Trenggalek (beritajatim.com) – Tidak seperti pawai karnaval agustusan lainnya. Warga Kabupaten Trengalek ini justru melakukan pawai dengan nuansa protes menolak terhadap rencana pendirian tambang emas oleh PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) di Trenggalek.
Bersamaan dengan kegiatan tahunan di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek ini para warga justru mengisinya dengan banner dan poster yang berbunyi penolakan atas tambang emas tersebut.
“POKO’E TOLAK…!!! TAMBANG EMAS PT. SMN RAKYAT BANGKIT MELAWAN…!!!,” sebagaimana tulisan dalam salah satu banner yang dibawa warga saat pawai kebudayaan, Selasa (22/8/2023) kemarin.
Baca Juga: Polda Jatim Klarifikasi Postingan Ahmad Sahroni Soal Sabu 100 Kg
Tidak kurang dari 400 warga Desa Dukuh yang berpartisipasi dalam pawai kebudayaan ini, turut mengutarakan penolakan terhadap rencana tambang emas PT SMN.
Langkah ini diambil oleh warga sebagai upaya untuk menjaga alam Trenggalek, terutama di wilayah Desa Dukuh, dari potensi kerusakan akibat aktivitas tambang emas.
Ratman, Koordinator Tim Pawai Desa Dukuh, menjelaskan bahwa semangat peserta dalam mengikuti pawai tersebut sangat tinggi, karena mereka berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam.
“Kami memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat Watulimo mengenai bahaya tambang emas dan mengajak mereka untuk bersatu dalam menentang rencana tambang emas PT. SMN,” kata Ratman.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Lakukan Audit Tata Ruang Pemkab Probolinggo
Lebih lanjut, warga Desa Dukuh meragukan janji-janji kesejahteraan yang diajukan oleh PT SMN jika tambang emas didirikan. Bagi mereka, kesejahteraan sudah bisa diperoleh melalui hasil alam yang sudah ada.
Keberisikan lingkungan yang berpotensi muncul akibat aktivitas tambang emas oleh PT SMN juga menjadi keprihatinan warga Desa Dukuh. Warga percaya bahwa jika lingkungan alam rusak, berbagai bencana juga akan mengikuti.
Ratman juga mengungkapkan insiden tanah longsor yang terjadi dekat lokasi pengeboran setelah PT SMN melakukan eksplorasi. “Efek lingkungan yang nyata adalah adanya semburan air saat pengeboran. Di sekitar area pengeboran, banyak pohon durian yang akarnya membusuk dan mati serta tumbang,” paparnya.
Baca Juga: Kebun Riset Jombang Dijadikan Tempat ‘Merdeka Belajar’ Mahasiswa Unair
Bukan hanya itu, dampak buruk terhadap kehidupan sosial juga menjadi alasan utama warga Desa Dukuh menolak adanya tambang emas di Trenggalek. Hal ini merujuk pada pengalaman warga yang menghadapi perpecahan pendapat antara pendukung dan penentang rencana tambang.
“Sehingga, harmoni yang selama ini terjaga hancur akibat dampak tambang ini. Beberapa warga merasa ketakutan, bahkan sampai sakit akibat perasaan cemas. Ada yang menunda pembangunan rumah karena takut, dan masih banyak dampak lainnya,” ungkap Ratman.
Oleh karena itu, Ratman menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi warga Desa Dukuh untuk tidak menolak rencana tambang emas oleh PT SMN di Trenggalek. Ia dengan semangat menyatakan, “Kami tetap menolak tambang emas!”
Ratman juga berharap pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten mendengarkan suara warga kecil dan mencabut segala izin yang diberikan kepada PT SMN. Hal itu dilakukan demi melindungi alam dan keberlanjutan lingkungan Trenggalek. “Kami mohon agar suara kami didengar,” tandasnya. (ian)






