Sleman (beritajatim.com) – Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membutuhkan insentif mencapai Rp10 miliar untuk penanganan stunting. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 155 anak stunting di Sleman, dengan jumlah tertinggi di Kecamatan Seyegan.
Camat Seyegan Samino menuturkan wilayahnya merupakan satu dari sekian banyak wilayah yang memiliki balita berkasus stunting tertinggi se Kabupaten Sleman. Meski demikian dari 155 anak stunting yang terdata sejak 2021 lalu hingga 3 tahun kedepan pihaknya berhasil menurunkan angka stunting terakhir di 2023 ini sebesar 6,9 persen.
“Penurunan angka stunting selama 3 tahun terakhir ini terus menerus dilakukan sejak 2021 penurunan angka stunting di Kecamatan Seyegan sebesar 8,1 persen, selanjutnya di 2022 kemarin turun jadi 7,5 persen dan terbaru di 2023 ini turun lagi jadi 6,9 persen,” beber Samino.
Ditanya tips dan usaha keberhasilan penurunan stunting, Samino menuturkan Kecamatan Seyegan melakukan memetakan data stunting berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Hal ini dilakukan untuk menentukan pendekatan yang tepat dalam mengentaskan stunting.
“Di Kecamatan Seyegan ada Gerakan Jumat Berkah Bantu Stunting yang diwujudkan dalam bentuk infaq. Dari laporan terakhir di Hari Jumat pekan pertama Agustus, dana terkumpul mencapai Rp1,7 juta. Nantinya, hasil gerakan ini akan dimanfaatkan untuk membantu anak stunting khususnya dari kekuarga kurang mampu,” papar Samino.
BACA JUGA:
Cara IKA Unair Sidoarjo Tekan Angka Stunting Balita
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menambahkan Pemerintah Kabupaten Sleman juga telah menerima intensif fiskal dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri sebesar Rp10,02 miliar. Pemanfaatan intensif tersebut salah satunya akan diarahkan dalam upaya penurunan angka stunting.
Kustini mengimbau, agar para kader turut mensosialisasikan pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Hal ini termasuk dengan melakukan pengawasan kesehatan kepada remaja putri dan calon pengantin.
Dia menyampaikan, upaya untuk memutus rantai stunting tak hanya dilakukan dengan perbaikan gizi anak, namun juga dengan memastikan kesehatan calon orang tua dalam keadaan baik.
Ia mengingatkan stunting tak selalu berkaitan dengan kemiskinan, sebab masih ada keluarga dengan ekonomi baik yang masuk dalam kategori keluarga stunting.
‘Tingkatkan kesadaran dan pemahaman orangtua terhadap kesehatan anak dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan di puskesmas terdekat, dengan begitu stunting dapat dicegah sedini mungkin,” jelas Kustini. [aje/beq]






