Tuban (beritajatim.com) – Pertama kali di Kabupaten Tuban, petani di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu diperkenalkan dengan teknologi drone untuk penyemprotan nutrisi, pestisida dan tebar pupuk granule, di area persawahan desa setempat.
Tujuan menggunakan teknologi tersebut, yakni sulitnya mencari SDM atau tenaga manusia untuk pemupukan atau penyemprotan pestisida. Sehingga, adanya teknologi para petani bisa meminimalisir tenaga dan biaya pengeluaran.
Hal itu juga turut disampaikan oleh Direktur Utama Kampoeng Tani, Imam Ma’arif selaku pemilik dari Drone petani mengungkapkan, para petani bisa melakukan sewa untuk mendapatkan drone tersebut, sebab jika membeli harganya sangat mahal.
“Tentu ini sangat efektif, disamping irit biaya pengeluaran pada saat penyemprotan, petani juga bisa menghemat tenaga dan waktu,” ucap Imam Ma’arif.
Adapun, harga dari drone tersebut berkisar Rp 300 juta untuk yang reguler, sehingga pihaknya menyarankan untuk tidak membeli, bisa melakukan sewa yang harganya lebih terjangkau.
“Dari 1 hektar, harga promo sewanya bisa Rp 180 ribu, sedangkan harga normal Rp 200 ribu, jika dibandingkan dengan tenaga manusia, katakanlah 1 orang Rp 150 ribu biasanya 2 orang jadi petani mengeluarkan Rp 300 ribu untuk penyemprotan, itupun bisa berhari – hari,” kata dia.
Sedangkan, menyewa drone petani hanya merogoh kocek sekitar Rp 200 ribu yang pengerjaannya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.
“Petani juga hanya memantau, karena jalannya drone sudah ada sopirnya sendiri, jadi bukan petani yang melakukannya,” ungkap dia.
“Sebab fokus kita petani harus menemukan formula bagaimana mereka dapat budidaya yang murah, itu yang penting. Sehingga, PR saat ini mengefisiensikan biaya produksi,” imbuhnya.
Terkait kekhawatiran petani, pihaknya memastikan bahwa drone tersebut bukan drone yang dipakai mainan. Kata Imam, drone petani sudah berbasis riset, baik produsennya maupun aplikatornya. Bahkan operator lulusan jurusan pesawat tanpa awak.
“Operatornya juga memiliki lisensi untuk menerbangkan drone, sebab tidak boleh menerbangkan drone tanpa lisensi,” paparnya.
Untuk mekanisme sewa drone pertanian ini, Imam sampaikan dapat melalui nomor 081131133321 dan ada tim yang akan survei, sebab sewa ini minimal 6 hektare demi efisiensi anggaran.
“Alat yang kita siapkan ada 3 unit drone dan kita komersialkan ,” katanya.
Baca Juga: Khofifah Bakal Terapkan Teknologi Terbaru pada Transportasi Massal di Jatim
Sementara itu, Kades Sugihwaras Kecamatan Jenu, Munir Maliki menyambut baik sosialisasi teknologi drone pertanian tersebut. Ada sekitar 120 hektare area persawahan di Sugihwaras yang dikelola Gapoktan dan akan mencoba teknologi drone.
“Biasanya petani sering mengalami kerugian terkait biaya operasional petani, jadi kita sudah konsultasikan katanya dengan teknologi ini dapat menghemat hingga 50 persen biaya operasional petani,” tutur Munir.
Munir berharap, petani di desanya dapat memperoleh keuntungan setiap panen dan tidak mengalami kerugian atau tidak untung sama sekali, terkait biaya menggunakan cara manual Sumber Daya Manusia.
“Perbandingannya memakai sewa jasa orang dapat mencapai minimal Rp 400 ribu per hektare dengan durasi sekitar 5 jam. Dan jika dibandingkan memakai jasa sewa drone ini hanya Rp 187 ribu per hektare dengan durasi sekitar 15 menit,” ungkap dia.
Sehingga, Munir berharap teknologi ini bisa menjadi contoh untuk petani lainnya, tidak hanya di Desa Sugihwaras saja, akan tetapi para petani lainnya bisa mencontoh teknologi ini untuk memperoleh keuntungan dan menghemat biaya operasional.
“Ini pertama kali di Tuban, dan Desa yang dibuat percontohan yakni di Desa Sugihwaras,” pungkasnya. [ayu/ted]







