Lamongan (beritajatim.com) – Festival 1000 Olahan Manuk Teruk digelar di Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Jabung, Kecamatan Laren. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Ansor dan Fatayat desa setempat.
Diketahui, manuk teruk atau peruk yang juga biasa disebut burung mandar batu ini merupakan spesies burung pemakan serangga air, binatang kecil, juga pucuk tanaman muda, yang hidup di danau, kolam, parit, sawah, dan tambak payau.
Keberadaan burung tersebut, khususnya di Desa Jabung, sudah dikenal sejak zaman nenek moyang dulu. Burung teruk kerap menjadi alternatif atau pengganti lauk ikan saat musim kemarau tiba.
“Manuk Teruk ini dipilih karena merupakan salah satu ciri khas, ikon Desa Jabung. Turun temurun dari Mbah-Mbah zaman dulu. Manuk Teruk ini alternatif kalau tidak ada ikan di rawa pas musim kemarau, karena mudah sekali ditemukan,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Festival Rifqi Basit, Minggu (20/8/2023).
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi sangat mengapresiasi atas digelarnya festival makanan olahan manuk teruk ini. Menurutnya, festival ini bisa sebagai ajang promosi untuk memperkaya khazanah budaya di Lamongan, khususnya Desa Jabung.

“Festival olahan manuk teruk ini baru di Lamongan dan turut menyemarakkan event HUT ke-78 RI. Festival ini juga sebagai wadah memperkenalkan ciri khas Jabung pada daerah lain,” terang Bupati Yuhronur.
Selain festival di Jabung ini, Bupati Yuhronur menyebutkan, hingga kini Lamongan telah memiliki beragam festival yang digelar, di antaranya Festival Gandrung Rajungan, Dayung Perahu, Layang-layang, Pecel Lele, Sego Muduk, Kupatan, Pindang dan banyak lainnya.
BACA JUGA:
Pagar Nusa Nataan Lamongan Bongkar Tugu dengan Suka Rela
Lebih jauh Yuhronur berharap, festival seperti ini mampu memberikan dampak yang signifikan bagi roda perekonomian di Lamongan, sekaligus mampu menarik pengunjung luar daerah dengan memunculkan potensi desa yang dimiliki.
“Festival ini begitu luarbiasa dan diolah dengan tetap menjaga ekosistem. Keberadaan manuk teruk ini sendiri tergolong mudah ditemui, kadang juga dianggap sebagai hama padi. Tapi melalui festival seperti ini, diharapkan dapat menambah khazanah kuliner Lamongan. Kegiatan ini juga akan dapat membantu menggerakkan perekonomian daerah,” jelasnya. [riq/but]







