Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa FISIP Unair Surabaya melakukan unjuk rasa. Mereka memprotes rancang revisi Undang-undang nomor 6 tahun 2014 yang membahas tentang desa.
Pasalnya, dalam revisi undang-undang tersebut, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya menganggap bahwa wacana revisi tersebut sarat akan muatan politis dan menjadi ‘lahan basah’ korupsi.
Terdapat beberapa poin yang disoroti dalam aksi demo tersebut, yakni periode jabatan Kepala Desa yang semakin panjang dan peningkatan anggaran dana desa yang signifikan. Namun demikian, aksi tersebut merupakan bagian acara dari United Fisip Orientation (UFO) yang merupakan acara ospek FISIP Unair.
Ketua Pelaksana UFO FISIP Unair 2023 Happy Putra mengatakan selama beberapa tahun penyelenggaraan UFO, panitia yang bertugas selalu menghadirkan isu aktual yang nantinya akan dikritisi oleh mahasiswa baru Fisip Unair.
Setelah menggunakan Omnibus Law pada UFO edisi lalu, pada edisi kali ini UFO mengangkat isu revisi Undang-undang nomor 6 tahun 2014 atau yang sering juga disebut dengan RUU Desa.
“Pengangkatan RUU Desa sebagai tema besar pelaksanaan UFO edisi 2023 didasarkan atas keresahan masyarakat desa. Apalagi, RUU Desa yang saat ini telah masuk dalam prolegnas tidak berdampak secara nyata bagi masyarakat desa,” kata Happy kepada beritajatim.com, Jumat (25/8/2023).

Aksi Demonstrasi
Sebelum dilakukan simulasi aksi demo yang merupakan acara puncak dari UFO, mahasiswa baru melalui mata acara yang tersedia di UFO dibekali oleh pengetahuan mengenai RUU Desa.
Salah satunya yakni melalui analisis sosial yang turut menghadirkan beberapa narasumber dari berbagai elemen seperti Aliansi Petani Indonesia (API), KontraS, dan dari mahasiswa Fisip.
Dalam analisis sosial tersebut, mahasiswa baru yang dibagi dalam beberapa kelompok mendapatkan kesempatan untuk melakukan interaksi langsung dengan pihak yang memiliki pengetahuan terhadap RUU Desa.
“Setelah analisis sosial mahasiswa baru juga melakukan simulasi audiensi dengan pemerintah yang diperankan oleh panitia UFO FISIP Unair,” kata Happy.
Selama melakukan simulasi audiensi, mahasiswa baru akan merasakan pengalaman riil ketika melakukan audiensi dengan pemerintah ketika dalam aksi demonstrasi.
“Simulasi audiensi tersebut juga turut menyulut emosi mahasiswa baru untuk melakukan aksi demonstrasi,” katanya.
Happy menyebut simulasi aksi demonstrasi merupakan ciri khas dari ospek UFO FISIP Unair diadakan dengan rute mengelilingi bagian dalam Kampus B Unair.
BACA JUGA:
KPID Jatim Ajak Maba Unair Surabaya Kritis Konsumsi Media Massa
Dalam perjalanannya untuk mencapai titik aksi, mahasiswa baru yang membentuk barisan pun nantinya akan mendapat gangguan dari panitia berupa perebutan poster aksi.
Dalam simulasi aksi demonstrasi tersebut, mahasiswa baru pun tidak datang dengan kosong, melainkan dengan tuntutan yang telah dibuat sebelum simulasi aksi demonstrasi.
Mahasiswa baru dalam simulasi aksi demonstrasi UFO FISIP Unair juga membawa beberapa spanduk bertuliskan ‘Putuskan Dinamika Politik’, ‘Transparansi AD/ART Rancangan Khusus Selama Masa Jabat’
‘Ikut Sertakan Suara Masyarakat dalam Agenda Politik’, ‘Hapuskan Politik Overpower’ dan masih banyak lagi.
Simulasi aksi yang menjadi puncak acara UFO pun mendapatkan beragam testimoni dari mahasiswa, salah satunya yakni Naufal Dzakwan, yang merupakan mahasiswa baru Fisip Unair program studi Hubungan Internasional.
BACA JUGA:
Perjalanan Panjang Vaksin Inavac Buatan Unair
Menurut Naufal, serangkaian UFO yang dilalui selama 3 hari membuat dirinya menjadi bangga sebagai mahasiswa FISIP Unair.
“Jujur, UFO itu beneran buka mata yang awalnya meremehkan FISIP di Unair, setelah melewati rangkaian UFO, aku ga pernah sebangga ini menjadi mahasiswa Unair terutama Fisip,” ujar Naufal. [asg/but]






