakannya untuk keperluan minum dan memasak.
“Kalau mandi mencuci ya di sungai. Kalau gak sempat mandi ke sini ya ambil air saja. Kadang ya mencuci langsung ke sungai seperti ini,” kata Sunarsih.
Hal yang sama dialami Kasni, tetangga Sunarsih. Meski sudah berusia lanjut, Kasni harus naik turun sungai untuk mengambil air. Bahkan, dia kadang mandi dan mencuci di sungai.
BACA JUGA:
Ini 14 Desa di Ngawi yang Sudah Memohon Bantuan Air Bersih
“Ya meski airnya kotor, kami tetap ke sungai ini. Ya mau bagaimana lagi. Adanya ya sungai ini saja yang ada airnya. Kalau mau ambil air dicari yang agak jernih. Baru jerigen diisi,” kata Kasni.
Kondisi itu sudah sejak puluhan tahun lalu. Dari dulu mereka tak pernah mendapatkan air bersih yang mudah saat kemarau tiba. Belum ada bantuan sumur yang airnya sampai ke rumah mereka untuk bisa digunakan dengan mudah.
“Harapannya ya ada bantuan sumur. Supaya kami bisa dapat air teuap mudah saat musim kemarau. Jadi, supaya gak naik turun sungai,” katanya.
Usai mencuci dan mengambil air. Mereka pun naik untuk kembali ke rumah. Namun, lagi-lagi mereka kesulitan. Sangat lelah untuk mengangkut air dan baju cucian sampai ke rumah karena kontur jalan menanjak. Mereka pun sampai istirahat beberapa kali karena mudah kelelahan.
“Ya kalau sudah lelah tetap istirahat dulu di jalan. Lha gimana bawa air sambil bawa cucian. Dan jalan ke rumah kan menanjak. Dan seperti ini sudah bertahun-tahun,” katanya.
Sementara itu, dua tandon air untuk bantuan air bersih di dekat rumah Ketua RT setempat sudah empat hari ini kosong. Warga Dusun Glagahselang itu baru sekali mendapatkan dropping air bersih tepatnya pada Selasa (12/9/2023).
Lamiran, Ketua RT setempat mengaku jika warganya memang kesulitan air sejak sekitar 30 tahun. Sudah tiga kali Ngawi ganti Bupati, nyatanya tetap tak ada perhatian untuk dusun yang letaknya di perbatasan Ngawi dengan Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu.
“Warga kami kesusahan, nyari air ya di sungai. Ini tandon sudah kosong sejak empat hari yang lalu,” kata Lamiran.
BACA JUGA:
Sumur Mengering, 90 KK di Pitu Ngawi Sempat Andalkan Rembesan Sungai
Dia mengharapkan ada bantuan sumur dalam dari pemerintah. Baik pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.
“Harapannya ya ada sumur dalam atau apa begitu lah ya. Agar masyarakat kami tidak kesulitan air lagi. Karena sudah puluhan tahun kondisinya seperti ini,” kata Lamiran.
Warga Dusun Glagahselang mengharap jika bantuan air bisa dikirim lebih dari sekali dalam seminggu. Sementara untuk jangka panjang, mereka meminta agar bantuan sumur dalam agar mereka tak kesulitan air saat musim kemarau. [fiq/beq]










