Jember (beritajatim.com) – Kelompok Bonek Writers Forum (BWF) menilai kohesivitas tim Persebaya Surabaya lemah. Persebaya memerlukan psikolog untuk mendongkrak mental pemain.
Hanya memetik lima angka dalam lima pertandingan Liga 1 musim 2023-24 menunjukkan ada yang salah dalam Persebaya. BWF khawatir mental pemain Persebaya tengah defisit karena buruknya hasil tersebut.
Moch. Rizky Pratama Putra, pengamat statistik sepak bola Bonek Writers Forum, meminta manajemen mendatangkan tim psikolog untuk menaikkan moral pemain. “Moral pemain bisa jadi hancur ketika terus mengalami tren negatif selama lima pertandingan terakhir,” katanya, Jumat (4/8/2023).
Kukuh Ismoyo, analis taktik Bonek Writers Forum, menyarankan manajemen mengontrak seorang psikolog dalam tim. “Bukan apa-apa, untuk tim yang mencanangkan juara, serta berkiblat pada sepakbola asing, agak aneh juga rasanya tidak punya seorang psikolog,” katanya.
Kukuh menilai, kehadiran psikolog bisa mengungkap suasana hati pemain. “Apakah betul, para pemain Persebaya tertekan? Entah tekanan akan hasil bagus dan juara, ataukah tekanan dari Bonek yang menonton mereka. Itu harus dicari tahu manajemen Persebaya,” katanya.
Dianita Iuschinta, anggota BWF yang juga praktisi psikologi olahraga, menilai kohesivitas tim Persebaya masih lemah. “Ini variabelnya banyak, tentang komunikasi, pembagian peran, keakraban, saling menyayangi, saling memiliki, dalam tim dan lain-lain,” kata alumnus pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya yang menekuni bidang sains psikologi ini.
Indikator lemahnya kohesivitas itu bisa dilihat dari penampilan beberapa pemain terkadang masih bingung memposisikan diri mereka atau memilih opsi arah operan bola. “Bandingkan musim lalu, pemain tanpa tolah-toleh mencari teman dan sudah langsung mengoper bola dan disambut juga oleh teman setim,” kata Dianita.
Kebingungan pemain dalam menentukan peran masing-masing jelas berdampak terhadap kerja sama tim. “Sebagai tim, mereka tentu paham kalau ada satu pemain yang mengalami kesulitan, pemain lain harus membantu. Namun beberapa kali Persebaya kebobolan karena pemain terlambat menutup posisi yang ditinggalkan teman yang maju membantu penyerangan, atau terlambat kembali ke posisi masing-masing,” kata Dianita.
Beruntung penjaga gawang inti dan cadangan Persebaya bermain apik musim ini. “Persebaya beruntung punya kiper-kiper bagus, meski mungkin para kiper ini menggerutu jengkel sendiri melihat penampilan kawan-kawan mereka,” kata perempuan berjilbab ini.
Mengatasi persoalan kohesivitas tim, Dianita memberikan tiga saran. Pertama, manajemen Persebaya sebaiknya mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan permasalahan di tim dan mencari cara mengatasinya bersama-sama. “Kegiatan ini juga bisa digunakan untuk melepas emosi negatif pasca hasil kurang memuaskan beberapa pertandingan terakhir,” katanya.
Kedua, lebih sering mengadakan kegiatan non formal bersama tim. “Misalnya makan bersama, nonton film bersama, analisis video permainan lawan bersama, atau mengatur pemain yang berposisi sama atau mirip dalam satu kamar supaya dapat berdiskusi dan semakin akrab,” kata Dianita.
Terakhir, Diantia menyarankan Persebaya membuat sistem atau peraturan khusus mengenai peran para pemain, supaya mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
“Contoh ketika ada satu dua pemain terlambat mengikuti makan bersama, maka satu tim tidak boleh makan terebih dulu. Atau ketika ada satu pemain yg terlambat datang latihan, maka satu tim diberi hukuman entah joging keliling lapangan atau yang lain,” kata Dianita.
Bonek Writers Forum berharap manajemen dan pelatih Persebaya mau mendengarkan kritik, jika tetap ingin berada di jalur juara. “Jika tidak akan ada badai demotivasi pemain dan suporter yang justru akan banyak merugikan Persebaya secara keseluruhan,” kata Rizky. [wir]






