Singapura (beritajatim.com) – Kemegahan budaya Indonesia tercermin dengan memukau melalui Festival Anggrek ASEAN di Garden by The Bay Singapura. 35 seniman tari Indonesia tampil memukau di hadapan ribuan pengunjung.
Taman ikonik, Garden by The Bay, yang menjadi kebanggaan Singapura, menjadi tempat diselenggarakannya pameran anggrek kolaboratif antara pemerintah Singapura, Kedutaan Besar Indonesia dan Thailand, serta Komisi Tinggi Brunei Darussalam dan Malaysia.
Kerja sama antara Gardens by The Bay, Kedutaan Besar Indonesia, Thailand, serta Komisi Tinggi Brunei Darussalam dan Malaysia di Singapura menghasilkan pameran yang mencakup anggrek, arsitektur, dan budaya di Flower Dome Gardens by The Bay berjudul “Orchid Extravaganza: Orchid of the East Tropics.”
Ini adalah kerjasama lintas negara terbesar yang pernah diadakan oleh Gardens by The Bay. Selain anggrek, pameran ini juga menampilkan kebaya yang mewakili budaya masing-masing negara dan telah dikurasi oleh Kedutaan Besar atau Komisi Tinggi tersebut.
Acara pembukaan pameran ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan, Masyarakat, dan Pemuda Singapura, Edwin Tong, pada 28 Juli 2023. Para duta besar dari negara-negara yang anggreknya dipamerkan turut hadir dalam acara pembukaan ini, termasuk Duta Besar RI untuk Singapura, Suryopratomo; Duta Besar Thailand untuk Singapura, Chutintorn Gongsakdi; Komisioner Tinggi Brunei Darussalam untuk Singapura Dato Paduka Haji Sidek bin Ali; dan Komisioner Tinggi Malaysia untuk Singapura Dato’ Dr. Azfar bin Mohamad Mustafar.
BACA JUGA:
Wakil Ketua MPR: Bila Perlu Usir Dubes Swedia dan Denmark dari Negara Anggota OKI
Anggrek memiliki makna penting dalam lima negara tersebut. Sebagai contoh, anggrek adalah bunga nasional Indonesia, bunga negara bagian Sarawak di Malaysia, memiliki peran ekonomi dalam ekspor tumbuhan di Thailand, dan di Brunei Darussalam, beberapa spesies langka yang tak tertandingi ada di hutan-hutan mereka.
Di Singapura, anggrek bukan hanya menjadi bunga nasional, tetapi juga merupakan alat diplomasi lembut melalui penamaan spesies anggrek. Lebih dari 7000 jenis anggrek dipamerkan dalam “Orchid Extravaganza: Orchids of the East Tropics”, memiliki asal-usul dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Selain anggrek hibrida, spesies asli dari masing-masing negara juga dipamerkan, beberapa di antaranya dibiakkan oleh para peneliti Gardens by The Bay.
Indonesia menampilkan keanekaragaman budayanya dari Sabang hingga Merauke dengan menghadirkan Rumah Toraja sebagai representasi. Rumah Toraja, juga dikenal sebagai Tongkonan, adalah rumah tradisional yang ada di kalangan suku Toraja di Sulawesi Selatan, Indonesia.
Atap-atapnya memiliki bentuk yang mirip perahu terbalik atau tanduk kerbau, dihiasi dengan ukiran dan desain rumit yang mencerminkan kekayaan budaya dan keyakinan spiritual suku Toraja. Di samping Rumah Toraja, juga dipajang jenis anggrek asli Indonesia, yaitu Phalaenopsis amabilis, yang sering disebut anggrek bulan.
“Di antara anggota ASEAN lainnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Ini adalah pesan yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat Singapura secara umum dan pengunjung Garden by The Bay secara khusus,” ujar Duta Besar KBRI Singapura, Suryo Pratomo, didampingi oleh Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Singapura, Juviano Dos Santos Ribeiro.
BACA JUGA:
3 Titik Pembakaran Halangi Pandangan Masinis, KA Lintasi Daop 7 Madiun Terlambat
Juviano menambahkan bahwa program ini juga merupakan bagian dari kepemimpinan Indonesia dalam ASEAN tahun ini.
Garden by The Bay dipilih sebagai lokasi strategis dan ikonik karena merupakan taman buatan yang dikelola dengan teknologi tinggi.
“Selama tahun 2022, Garden by The Bay dikunjungi oleh hampir 9 juta pengunjung,” kata Atase Pendidikan & Kebudayaan KBRI Singapura, Satrya Wibawa.
Oleh karena itu, selain pameran anggrek, KBRI Singapura juga menampilkan beragam penampilan budaya Indonesia yang merepresentasikan keragaman seni tradisi Indonesia. Upaya ini diharapkan akan memberikan kesan positif terhadap Indonesia, terutama dalam usaha pemulihan sektor pariwisata setelah menghadapi dampak pandemi.
Para penampil ini berasal dari berbagai kalangan dan sepenuhnya diisi oleh masyarakat Indonesia di Singapura, termasuk siswa Sekolah Indonesia Singapura, ibu-ibu anggota Darma Wanita Persatuan KBRI Singapura, komunitas masyarakat Bali, hingga pekerja migran Indonesia di Singapura. [beq]






