Lamongan (beritajatim.com) – Kasus keracunan massal di Desa Truni, Kecamatan Babat, Polisi melakukan uji sampel air dan makanan di laboratorium. Uji tersebut untuk mengetahui penyebab warga Desa Truni bisa mengalami keracunan.
Diketahui, dari 34 korban keracunan massal di Desa Truni, saat ini tinggal tiga pasien yang masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Sebagian besar dari mereka sudah diperbolehkan pulang.
Kepala Desa Truni, Martono menyebut, sebagian besar pasien yang menjadi korban keracunan saat menyantap makanan di acara hajatan sudah diperbolehkan pulang. Mereka masih menjalani rawat jalan.
“Iya, Alhamdulillah sebagian besar pasien kondisinya sudah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Tinggal 3 orang yang masih menjalani rawat inap,” ujar Martono saat dikonfirmasi, Rabu (1/8/2023).
Sementara, Kapolsek Babat, Kompol Ali Kanta menyampaikan, paska-peristiwa keracunan massal yang terjadi di Desa Truni, petugas kepolisian segera mendatangi rumah Wahyudi selaku warga yang menggelar hajatan “Walimatut Tasmiyah” tersebut.
BACA JUGA:
34 Warga Babat Lamongan Keracunan Massal
Bahkan, sambung Ali, petugas kepolisian juga telah mengambil sampel air di tandon rumah yang diduga menjadi penyebab keracunan massal. Sampel tulah yang nantinya akan diuji di laboratorium.
Menurut Ali, tandon yang berisi air dari sumur tersebut terlihat kotor serta berlumut. Diperkirakan, tandon air itu sudah sekitar 6 bulan tidak dibersihkan.
“Kami telah mengambil sampel dari tandon air yang diduga menjadi penyebab dugaan keracunan massal yang ada di rumah warga yang menggelar acara hajatan,” terang Ali Kanta.
Kompol Ali juga menuturkan bahwa Petugas bersama tim medis setempat telah menggelar penyidikan di sumur yang diduga menjadi penyebab keracunan itu.
BACA JUGA:
Pasien Keracunan Massal Kalilom Surabaya Tinggal 19 Orang
“Diduga air di tandon itu yang digunakan untuk memasak dan membersihkan bahan-bahan untuk dijadikan hajatan tersebut,” bebernya.
Lebih lanjut, Kompol Ali berkata, sampel air dan makanan itu kini sudah diamankan dan dikirimkan ke Laboratorium Forensik Surabaya untuk diteliti. Akan tetapi, hasilnya hingga saat ini belum keluar.
“Belum keluar hasil laboratoriumnya,” tandasnya.
Seperti diberitakan beritajatim.com sebelumnya, terdapat 34 warga di Lamongan yang diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi makanan saat hajatan, di Desa Truni, Kecamatan Babat, pada Jumat (28/7/2023)
Mereka mengalami gejala berupa kepala sakit, mual dan muntah-muntah, badan panas serta laiNnya. Warga yang diduga keracunan itu terus bertambah dan segera dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas sejak Sabtu (29/7/2023). [riq/beq]






