Bojonegoro (beritajatim.com) – Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah menyatakan bahwa merger 13 lembaga sekolah dasar negeri (SDN) selama tahun ajaran 2023-2024 sudah final. Sehingga pihaknya berharap, wali murid bisa mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, Minggu (23/07/2033).
“Ini sudah keputusan final, jadi mohon kepada masyarakat membantu anaknya dibawa ke sekolah. Kasihan anak kalau dibawa kesana-kemari. Saya yakin anaknya pasti mau bersekolah di sekolah yang dimerger,” ujarnya usai berkunjung di DPRD Bojonegoro, kemarin.
Pertimbangan melakukan merger itu, kata Bupati Anna, karena rasio guru belum terpenuhi. Sehingga mempengaruhi kualitas pendidikan. Dalam satu sekolah dasar, minimal ada enam guru kelas, satu guru penjaskes, satu guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan seorang kepala sekolah.
Selain kekurangan guru dalam sekolah yang dimerger itu juga mengalami kekurangan murid. Kemudian, jarak jangkau wilayah juga menjadi pertimbangan. Dalam satu desa, misalnya di Sumberrejo, ada tiga sekolah dasar. Sehingga layak dimerger untuk peningkatan mutu pendidikan.
“Merger ini sudah melalui analisa berkaitan dengan beberapa kriteria yang dilakukan tahun lalu. Sosialisasi juga dilakukan dengan penataan guru, seperti penugasan di sekolah baru. Kalaupun dari segi sarana dan prasarana yang masih kurang ke depan akan kita benahi,” jelasnya.
Menurut Bupati yang juga sebagai Ketua DPC PKB Bojonegoro itu, Pemkab Bojonegoro sangat mendukung dengan kemajuan pendidikan di Bojonegoro. Pada tahun 2023 pihaknya telah mengajukan formasi PPPK Guru dengan jumlah 1.894 dan sudah mendapat persetujuan kementerian. Secara keseluruhan, kekurangan guru PPPK di Bojonegoro sendiri ada sekitar 4.039 guru.
“Formasi yang banyak dibuka nantinya untuk guru Penjaskes dan PAI yang kondisinya sekarang masih kurang. Kurangnya rasio guru ini berpengaruh pada kualitas pendidikan berkurang. Karena satu guru bisa mengajar lebih dari satu kelas,” terangnya.
Untuk itu, pihaknya berharap kepada masyarakat untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Pihaknya juga meminta agar wali murid tidak mengeksploitasi anak.
“Janganlah anak-anak ini di eksploitasi, kasihan. Sesuai informasi yang saya dapat, apa yang membuat nyaman anak-anak ini karena ada kantin dan tempat lagu-lagu, justru ini yang membuat lingkungan tidak sehat,” pungkasnya.
Untuk diketahui, dari 13 sekolah yang dimerger dalam tahun ajaran 2023-2024 ada dua sekolah yang orang tua murid menolak. Yakni SDN 3 Sumberrejo yang dimerger ke SDN 2 Sumberrejo, Kecamatan Sumberrejo, dan SDN 1 Megale yang dimerger ke SDN 2 Megale Kecamatan Kedungadem. [lus/kun]
BACA JUGA:






