Surabaya (beritajatim.com) – ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya menggagas perangkat pengawasan emisi kapal berbasis Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) dan Internet of Things (IoT).
Gagasan ini menyusul padatnya pelayaran di Indonesia hingga menyebabkan tingginya emisi gas buang kapal yang dihasilkan. Di sisi lain, ada regulasi International Maritime Organization (IMO) yang menetapkan jumlah maksimum emisi sebuah kapal.
“Emisi tersebut meliputi SOx, NOx, COx, dan Particulate Matter (PM),” jelas salah satu anggota tim dosen, Muhammad Riduwan ditulis Selasa (18/7/2023).
Pun saat ini Indonesia juga belum memiliki sistem dan peralatan untuk memantau emisi gas buang kapal laut di udara. Karena itu, muncul gagasan perangkat pengawasan emisi kapal di area pelabuhan berbasis PUTA dan IoT ini.
Riduwan menyebut, kolaborasi PUTA dan IoT menjadikan gagasan ini sebagai solusi yang efektif dan efisien. Sebab, penggunaan PUTA bisa dikendalikan lewat sistem kontrol remote dari smartphone maupun komputer.
Sehingga, lanjut Riduwan, hanya dibutuhkan sistem perangkat lunak untuk memantau emisi kapal di daerah pelabuhan. “Dengan PUTA, sistem kontrol diwujudkan melalui website controlling yang akan menyajikan data secara realtime emisi yang dihasilkan kapal,” bebernya.
Baca Juga: ITS Surabaya Kembangkan Aplikasi Belajar Huruf Hijaiyah Pakai AI
Ia menambahkan, cara kerja yang dilakukan sistem ini yakni PUTA yang diterbangkan di daerah pelabuhan, dipasangkan empat sensor untuk mendeteksi masing-masing emisi baik SOx, NOx, COx, maupun PM.
Lalu, pemantauan gas yang terdeteksi oleh PUTA dapat dilihat secara realtime melalui website yang dikembangkan oleh tim dosen ITS. “Di website akan ditampilkan kadar emisi yang dihasilkan kapal dan akan terpantau kualitasnya apakah sesuai dengan regulasi IMO atau tidak,” jelas Riduwan.
Rencananya, inovasi yang masih dalam tahap pengembangan ini akan diuji coba pertama di salah satu pelabuhan di daerah Bangkalan, Madura. “Melalui inovasi ini juga diharapkan tujuan yang dimaksud bisa tercapai dan bisa dimanfaatkan oleh pihak pemerintah dengan baik sebagai solusi NZE 2050,” harapnya.
Polusi udara saat ini tak serta merta berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor maupun pabrik industri. Namun, emisi gas buang dari kapal laut juga termasuk di dalamnya. [ipl/ted]






