Tiga kemenangan beruntun Persebaya dalam kompetisi Liga 1 Musim 2023-24 memberikan nama baru untuk Uston Nawawi. Uston NawaWWWin. WWW berarti win win win. Setelah menang 2-1 atas Bhayangkara Presisi Indonesia dan Persita 1-0, Bajul Ijo mengalahkan PSM Makassar 1-0, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (18/8/2023).
Kemenangan pada pekan 9 ini mengerek posisi Persebaya ke peringkat 8 dengan 14 angka. Terpaut hanya lima angka dari pemuncak klasemen Madura United.
Kendati menang, permainan Persebaya sama sekali tidak indah. Umpan-umpan panjang tidak akurat. Salah oper. Pemain bingung saat ditekan dan dikepung pemain lawan. Beruntung pemain asal Singapura, Ui-young Song, berhasil mencetak gol dari hasil tembakan luar kotak penalti pada menit 9.
Pandit sepak bola Binder Singh pernah menyamakan permainan Persebaya di bawah asuhan pelatih Aji Santoso pada kompetisi Liga 1 musim 2021-22 dengan pola permainan tikitaka Barcelona yang dilatih Pep Guardiola. “Satu dua kali passing sudah bisa membuka pertahanan lawan dan menciptakan peluang serta mencetak gol,” katanya.
“Meskipun tidak menjadi juara, Persebaya adalah juara tanpa mahkota. Karena bermain di manapun, dengan konsep permainan yang sama. Bermain menyerang dengan mengandalkan passing, kecepatan, agresivitas, dan yang penting mengandalkan intelejensia,” kata Binder dalam kanal podcast di Youtube, 26 Maret 2022.
Pujian Binder itu hilang tak berbekas pada musim ini. Manajemen Persebaya mengistirahatkan Aji Santoso dari posisi pelatih setelah hanya mengemas lima angka dari enam pertandingan awal. Kekalahan 1-2 dari Persikabo di Gelora Bung Tomo menjadi antiklimaks perjalanannya sejak 31 Oktober 2019 bersama Persebaya.
Uston Nawawi, rekan setim Aji saat membawa Persebaya menjuarai Liga Indonesia 1996-97, menggantikan posisinya sebagai pelatih sementara. Dan ia memahami, bahwa kemenangan adalah yang terpenting. Permainan indah hanya dicatat dalam kenangan.
“Dalam sepak bola yang penting adalah hasil akhir. Kompetisi yang pertama adalah hasil akhir. Kedua, kita perbaiki lagi bagaimana bermain bagus. Main bagus pun kalau tidak menang, tidak dapat tiga poin,” kata Uston sambil mengacungkan jempol saat sesi konferensi pers.
Pragmatis. Tapi memang hanya itu yang diperlukan untuk memenangi kompetisi. Jika kau tidak bisa bermain indah dan menghibur, pastikan saja meraih tiga angka di setiap pertandingan.
Jonathan Wilson dalam buku Inverting The Pyramid tidak percaya ada yang disebut cara ‘bermain yang benar’. Tidak ada salah dan benar dalam taktik sepak bola. Semuanya adalah urusan sudut pandang secara emosional dan estetik. Mengatakan bahwa gaya bermain ‘orkestra’ ala Arsene Wenger lebih baik daripada cara bermain pragmatis Jose Mourinho hanya kecenderungan personal.
Lagipula tak selamanya sebuah tim bermain pragmatis dengan merapatkan pertahanan dan menunggu diserang daripada mengambil inisiatif penyerangan. Wenger juga memilih taktik negatif pada final Piala FA 2005 untuk bisa menang.
Wenger tak boleh dikutuk karena pilihan itu. Pada akhirnya satu-satunya ‘kebenaran’ dalam sepak bola adalah kemenangan. Apalagi sejarah sepak bola menunjukkan tim terbaik tak selamanya mengangkat trofi. Neil Fredrik Jensen dalam buku The Great Uncrowned: Football’s Most Celebrated Losers mencatat 21 tim dalam sejarah yang membuat publik sepak bola jatuh hati namun gagal menjadi juara. Mereka adalah Great Uncrowned. Juara Tanpa Mahkota.
Sebut saja Brasil yang gagal menjadi juara Piala Dunia 1950 setelah dikalahkan Uruguay 1-2. Hungaria yang kalah 2-3 dari Jerman Barat dalam final Piala Dunia 1954. Belanda yang gagal dalam Piala Dunia 1974 dan 1978. Brasil dan Prancis yang kalah dengan indah dalam Piala Dunia 1982. Atau Liverpool yang gagal menjadi juara Liga Inggris 2018-19 dan 2021-22 dengan selisih satu angka dari Manchester City.
Kompetisi domestik kita juga mengenal deretan juara tanpa mahkota. Paling masyhur adalah Petrokimia Putra Gresik yang bermain agresif dan indah pada kompetisi Liga Indonesia I 1994/95, tapi dikalahkan secara kontroversial 0-1 oleh Persib Bandung di final.
Pragmatisme Uston terlihat dari statistik tiga pertandingan terakhir Persebaya. Berbeda dengan Aji yang mengingatkan Binder pada tikitaka, Uston tak berminat menguasai bola berlama-lama. Data Pojok Stats menunjukkan, rata-rata penguasaan bola Persebaya dalam tiga pertandingan terakhir adalah 49 persen. Bandingkan dengan masa kepemimpinan Aji Santoso yang menunjukkan rata-rata penguasaan 55 persen dalam enam pertandingan.
Begitu posesifnya terhadap bola, Persebaya era Aji musim ini mencatatkan penguasaan permainan hingga 74 persen saat menghadapi Persikabo. Bahkan Persebaya melepaskan 21 tembakan, tujuh di antaranya tepat sasaran.
Namun buat apa menguasai pertandingan kalau tak menang. Uston tidak ingin Persebaya hanya mencatatkan diri sebagai juara tanpa mahkota. Dia lebih memilih berkonsentrasi mengefektifkan serangan ‘direct’ atau langsung ke jantung pertahanan lawan.
Dalam tiga pertandingan, Pojok Stats mencatat, Persebaya melakukan 30 kali percobaan tembakan dengan tingkat akurasi 43 persen. Jumlah tembakan ke gawang ini mengalami penurunan, namun lebih akurat daripada saat dilatih Aji. Dalam enam pertandingan awal musim ini, akurasi tembakan Persebaya ke gawang hanya 38 persen dari 58 percobaan tembakan.
Produktivitas gol Persebaya era Uston juga lebih baik yakni 1,33 per pertandingan dan kebobolan 0,33 gol. Sementara pada era Aji, Persebaya mencatatkan produktivitas rata-rata 1,17 gol per pertandingan dengan tingkat kebobolan 1,67 gol per pertandingan.
Data statistik ini menunjukkan bahwa Persebaya lebih produktif dan lebih solid di bawah Uston daripada Aji. Kendati masih mengkhawatirkan, pertahanan Persebaya mulai membaik dengan mencatatkan dua kali cleansheet, dan satu di antaranya dilakukan dengan penjaga gawang cadangan Andhika Ramadhani.
Praktis Uston meracik formula tim dengan materi pemain yang diwariskan Aji Santoso. Namun ia membawa sesuatu yang penting di ruang ganti: keceriaan. “Pemain itu harus senang dan gembira,” katanya, sebagaimana dilansir Jawa Pos, Selasa (15/8/2023). Dia juga sering berbicara empat mata dengan pemain.
Kegembiraan memang jadi kunci keberhasilan sebuah tim. Jurgen Klopp saat pertama kali datang ke Liverpool melihat ada sesuatu yang hilang dari para pemain: kebahagiaan. Mereka seperti terbebani, dan hal pertama yang dilakukan Klopp adalah mengembalikan kebahagiaan dan kepercayaan diri permain.
Perjalanan Uston masih perlu diuji di kandang PSS Sleman, Sabtu (26/8/2023). Namun tiga kemenangan tersebut menunjukkan kohesivitas antarpemain mulai terbangun. Dan ini modal penting agar huruf ‘W’ pada nama Uston semakin bertambah. [wir]






