Ponorogo (beritajatim.com) – Saat ini, harga gabah sampai di penggilingan cukup tinggi, tembus Rp7.000 per kilogramnya. Dengan kondisi harga tersebut, Bulog Ponorogo enggan menyerap gabah petani.
“Harga gabah sampai di penggilingan tembus sampai Rp7.000 per kilogramnya. Ini rasanya harga gabah tertinggi selama saya bekerja di Bulog,” ungkap Pimpinan Cabang (Pinca) Bulog Ponorogo Aan Sugiarto, Sabtu (26/8/2023).
Aan menjelaskan, Bulog membeli gabah atau beras untuk cadangan pemerintah itu sudah ada ketentuan harganya. Untuk beras dibeli dengan harga Rp9.950 per kilogram, sedangkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering di tingkat penggilingan Rp 5.100 per kilogram.
BACA JUGA:
Ini Upaya Bulog Ponorogo Tekan Kenaikan Harga Beras
Dengan ketentuan harga itu dan melihat harga di pasaran saat ini, tentu tidak ada yang mau menjualnya ke Bulog Ponorogo. Sebab, di jual dari luar Bulog, mereka dapat keuntungan yang lebih banyak.
“Sebenarnya Bulog bisa saja membeli di atas HPP, yakni lewat kebijakan fleksibilitas. Namun, untuk saat ini Pemerintah belum memerintahkan untuk menerapkan kebijakan tersebut,” kata Aan.
BACA JUGA:
Harga Beras Masih Tinggi, Bulog Ponorogo Terus Masifkan Operasi Pasar
Lagi pula, kata Aan stok beras di Bulog Ponorogo masih aman hingga akhir tahun nanti. Sebab, pihaknya sudah melakukan optimalisasi penyerapan saat terjadi panen raya. Yakni di rentan waktu bulan Maret hingga Juli 2023 lalu. Stok penyerapan di panen raya kala itu, kata Aan masih 9.430 ton.
“Ketika ada informasi terkait dengan badai El Nino pada awal tahun lalu, kita langsung bergegas untuk melakukan optimalisasi penyerapan saat panen raya lalu,” pungkasnya. [end/beq]






