Blitar (beritajatim.com) – Candi Gambar Wetan yang merupakan candi penyimpan cerita Panji terlengkap di Desa Sumbersari, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar akan dipugar. Candi yang diyakini para sejarawan dibangun era Raja Hayam Wuruk yang memerintah Kerajaan Majapahit itu relief cerita panji paling lengkap se-Nusantara.
Untuk mengungkap cerita tersebut, kini candi yang berdiri di lahan seluas 6.600 meter itupun akan dilakukan pemugaran oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur wilayah XI. Sebelum dilakukan pemugaran, tim arkeolog terlebih dahulu meneliti dan menyiapkan data sejarah candi yang tersisa.
Dalam tahap awal pemugaran atau rekontruksi bangunan candi ini, tim arkeolog akan fokus pada bagian dua yang berada di sisi paling utara. Nantinya bagian candi yang telah hilang akan diganti dengan material yang mirip dengan aslinya.
“Jadi cara renovasi candi itu tidak semudah apa yang kita kira, tapi sejauh ini para sejarawan sudah menemukan ternyata yang luar biasa di Gambar Wetan disana itu relief cerita panji paling lengkap insyaallah itu relief paling lengkap se nusantara,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso, Rabu (9/8/2023).
Cerita Panji terdiri dari sekumpulan kisah berkisar pada, atau memiliki keterkaitan dengan, dua tokoh utamanya, yaitu Raden Panji Inu Kertapati (atau Kudawaningpati atau Asmarabangun), seorang pangeran dari Kerajaan Janggala, dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana), seorang putri dari kerajaan Kediri. Kedua bangsawan tersebut saling mencinta dan cerita-cerita seringkali berakhir dengan persatuan cinta. Cerita-cerita tersebut saling berdiri sendiri dan banyak versi.
BACA JUGA:
Warga Modo Lamongan Temukan Batu Bata Kuno, Diduga Struktur Candi?
Menurut arkeolog Agus Aris Munandar, cerita Panji merupakan kisah nasional Majapahit. kKarena seringnya cerita itu digambarkan di relief candi.
Sejumlah candi seperti Penataran pun juga menyimpan relief cerita panji. kini di candi Gambar Wetan juga diyakini menyimpan cerita relief paling lengkap dari cerita panji.
“Jadi nanti itu sudah disahkan oleh penelitian kami punya branding baru lagi bahwa pusatnya cerita panji ada di tanah Blitar dan itu di Gambar Wetan,” tutupnya.

Candi Gambar Wetan sendiri merupakan bangunan peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di kaki gunung Kelud. Laporan pertama mengenai candi ini dibuat oleh R.D.M Verbeek dari Jawatan Kepurbakalaan Hindia Belanda pada tahun 1890. Kemudian N.J. Kroom melaporkan bahwa ada dua arca yang memiliki angka tahun, yang pertama bertanda 1332 (Saka, atau 1410 M) dan yang kedua berangka tahun 1360 (1438 M).
Candi Gambar Wetan ini terdiri dari tiga halaman yang sejajar ke belakang seperti candi Penataran yang juga merupakan peninggalan Majapahit. Posisi halaman candi pun mengikuti kontur tanah yang semakin ke belakang semakin tinggi. Posisi candi induk berada di halaman paling belakang atau halaman ketiga yang posisinya paling tinggi.
Di halaman paling belakang atau halaman ketiga ini terdapat empat bangunan candi yang terdiri atas satu bangunan candi induk dan tiga candi perwara atau candi pendamping. Seluruh bangunan candi yang berada di halaman utama ini berjajar ke samping dengan orientasi arah utara-selatan.
BACA JUGA:
PetirtaanCandi Gedog Blitar Bukti Legenda Joko Pangon Nyata
Candi Gambar Wetan ini dulunya digunakan sebagai tempat pemujaan dewa dan saat ini masih digunakan sebagai tempat acara selamatan oleh penduduk sekitarnya. Letusan gunung Kelud membuat kondisi candi Gambar Wetan ini kini tidak utuh. Maka dari itu Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur wilayah XI akan melakukan rekonstruksi atau pemugaran secara bertahap yang ditargetkan selesai dalam 5 tahun.
Namun untuk tahap pertama ini Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur wilayah XI hanya akan membugar 1 candi yang berada di paling utara. Tahap awal pemugaran inipun ditargetkan selesai pada bulan Desember mendatang.
“Jadi pemugaran mengikuti data. Rekonstruksi mengikuti data yang ada. Material yang hilang kami ganti dengan batu baru kami sesuaikan ukuran dengan aslinya. Batu yang hilang ada reliefnya kami ganti batu baru tapi tidak ada reliefnya,” ujar Suyono, tim teknis pemugaran candi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur wilayah XI. [owi/beq]






