Malang (beritajatim.com) – Muhammad Nur Yusuf Abdullah Munir mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Malang (FT Unisma) sudah diterima bekerja sebelum ia lulus kuliah. Tidak tanggung, Yusuf bekerja di perusahaan PT. Bahari Nusantara yang bergerak bidang alutsista.
Di sana ia menjadi staf engineering yang ikut memproduksi berbagai alutsista seperti bom latih, bom tajam, bom latih standar NATO, smoke, live, rudal petir, hingga drone target bermesin jet jalak. Mahasiswa jurusan teknik mesin ini mengaku sudah menekuni dunia permesinan sejak duduk di bangku SMK.
“Awalnya saat lulus SMK, saya coba mencari pekerjaan. Namun, saat itu, keluarga mendorong saya untuk kuliah. Akhirnya, saya kuliah dulu, kemudian, di tengah perkuliahan, saya mendapatkan panggilan dari tempat saya bekerja saat ini (PT. Sari Bahari),” ujar Yusuf saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu (09/10/2023).
Ia menambahkan bahwa saat itu, dirinya tidak ingin mengabaikan rezeki yang sudah diberikan Allah Swt kepadanya. “Saya datangi juga panggilan kerja itu, akhirnya saya diterima bekerja. Kemudian, saya jalankan aktivitas bekerja sambil menyelesaikan studi yang belum selesai,” ujar alumni pria berusia 26 tersebut.
Yusuf menjelaskan bahwa PT. Sari Bahari adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan. Perusahaan ini telah mendapat izin dari kementerian pertahanan untuk memproduksi alutsista.
BACA JUGA:
FEB Unisma Sambut Studi Banding dari Tax Center FEB UM
“Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan swasta bidang pertahanan. PT Sari Bahari memproduksi alutsista atau senjata untuk pesawat-pesawat yang digunakan TNI AU seperti bom, roket, peluncur Roket, dan lainnya,” jelas pria asli Malang di Jalan Ikan Tombro tersebut.
Yusuf menambahkan bahwa manajemen waktu dan keterbukaan dalam menjalankan aktivitas bekerja sembari kuliah itu penting. Meski begitu, panjang menjalani kedua aktivitas dia mengaku ada kendala dalam manajemen waktu.
“Saya harus bisa memberi pemahaman kepada tempat saya bekerja dan di Universitas bahwa saya bekerja. Beruntung kedua belah pihak ini saling mengerti.Manajemen waktu harus sangat dinamis,” kata Yusuf.
BACA JUGA:
Rektor Unisma Lepas 1023 Kandidat Sarjana Mengabdi
“Alhamdulillah perusahaan masih memberi kelonggaran. Saat saya izin kuliah juga diberi kelonggaran ketika ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal. Kampus memberi kelonggaran,” lanjutnya.
Bagi mahasiswa yang kuliah sembari kerja di berpesan agar dapat mengimbangi keduanya. Pekerjaan adalah rezeki, kemudian kuliah itu adalah kebutuhan untuk menunjang karir pekerjaan.
“Jadi manajemen waktunya harus diatur secara baik. Kemudian banyak komunikasi dan terbuka kepada Universitas maupun pihak perusahaan. Kita harus bisa membangun komunikasi yang baik agar kebutuhan bisa seimbang baik di kampus maupun tempat bekerja,” sambung Yusuf.

Untuk tugas akhir, Yusuf menyusun topik terkait satu part dari produk di PT Bahari. Dia merasa banyak ilmu yang diperoleh dari Unisma dapat diterapkan dalam pekerjaannya.
Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si menjelaskan bahwa kuliah di Unisma bukan hanya mendapat ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga mendapat spirit dari para kyai. Spirit itu berupa ketekunan , kejujuran, ikhlas, dan membangun kebersamaan sehingga mampu membaca peluang dan beradaptasi dimanapun berada.
“Itu merupakan prestasi luar biasa, tidak cukup di situ tapi terus akan dikembangkan talenta baru di Unisma ini. Di Unisma ada Rumah Kreativitas Mahasiswa, Rumah budaya dan peradaban, kelas branding, kelas profesional, entrepreneur generasi emas, itulah yang membuat mahasiswa Unisma mempunyai talenta beragam, termasuk mahasiswa yang sudah bekerja di perusahaan alutsista sebelum lulus,” ungkap Prof Maskuri kepada media. [dan/but]






