Surabaya (beritajatim.com) – Pertemuan Ganjar Pranowo, Bacapres PDI Perjuangan (PDIP) dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar dinilai sebagai sinyal PKB akan merapat ke koalisi PDIP.
Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman menilai pertemuan Ganjar dan Muhaimin tidak hanya bermakna silaturahmi.
“Pertemuan politik antara Ganjar Pranowo dan Muhaimin Iskandar yang baru saja berlangsung agaknya bukan pertemuan politik biasa antara dua sahabat politisi,” kata Airlangga dalam keterangannya, Minggu (20/8/2023).
“Namun, melebihi itu memiliki tujuan-tujuan politik yang lebih penting ditinjau dari proses kerja sama politik dalam Pilpres 2024,” lanjutnya.
Airlangga menilai pertemuan kedua politikus tersebut memperlihatkan kemungkinan mulai munculnya conflict of interest di internal koalisi partai politik pendukung Prabowo Subianto.
BACA JUGA:
Pertemuan Ganjar-Cak Imin, Pengamat: Bukan Pertemuan Biasa
“Apabila kita melihat postur gemuk dari empat partai pendukung koalisi, maka tiga partai pendukungnya baik Golkar, PAN, maupun PKB masing-masing memiliki kepentingan kuat untuk menampilkan tokoh mereka sebagai calon wakil presiden,” jelasnya.
“Dalam konteks ini posisi Gus Muhaimin yang sebelumnya telah diyakinkan untuk menjadi kandidat cawapres dari Prabowo Subianto sangat mungkin dengan masuknya PAN dan Golkar dengan agenda cawapresnya masing-masing membuat posisi Gus Imin dapat tergeser ke calon-calon lainnya,” tambahnya.
Airlangga menyebut pertemuan kedua elite tersebut menjadi rasional dalam konteks bagian dari sikap politik Muhaimin dan PKB untuk membangun aliansi dengan Ganjar.
BACA JUGA:
Reuni Ganjar-Cak Imin Buat Komunikasi Politik Cair
“Bahwa pilihan politik untuk lebih mendukung Ganjar menjadi rasional ditinjau dari efek ekor jas yang akan didapat oleh PKB mengingat di tingkat konstituen PKB menurut survey Indikator menunjukkan bahwa 40,3% pemilih PKB memilih Ganjar Pranowo, sementara Prabowo Subianto mendapat dukungan sebesar 30,5%, dan Anies Baswedan 25%,” tegasnya.
“Dalam kalkulasi seperti ini apabila PKB ingin memaksimalisasikan perolehan dalam pilpres. Maka, pilihan yang ada adalah mendukung Ganjar Pranowo. Sementara bila PKB dengan Gus Imin masuk dalam koalisi Ganjar, maka akan mempengaruhi soliditas politik bagi pasangan tersebut. Skema nasionalis-religius yang menjadi orientasi politik dari Ketum PDI Perjuangan yakni Megawati Soekarnoputri menjadi sejalan dengan kerjasama politik yang terbangun antara PDI Perjuangan, PPP, dan PKB,” pungkasnya. [tok/suf]






