Terakhir kali memenangkan pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim tahun 2003. Saat itu pilgub berlangsung secara tak langsung. Cagub dan cawagub dipilih DPRD Jatim. Jago PDIP Jatim adalah Mayjen Purn Imam Utomo Suparno dengan wakilnya Dr Soenarjo (mantan Sekdaprov Jatim).
Pilgub Jatim 2008 digelar dengan model demokrasi langsung. One man one vote. Model pilgub langsung juga dihelat di tahun 2013 dan 2018. Pilgub Jatim 2008, PDIP menjagokan Soetjipto (kader tulen dan mantan Sekjen DPP PDIP) berpasangan dengan Ridwan Hisjam. Hasilnya, pasangan ini kalah di putaran pertama.
Pilgub Jatim 2013, PDIP mendukung dan mengusung Bambang DH dan Said Abdullah. Pasangan ini juga kalah atas duet Soekarwo dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Pilgub Jatim 2018, partai berlambang kepala banteng ini mengusung Saifullah Yusuf dan Putri Guntur. Hasilnya, kalah atas duet Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak.
Menghadapi pilgub Jatim 2024, PDIP memiliki harapan besar memenangkan kontestasi politik ini. Maklum ini telah berhasil memenangkan pileg 2019 di Jatim. Ini pertama kali PDIP menang di Jatim. Sejak model pilgub langsung dihelat, partai yang mengusung kredo politik Nasionalis Soekarnoisme belum pernah sekali pun menang.
Padahal, Jatim merupakan ‘rumah sejarah politik’ penting bagi PDIP. Di Jatim tempat Soekarno lahir. Soekarno digembleng awal sebagai calon pemimpin bangsa oleh HOS Tjokroaminoto, dan Bung Karno dimakamkan sepeninggalnya di tahun 1970 di Kota Blitar.

Belum ditentukan dan diputuskan siapa figur kandidat cagub atau cawagub yang bakal diusung PDIP di pilgub Jatim 2024. Ada sosok politikus perempuan. Ada figur pemimpin politik muda, dan lainnya. Baru kisi-kisi politik yang disampaikan elite partai ini. Jatim menjadi tlatah politik strategis bagi PDIP dan banyak partai lainnya.
Pilgub Jatim secara langsung pertama dihelat pada 2008/2009. Kontestasi politik ini berlangsung tiga putaran dan menghasilkan Soekarwo dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai pemenang. Jago PDIP, Soetjipto dan Ridwan Hisyam, kandas di putaran pertama.
Pada pilgub Jatim 2013, formula kader tulen dikandidasikan PDIP. Bambang DH, politikus lawas PDIP dan dikenal sebagai kader ideologis dan pernah dua kali menjabat wali kota Surabaya ditandemkan dengan Said Abdullah, kader tulen partai ini dari Kabupaten Sumenep Madura.
Ternyata, formula kader tulen plus kader tulen PDIP tak mampu menggoyahkan duet Nasionalis dari kawasan Mataraman dan Islam Tradisional dari Tapal Kuda (Pakde Karwo dan Gus Ipul) yang berposisi sebagai petahana. Ada empat kandidat yang bertarung dalam kontestasi politik ini. Duet Pakde Karwo dan Gus Ipul yang merepresentasikan kekuatan Nasionalis Abangan dan Islam Tradisional (NU) di Jatim tetap kokoh dan bertahan sebagai gubernur dan wagub Jatim.
Menghadapi pilgub Jatim 2018, PDIP agak mengubah sedikit formula politik background calon yang dijagokan. Gus Ipul, tokoh Islam Tradisional (NU) yang banyak disokong kiai-kiai NU yang duduk di struktural NU, berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno, anak sulung Guntur Soekarno dan keponakan Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDIP.
Puti Guntur saat itu relatif sebagai ‘pemain politik baru’ di Jatim. Kendati duduk di DPR RI, Puti berangkat dari daerah pemilihan kabupaten/kota di Jabar. Duet Gus Ipul dan Puti disokong PDIP, PKB, Partai Gerindra dan PKS.
Duet Islam Tradisional (NU) dan Nasinalis Soekarnois ini belum mampu mengalahkan pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak. Khofifah berlatar belakang sama dengan Gus Ipul: Islam Tradisional. Bedanya, Khofifah dari basis pendukung ibu-ibu di lingkungan NU (Muslimat) dan didukung sejumlah kiai NU yang berada di luar struktur NU.
Barisan kiai kultural NU yang berada di barisan Khofifah dan Emil Dardak di antaranya: KH Solahuddin Wahid (Pondok Tebuireng), KH Asep Syaifuddin Chalim (Pondok Amanatul Ummah), KH Robbach Ma’shoem (Pondok Ihyaul Ulum), dan banyak kiai lainnya.
Barisan kiai-kiai NU yang mendukung pasangan Khofifah dan Emil Dardak bisa dikatakan sebagai Poros Tebuireng. Realitas tersebut merujuk kepada pimpinan Pondok Tebuireng Jombang saat itu, Gus Solah, yang diposisikan sebagai figur penting dan patron politik, sosial, dan rujukan kultural pasangan Khofifah dan Emil serta kiai-kiai NU lainnya.
Terjadi pembelahan dukungan jaringan politik kiai NU di Jatim pada pilgub 2018. Banyak kiai NU, khususnya yang duduk di struktural NU, kiai yang berada dan mendukung pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur, seperti KH Agoes Ali Masyhuri (Pondok Bumi Sholawat), KH Nurul Huda Jazuli (Pondok Ploso), KH Anwar Iskandar (Pondok Al Amin Kediri), KH Farurrozi (Pondok An Nur I Bululawang Malang), dan kiai NU lainnya.
Secara sederhana, poros kiai NU yang merapat ke pasangan ini bisa disebut sebagai Poros Lirboyo, yang merujuk kepada Pondok Lirboyo Kediri sebagai ‘patron’ politik dan kultural penting bagi kiai dan pendukung pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur saat Pilgub Jatim 2018 lalu
Menang di 11 Daerah, Kalah Telak di 6 Daerah
Formula politik pasangan cagub-cawagub Islam Tradisional (NU) dan Nasionalis Soekarnois yang diusung PDIP Jatim di pilgub 2018 belum berbuah manis. Duet Gus Ipul-Puti Guntur menang di 11 kabupaten/kota dan kalah di 26 kabupaten/kota lainnya di Jatim. Bahkan, di enam kabupaten/kota, duet Gus Ipul-Puti Guntur kalah telak.
Calon yang diusung PDIP, PKB, Partai Gerindra, dan PKS ini menang di Kabupaten Bangkalan dengan raihan 271.088 suara berbanding dengan pasangan Khofifah-Emil dengan 261.467 suara. Di Kabupaten Blitar, Gus Ipul-Puti dengan 317.425 suara dan Khofifah-Emil dengan 288.645 suara.
Selanjutnya, di Kabupaten Kediri, Gus Ipul-Puti dengan 407.623 suara dan Khofifah-Emil dengan 388.998 suara. Kota Batu, Gus Ipul-Puti dengan 54.928 suara dan Khofifah-Emil dengan 53.269 suara. Kota Blitar, Gus Ipul-Puti dengan 46.716 suara dan Khofifah-Emil dengan 31.039 suara. Di Kota Madiun, Gus Ipul-Puti dengan 52.972 suara dan Khofifah Emil dengan 50.349 suara. Di Kota Pasuruan, Gus Ipul-Puti menang tipis dengan 45.842 suara dan Khofifah-Emil dengan 45.617 suara.
Kemudian di Kabupaten Madiun, Gus Ipul-Puti meraih 207.733 suara dan Khofifah-Emil dengan 196.671 suara. Kabupaten Magetan, Gus Ipul-Puti dengan 221.650 suara dan Khofifah-Emil dengan 188.727 suara. Di Kabupaten Pasuruan, Gus Ipul-Puti dengan 383.660 suara dan Khofifah-Emil dengan 331.225 suara. Di Kabupaten Situbondo, Gus Ipul-Puti dengan 172.048 suara dan Khofifah-Emil dengan 138.174 suara.
Secara keseluruhan, hasil rekapitulasi suara pilgub Jatim 2018 menempatkan pasangan Khofifah dan Emil tampil sebagai dengan raihan 10.465.218 suara, sedang duet Gus Ipul dan Puti dengan 9.076.014 suara. Selisih perbedaan suara kedua pasangan ini hampir 1,4 juta suara.
Penting dicatat dalam konteks ini adalah ada 6 kabupaten di Jatim yang dimenangkan duet Khofifah-Emil secara telak atas Gus Ipul-Puti. Keenam kabupaten itu adalah: Pacitan, di mana Khofifah-Emil meraih 230.087 suara, sedangkan Gus Ipul-Puti dengan 79.274 suara. Di Kabupaten Pamekasan, Khofifah-Emil dengan 343.494 suara dan Gus Ipul-Puti dengan 136.684 suara. Kabupaten Ponorogo, Khofifah-Emil dengan 287.670 suara dan Gus Ipul-Puti dengan 199.484 suara.
Di Kabupaten Probolinggo, Khofifah-Emil merebut 331.939 suara dan Gus Ipul-Puti dengan 260.066 suara. Di Kabupaten Sidoarjo, Khofifah-Emil dengan 477.746 suara dan Gus Ipul-Puti dengan 377.313 suara. Dan terakhir di Kabupaten Trenggalek, Khofifah-Emil dengan 266.808 suara dan Gus Ipul-Puti dengan 120.118 suara.
Formula Politik Klasik, Siapa Figurnya?
Dari tiga kali pilgub Jatim secara langsung (tahun 2008/2009, 2013, dan 2018) kita bisa mengidentifikasi formula politik untuk memenangkan kontestasi politik ini. Formula politik tersebut bisa dikatakan klasik, karena terbukti validitas dan kebenarannya ketika diaplikasikan dalam praktek kontestasi politik.
Formula politik klasik itu adalah Islam Tradisional (NU) dan Nasionalis. Duet cagub dan cawagub Jatim seyogyanya figur tokoh yang diajukan merepresentasikan komunitas Islam Tradisional (NU) dan kaum Nasionalis di Jatim. Kalau pun formula politik klasik itu kita breakdown-kan di level tlatah budaya politik, maka figur cagub dan cawagub Jatim tersebut seyogyanya figur yang mewakili tlatah budaya politik Tapal Kuda dan Arek dengan figur yang merepresentasikan tlatah budaya politik Mataraman.
Masalahnya: Siapa figur dari PDIP dan mitra koalisinya nanti memenuhi formula politik klasik tersebut? Tak mudah menentukannya. Sekali pun partai ini telah mengantongi sejumlah kepala daerah di kawasan Mataraman, seperti Bupati Kediri Mas Hanindito, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Bupati Trenggalek M Nur Arifin, Wali Kota Blitar M Santoso, Bupati Ngawi Oni Anwar, dan lainnya. Selain itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Bupati Sumenep M Fauzi juga dinominasikan tampil di pilgub Jatim 2014.
Apakah di pilgub Jatim 2024 mendatang, PDIP menyorongkan kader terbaiknya sebagai Jatim 1 atau Jatim 2. Kalau pun formula Islam Tradisional (NU) dan Nasionalis itu dipercaya dan diaplikasikan dalam praktek kontestasi pilgub Jatim 2024 mendatang, siapa kira-kira figur Islam Tradsional yang bakal digandeng partai ini? Sejumlah pertanyaan itu tak mudah dipecahkan dan dijawab. Hal itu menjadi tantangan berat elite PDIP Jatim menghadapi pilgub Jatim 2014 mendatang. [air/but]
BACA JUGA:






