Yogyakarta (beritajatim.com) – Keputusan Anies Baswedan untuk menggandeng Muhaimin sebagai calon wakil presiden dalam Pemilu 2024 telah menjadi kejutan bagi banyak pihak yang tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Keputusan ini diperkirakan akan mengubah peta politik nasional bagi semua kontestan pemilihan. PKB, yang selama ini aktif melakukan komunikasi politik dengan berbagai pihak, akhirnya memilih untuk bermitra dengan Anies Baswedan.
Nastain Muhamad, seorang pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia (Fikomm) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) dan sekaligus Peneliti Data Politik Indonesia, mengungkapkan secara kalkulasi politik, kesamaan jumlah suara Nasdem dan PKB membuat pasangan ini menjadi pilihan yang masuk akal.
“Komposisi ini ideal jika hanya dilihat dari segi kursi parlemen. Namun, dalam hal elektabilitas, apakah pasangan ini juga memiliki daya tarik yang kuat, memerlukan analisis lebih mendalam karena dalam beberapa penelitian sebelumnya, nama Muhaimin tidak signifikan meningkatkan elektabilitas pasangan tersebut,” kata Nastain kepada beritajatim, Senin (4/9/2023).
BACA JUGA:
Denny JA: Warga NU Tak Signifikan Pilih Duet Anies-Cak Imin
Keputusan Anies untuk menjadikan Muhaimin sebagai calon wakil presiden, menurut Nastain, sudah melalui perhitungan yang matang. PKB telah berhasil menunjukkan diri sebagai partai dengan basis pemilih Islam terbesar dalam dua pemilihan presiden terakhir, dengan meraih sekitar 9 persen suara, meninggalkan partai Islam lainnya. Selain itu, keberlanjutan dukungan dari warga Nahdliyin yang telah lama terikat dengan PKB sebagai wadah politik praktis juga menjadi faktor pendukung.
Selain itu, komposisi Anies-Muhaimin akan memperkuat citra pasangan tersebut sebagai pasangan Nasionalis Relijius, yang selama ini telah terbukti berhasil meningkatkan elektabilitas.
BACA JUGA:
Anies dan Ganjar Sudah Berziarah ke Makam Bung Karno Blitar, Prabowo Belum
Bagi PKB, jika Muhaimin resmi mendaftar sebagai calon wakil presiden 2024 bersama Anies Baswedan, ini akan menjadi pencapaian luar biasa setelah absen selama tiga pemilihan presiden dalam menempatkan kader mereka sebagai pemain utama.
Hal ini juga menjadi pengingat bahwa sejak tahun 2009 hingga pemilihan presiden terakhir pada tahun 2019, PKB hanya menjadi partai pendukung koalisi yang mencalonkan kader dari partai lain.
Meskipun demikian, masih perlu dilihat apakah pasangan ini akan mendapatkan dukungan dan penerimaan yang besar dari masyarakat, terutama dari basis massa akar rumput, dalam waktu yang akan datang. [aje/beq]






