Bojonegoro (beritajatim.com) – Proses pembangunan proyek strategis nasional (PSN) Bendung Gerak Karangnongko mulai memasuki tahap pengukuran lahan milik warga yang terdampak. Terutama lahan terdampak di Desa Kalangan Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro.
Kepala Desa Kalangan Kasmani mengatakan, proses pengukuran lahan milik warga terdampak sudah berjalan sekitar 140 bidang. Jumlah tersebut dari total lahan warga yang terdampak sebanyak 300 bidang lebih. Dari sekitar 140 bidang yang sudah diukur itu oleh tim akan diumumkan kepada warga.
“Pada tanggal 24-25 Juli sudah pasang pengumuman tapi ditolak. Tuntutannya seluruh bidang harus diselesaikan dulu pengukurannya baru diumumkan,” ujarnya, Minggu (13/08/2023).
Baca Juga: Kisah Bayi Kembar Siam Jalani Pemisahan di RSSA Malang
Satgas B yang dibentuk BPN untuk melakukan pengukuran itu sesuai target harus selesai dan diumumkan pada 11 Agustus. Setelah selesai, pengumuman hasil pengukuran tinggal ditandatangani oleh pemerintah desa setempat.
“Sempat diminta untuk menandatangani hasil pengukuran, tapi saya tolak karena belum semua diukur,” jelasnya.
Penolakan hasil pengukuran itu akan terus dilakukan jika tuntutan warga belum terpenuhi. Pemerintah desa antisipasi jika sebanyak 140 bidang yang sudah diukur itu masuk orang yang nilai appraisal rendah. Sehingga nantinya akan dijadikan dasar untuk menentukan nilai yang lain.
Baca Juga: Konbes IPNU di Pasuruan, Khofifah: Langkah Konkret Menuju Indonesia Emas
“Takutnya kalau 140 orang itu misalnya dalam appraisal hanya disepakati Rp200 ribu, maka itu akan dijadikan dasar untuk menentukan nilai yang lain juga. Harapan warga batas minimal appraisal sebesar Rp600 ribu,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Bendung gerak Karangnongko secara teknis memiliki luas genangan 1.026,55 hektare dengan kapasitas tampung efektif 59,1 juta m3. Diproyeksikan dapat menyuplai air irigasi di kawasan Solo Valley Werken seluas 62.000 hektare. [lus/ian]





