Yogyakarta (beritajatim.com) – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM Bidang Teknik Irigasi, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif., M.Eng, Selasa (5/9/2023) menuturkan dunia pertanian dan produsen pangan menghadapi tantangan yang cukup berat kaitannya dengan ketahanan pangan, termasuk Indonesia.
Dari sekian banyak faktor ada dua faktor besar yang mempengaruhi ancaman ketahanan pangan, yakni isu dan situasi Geopolitik serta perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia. “Ada tiga tantangan besar terkait ancaman ketahanan pangan yakni populasi dunia yang terus meningkat, situasi global geopolitik serta perubahan iklim,” ujarnya.
Terkait populasi dunia saat ini, imbuh Prof Sigit populasi dunia sudah mencapai lebih dari 8 miliar, dan PBB memprediksi 2040 mencapai 10 miliar. “Artinya, kebutuhan pangan semakin meningkat,” bebernya.
Berikutnya adalah faktor situasi global, terutama geopolitik yang memanas. Kondisi geopolitik yang memanas ini sangat mendisrupsi pasokan pangan. Sementara faktor terakhir adalah perubahan iklim termasuk global warming dan sebagainya. “Diprediksi 24 persen wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami puncak kemarau. Dampaknya luar biasa, terhadap ketahanan pangan tentunya, lalu kerugian yang ditimbulkan juga cukup besar,” ucapnya.
Indonesia sebagai negara agraria, memiliki target dan harapan untuk menjadi pemasok pangan dunia terbesar di masa depan. Namun jika hanya mengandalkan sumber daya yang dimiliki tanpa diiringi inovasi teknologi, dapat dipastikan agroindustri tidak bisa bekerja maksimal.
Ia menjelaskan, basis pengembangan pertanian tidak hanya terletak pada bumi dan air saja, tapi juga teknologi. “Saya melihat ini bumi kita juga berubah, permukaan tanah berubah. Sebagian hilang, sebagian lagi bergabung. Lalu pertanyaannya, ini bagaimana irigasinya? Padahal itu satu yang krusial di bidang pertanian. Inilah ya, salah satu kasus di mana saya kira teknologi akan berperan penting dan sangat membantu,” ungkapnya.
Sigit menambahkan, sumber daya yang ada di bumi ini sebagian besar sudah mengalami krisis. Meningkatnya populasi membuat kebutuhan akan perumahan dan industri lain meningkat, sehingga alih fungsi lahan semakin tinggi. Tak hanya itu, perubahan iklim dan fenomena tidak terduga yang terjadi menjadi ancaman mematikan yang harus siap dihadapi.
Jika hal ini terus berlangsung tanpa adanya kesiapan teknologi, maka dikhawatirkan negara akan menghadapi krisis berkepanjangan.
Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D, akademisi Fakultas Teknologi Pertanian UGM menuturkan sebagai solusi logis salah satu inovasi yang ditawarkan untuk memperkuat ketahanan pangan nusantara adalah Smart Farming.
Bayu Dwi yang juga seorang Staff Litbang Kementerian Pertanian RI memaparkan bagaimana Smart Farming dapat menjadi solusi berbagai masalah pertanian. “Setidaknya ada tiga tantangan pertanian yang kita hadapi, yaitu sistem tani yang tidak terintegrasi, minimnya penyerapan tenaga kerja dan pendapatan petani yang kecil,” bebernya.
Ditambahkan Bayu Dwi, Indonesia masih memiliki lahan sawah yang berbasis rumah tangga, dan Smart Farming yang berusaha mengintegrasikan lahan sawah agar dapat dikelola bersama. “Faktanya, teknologi seperti ini akan sulit masuk dan dipahami jika kita tidak terjun langsung di lapangan,” ujarnya.
Minimnya regenerasi SDM tenaga kerja tani juga menjadi persoalan lain. Mayoritas lahan tani saat ini dikelola oleh petani usia lanjut, dan tidak memiliki penerus untuk mengelola lahan.
“Sebagian besar petani juga saya yakin tidak menginginkan anaknya menjadi petani. Pun dengan generasi saat ini, hanya sebagian kecil yang mau menjadi petani. Hal ini kemudian timbul menjadi masalah. Maka dari itu kehadiran teknologi inilah yang nanti perannya untuk meningkatkan daya tarik pertanian di kalangan anak muda atau generasi Milenial,” tambah Bayu. (aje/kun)
BACA JUGA: Kota Yogyakarta Sebar 2000 Dosis Vaksin Rabies setelah Terima 28 Laporan Gigitan Hewan






