Jakarta (beritajatim.com) – Forum Doktor dan Cendekiawan Indonesia secara resmi memberikan dukungan penuh terhadap Proposal Kenegaraan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI). Proposal tersebut bertujuan untuk mengembalikan dan memperkuat sistem bernegara sesuai dengan pandangan para pendiri bangsa. Langkah ini diharapkan akan mengarah pada penyempurnaan melalui proses Amandemen dengan penerapan teknik adendum.
Forum Doktor & Cendekiawan Indonesia menyampaikan dukungan ini setelah melakukan pertemuan dengan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, yang berlangsung di Ruang Delegasi DPD RI, Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen Jakarta pada hari Selasa (29/8/2023).
Pertemuan tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh kunci dari Forum Doktor & Cendekiawan Indonesia, termasuk Prof Hafid Abbas sebagai pembina, Dr Eliya, MPd sebagai Sekretaris Jenderal, serta sejumlah tokoh lainnya seperti Dr Wazri Afifi, Dr Erwin Chairuman, Dr Rusli, Dr Taswem Tarib, dan Dr Asmil Ilyas.
Ketua DPD RI, didampingi oleh anggota DPD RI dari Lampung, Bustami Zainudin, serta Staf Khusus Ketua DPD RI, yaitu Brigjen Pol Amostian dan Togar M Nero, juga menyambut pertemuan ini. Selain itu, hadir dalam pertemuan ini adalah ekonom Ichsanuddin Noorsy dan pegiat Konstitusi, Dr Zulkifli S Ekomei.
Prof Hafid Abbas dalam pernyataannya menyampaikan apresiasi terhadap pidato Ketua DPD RI yang diucapkan dalam Sidang bersama pada tanggal 16 Agustus lalu. Ia menyatakan bahwa isi pidato tersebut memiliki potensi untuk menjadi panduan bagi kekuatan nasional, mengingat fokusnya pada isu-isu yang esensial bagi kemajuan bangsa.
BACA JUGA:
Ketua DPD RI: 25 Tahun Reformasi, Pancasila Meredup
Prof Hafid Abbas juga memaparkan empat alasan mendasar mengapa kembalinya UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 sangat penting. Pertama, dampak dari empat kali amandemen UUD 1945 telah memperdalam kesenjangan ekonomi yang berpotensi mengancam persatuan bangsa. Kedua, mayoritas penduduk Indonesia masih menghadapi kendala dalam hal pemberdayaan dan pendidikan, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan memprihatinkan.
Alasan ketiga, Prof Hafid menjelaskan bahwa sebagian besar kekayaan dan modal ekonomi saat ini terpusat pada segelintir individu dan korporasi. Keempat, mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki tabungan yang memadai. Situasi ini telah membawa dampak negatif pada budaya dan taraf hidup sejak empat kali amandemen UUD 1945 dilaksanakan.
Prof Hafid Abbas menegaskan urgensi tindakan cepat untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan mendorong perubahan yang positif.
Sementara itu, Dr Eliya, MPd, sebagai Sekretaris Jenderal Forum Doktor & Cendekiawan Indonesia, menjelaskan peran penting Forum Doktor sebagai wadah bagi para intelektual dan cendekiawan dari berbagai bidang keilmuan, termasuk profesor, doktor, dan magister dari lintas disiplin.
BACA JUGA:
Ketua DPD RI Ajak SAPMA PP Ambil Kembali Kedaulatan Rakyat
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dukungan yang diberikan oleh Forum Doktor & Cendekiawan Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk bergerak dari sekadar dukungan menjadi tindakan nyata.
LaNyalla mengungkapkan pandangannya bahwa langkah nyata harus diambil untuk mewujudkan visi ini, dan bahwa diskusi semata tidak lagi mencukupi. Ia memandang bahwa saatnya untuk bergerak maju dengan tindakan konkret, mengkaji kembali sistem bernegara yang berlaku saat ini, dan mendorong perubahan yang lebih baik.
“Dalam prinsipnya, kita tidak perlu terlalu lama berdiskusi. Saatnya bergerak maju, mengambil inisiatif, dan tidak menunggu perintah. Seperti yang telah saya lakukan dengan menyampaikan pandangan ini dalam Sidang Bersama sebelumnya, di forum kenegaraan. Gagasan ini seharusnya didukung oleh seluruh elemen masyarakat agar semakin terdengar, bergema, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kembali mengapresiasi nilai-nilai Pancasila,” tegas LaNyalla.
Dukungan yang kuat dari Forum Doktor & Cendekiawan Indonesia memberikan sinyal penting terhadap arah perubahan sistem bernegara yang diinginkan oleh masyarakat. Dengan urgensi yang ditekankan oleh para tokoh tersebut, tantangan besar dan tindakan konkret akan menjadi fokus dalam perjalanan menuju perubahan yang lebih baik. [beq]






