Mungkin hanya di Paris, syak wasangka yang tak ramah dan mitos tentang romansa bisa berdampingan menampik mereka yang dianggap berbeda seperti Wowok Meirianto.
Wowok datang pada suatu hari yang dingin di Paris bersama keluarganya untuk mengikuti sebuah pelatihan kerja. Cuaca Paris yang tak bersahabat untuk orang dari negara tropis rupanya membuat anak sulungnya tak enak badan.
Wowok berharap bisa membeli sepotong scarf tebal di sebuah toko untuk anaknya. Namun hari itu dia melihat ironi yang menjadi bopeng di wajah Paris. Si penjaga toko dengan wajah tak enak dilihat mengusirnya pergi, bahkan sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya.
“No no no…No French, no…”
Dalam buku memoarnya, Wowok mengatakan, jauh-jauh hari sudah mendapat cerita dari seorang kawan tentang Paris yang tak ramah terhadap orang asing. Namun dia sama sekali tak mengira, bahkan sekadar basa-basi pun tak ubahnya privelese di kota ini.
Paris adalah kontradiksi wajah slogan liberte, egalite, fraternite yang diwariskan Revolusi Prancis. Jean-Marie Le Pen mendirikan Front Nasional, dan ide-ide xenophobia membuat Athos, Porthos, dan Aramis seperti sekumpulan pelawak tak lucu dengan ocehan ‘satu untuk semua, semua untuk satu’.
Semula Front Nasional hanya didukung 0,74 persen dalam pemilu. Namun pada 1988, dukungan naik menjadi 14 persen, dan pada saat Wowok menginjakkan kaki di Paris, pendukung Le Pen sudah meningkat jadi 15 persen.
Mungkin pemilik toko itu adalah pendukung gagasan Front Nasional. Entahlah. Siapa tahu. Namun pada dasarnya, manusia memang cenderung takut pada apa yang tidak dipahaminya. Ketidaksukaan pemilik toko itu kepada Wowok adalah bentuk kecemasan terhadap apa yang asing dan tidak dimengerti.
Andrew Hussey dalam buku Paris: The Secret History mengatakan, orang-orang Paris (Parisian) bukanlah sekumpulan kaum sentimental. Ada syak wasangka bahwa mereka adalah sekelompok orang yang selera humornya tidak lucu dan senang melawan negara.
Sejarah paris bukan sejarah Si Bongkok dari Notre-Dame hasil rekaan Victor Hugo. Sejarah Paris belepotan darah, termasuk hari ini, saat Nahel, seorang remaja berusia 17 tahun keturunan Maroko, mati dengan peluru menembus lengan kiri dan dadanya. Polisi membedilnya.
Ide romantisme Paris hanya bergema di dinding-dinding batu yang memantik mitos kisah asmara dan romansa. “One of the cornerstones of the mythology of Paris is the notion that the city’s architecture makes an ideal décor for a love story,” kata Hussey.
Salah satunya Notre-Dame de Paris. Our Lady of Paris. Katedral Katolik ini dibangun oleh Uskup Maurice de Sully pada 1163 dan diselesaikan pada 1260. Bergaya arsitektur Gothik, katedral yang dibangun untuk menghormati Bunda Maria ini terletak di 6 Parvis Notre-Dame – Pl. Jean-Paul II, 75004 Paris.
Sebelum Notre-Dame berdiri, Paris tidak memiliki katedral besar. Hal ini dikeluhkan Maurice de Sully. Tanpa katedral, Paris tak akan diperhitungkan sebagai pusat keagamaan sebagaimana kota-kota besar lainnya. Apalagi orang-orang Paris menganggap diri mereka sebagai rival Roma yang mendominasi Eropa. Jadi sebuah katedral adalah penanda eksistensi.
Namun novel sastrawan Victor Hugo menunjukkan bahwa Notre-Dame bukan hanya urusan eksistensi, namun juga ironi. Katedral ini dibangun di tengah wilayah yang hiruk-pikuk dengan pelacur, pengemis, dan pencuri. Epidemi kolera melanda. Kematian di mana-mana. Mayat mulai membusuk. Namun, berabad-abad kemudian, Notre-Dame menjadi kebanggaan warga Paris. Eropa memperbincangkan dan memperhitungkannya.
Sully tak bisa menyaksikan pembangunan katedral tersebut tuntas. Chairil Anwar memang selalu bilang ingin hidup seribu tahun lagi. Namun dua abad masa pembangunan sebuah katedral tak akan pernah bisa disamai usia manusia modern. Sully hanya bisa menyaksikan altar berdiri megah sebelum mengembuskan nafas terakhir.
Interpretasi terhadap Notre-Dame mewakili kompleksitas wajah Prancis, sebagaimana dikatakan penyair Alain Jouffroy kepada Andrew Hussey. “The building was or is, depending on your vantage point in history, a symbol of hope, an emblem of transcendence, the home of the torturers of the Inquisition, a base for pilgrims, a temple of Reason, a shelter for magicians or the church of emperors.”
Bisa jadi juga, menurut Jouffroy, Notre-Dame adalah sebuah perangkap turis. “It was all just a point of view,” katanya.
Entah apa yang dimaksud Jouffroy dengan perangkap turis. Namun kehadiran Notre-Dame memang bisa membuat orang asing seperti Wowok, seorang Asia, berkulit sawo matang, terpukau memandang Paris sebagai sebuah tempat kebajikan. Setidaknya sampai dia masuk ke dalam toko itu.
Dari sini kita tahu, kompleksitas dan kemajemukan memang tak mudah untuk ditangani. Mungkin ada baiknya slogan itu dikoreksi menjadi liberte, egalite, fraternite, cliche. Apa yang diyakini dan terus-menerus diulang bagai citra sebuah klise foto itu telah terbukti gagal. Atau bahkan mungkin sekadar jadi mitos kosong. Setelah Wowok harus menelan kekecewaan di sebuah toko, dan Prancis terbakar amarah karena seorang bocah lelaki mati di jalanan.
C’est la vie. [wir]
Keterangan:
Sebagian isi esai ini diambil dari dari buku Kembali Ke Desa: Pengalaman Hidup Inspiratif Wowok Meirianto, karya Oryza A. Wirawan, terbitan Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia), tahun 2021.






