Surabaya (beritajatim.com) – Divaldo Da Silva Teixeira Alves ternyata belum bisa melepas memori indahnya dengan Persebaya Surabaya. Pelatih asal Portugal itu masih memperhatikan perkembangan Persebaya, setelah tak lagi melatih Persik Kediri.
“Persebaya adalah klub yang istimewa sekali. Kota Surabaya top. Saya dan keluarga dulu senang dan bahagia,” kata Divaldo, bercerita soal pengalamannya melatih Persebaya dalam kompetisi Liga Primer Indonesia pada 17 April 2011 – 8 Agustus 2012.
Di tengah krisis konflik sepak bola nasional, Divaldo berhasil melekatkan identitas sepak bola menyerang tiki-taka pada Persebaya (1927). Di bawah asuhannya, Persebaya menjuarai Unity Cup setelah mengalahkan klub Malaysia, Kelantan, 3-2, Rabu (28/12/2011) di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya.
Persebaya menjadi juara dengan agregat gol 4-3, setelah pada putaran pertama di Kelantan berhasil menahan imbang tuan rumah 1-1. Ini gelar pertama Persebaya sejak menjuarai kompetisi Divisi I pada 2006.
Pertandingan lain yang dikenang Bonek adalah eksibisi internasional Persebaya melawan Queens Park Rangers di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (23/7.2012) malam. Skuat Bajul Ijo memang kalah 1-2. Satu-satunya gol dicetak Fernando Soler pada menit 17. Namun hari itu Persebaya berhasil menandingi permainan klub Liga Primer Inggris yang dalam lawatan sebelumnya di Malaysia berhasil menggunduli Sabah Select XI 5-0.
Divaldo tidak mau banyak menanggapi soal performa Persebaya awal musim 2023-24 yang terpuruk hingga pekan keempat. “Saya berharap Persebaya bisa mengalahkan Persija di Jakarta pada pertandingan berikutnya seperti Bonek yang mendukung klubnya sampai mati,” katanya kepada beritajatim.com, Selasa (25/7/2023).
BACA JUGA
Masa Depan Aji Santoso di Persebaya Bakal Ditentukan Usai Kontra Persija
Setelah tak melatih Persik, Divaldo sempat ditawari melatih sebuah klub Inggris. “Tapi negosiasinya gagal karena klub itu sedang dalam proses merger,” katanya.
Divaldo siap kembali melatih di Indonesia jika ada klub yang benar-benar punya kekuatan finansial dan keinginan kuat untuk berprestasi. “Saya cari klub yang punya fasilitas top dan semua aspek top, karena saya punya ambisi tinggi. Itu karakter saya. Tapi saat ini semua klub di Indonesia punya pelatih,” katanya. [wir]






