Pasuruan (beritajatim.com) – Produksi garam di Kota Pasuruan terus merosot. Kondisi ini setidaknya terjadi dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Penurunan kapasitas produksi ini dipicu salah satunya kondisi cuaca yang tidak menentu. Kurangnya panas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat produksi garam kurang maksimal.
Petani garam asal Kelurahan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Mustain (43) menuturkan, produksi garam yang dilakukannya masih menggunakan tehnik manual. Sehingga sangat bergantung pada panas matahari.
Jika cuaca normal, Mustain mengaku sekali panen bisa mendapatkan empat hingga lima ton garam laut dari satu petam lahan. Tetapi akibat cuaca yang tidak, dia hanya memanen dua hingga tiga ton.
“Prosesnya masih menggantungkan panas matahari, jadi kalau musim kemarau tapi sering mendung hasilnya juga menurun. Kalau sudah seperti itu, sekali panen hanya bisa mengangkut garam dua hingga tiga ton saja,” kata Mustain.
BACA JUGA:
Disabilitas Kota Pasuruan Diberdayakan dalam Rehat
Meski produksi merosot, harga garam di pasaran tidak anjlok. Hal ini membuat Mustain bertahan dengan terus memproduksi garam laut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arif mengakui terjadinya penurunan hasil panen garam. Mualif mengatakan selama empat tahun belakangan produksi garam terus menurun.
Menurut data 2019, petani garam di Kota Pasuruan bisa memanen 10.044 ton pertahun. Namun pada 2020 kemarin, hasil panen garam mengalami penurunan di angka 6.668 ton per tahunnya.
BACA JUGA:
DPRD Kabupaten Pasuruan Akan Usulkan 3 Nama Pj Bupati
Penurunan produksi garam berlanjut pada 2021. Saat itu, panen garam hanya setengah dari produksi tahun lalu, yakni 3.317 ton.
Sementara di 2022, produksi garam di Kota Pasuruan tak mencapai 1.000 ton. Hanya berada di angka 982 ton per tahun.
“Penyebab utamanya ya karena cuaca yang tak menentu. Sedangkan petani garam di Kota Pasuruan masih mengandalkan panas matahari dalam melakukan produksi garam,” jelas Mualif. [ada/beq]






