Surabaya (beritajatim.com) – Wajah Islam yang ramah perempuan selama ini kerap tidak terlihat. Narasi yang muncul, Islam kerap diidentikkan sebagai agama yang meminggirkan perempuan.
Padahal, Islam sebenarnya sangat menghargai perempuan. Bahkan menempatkan perempuan pada derajat yang tinggi.
Hal ini tampak secara nyata pada narasi film “Pesantren”. Film dokumenter karya sutradara Salahuddin Siregar ini benar-benar menunjukkan wajah Islam yang selama ini tidak terlihat, yaitu kesetaraan laki-laki dan perempuan.
Film dokumenter garapan Salahuddin ini mengambil latar belakang Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon, Jawa Barat. Menurut Udin, pesantren ini memperlihatkan bagaimana Islam memperlakukan perempuan secara setara.
“Saya tertarik mengangkat kisah ini karena selama ini Islam kan dianggap agama yang tidak ramah perempuan, salah satunya ya, dan menurutku juga bagaimana Islam dilihat dari sudut pandang perempuan, itu juga penting banget,” ujar Udin saat berbincang secara daring dengan beritajatim.com melalui aplikasi Zoom.
Udin mengatakan selama ini pandangan perempuan dalam Islam selalu termarginalkan. Bahkan, banyak kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi dengan menggunakan agama sebagai legitimasi.
“Karena ayat-ayat itu dipakai untuk melegitimasi kekerasan terhadap perempuan,” kata dia.
Dalam penggarapan film ini, Udin menghabiskan total waktu hingga 4 tahun mulai 2015. Namun, Udin lebih banyak menghabiskan waktu untuk riset sebelum proses produksi berjalan. Proses riset dijalankan sendiri oleh Udin. Beberapa kali, Udin tinggal di pesantren tersebut sehingga dia bisa memahami bagaimana kehidupan para santri sehari-hari.
Selama tinggal di pesantren, Udin mengaku diterima secara terbuka. Pun, tidak ada larangan khusus, sehingga Udin bisa mengeksplore kehidupan pesantren dan mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
“Salah satu alasan mengapa memilih pesantren itu juga karena mereka tidak punya kepentingan apapun, tidak ada pesan-pesan yang ini boleh, ini nggak boleh. Jadi tidak ada sensor,” kata dia.
Selama proses penggarapan film ini pula, Udin mengaku lebih memahami bahwa orang yang belajar agama justru menunjukkan cara beragama yang lebih santai. “Justru karena pengetahuan agamanya lebih luas, mereka jadi lebih santai. Tidak suka menghakimi, lebih mudah menerima perbedaan pendapat,” kata dia.
Udin juga menekankan pentingnya riset yang dilakukan secara mendalam. Sebab, dari riset tersebut seorang filmaker atau pembuat film akan memiliki cukup banyak bahan untuk diangkat menjadi cerita.
“Kalau risetnya dalam, kita punya banyak kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan itu yang penting. Jadi filmnya lebih kaya, lebih kompleks. Dengan riset yang dalam, kita lebih memahami subjek kita,” kata dia.
Sebelum diputar di Indonesia, film Pesantren sudah berkeliling ke sejumlah negara. Diputar di sejumlah festival film dokumenter. Hasilnya, film ini mendapat banyak apresiasi dari masyarakat luar negeri lantaran memberikan referensi baru mengenai wajah Islam yang sesungguhnya.
Film ini dinilai memberikan perspektif baru yang mengubah cara pandang masyarakat luar negeri pada Islam. Selama ini, terang Udin, banyak menganggap Islam secara negatif. Terutama soal perempuan melalui gambaran masyarakat di Afghanistan atau Pakistan.
“Buat mereka, ini sesuatu yang baru. Mereka terkesan karena selama ini ternyata mereka tidak mengenal, jadinya salah paham,” kata dia.
Di Indonesia, film Pesantren dapat dinikmati melalui bioskoponline.com. Udin punya alasan tersendiri memilih untuk kerja sama dengan laman tersebut. Menurut Udin, bioskoponline.com bisa membantu promosi secara serius. Sehingga, Pesantren bisa bertemu dengan penontonnya.
BACA JUGA:
Pemain Film Hati Suhita Sambangi Unusa
“Kalau platform lain kan hanya akan menjadi semacam katalog. Ada di website mereka tapi sebenarnya orang tidak tahu juga dan tidak ada yang menonton. Jadi kami lebih memilih ada yang menonton,” kata dia.
Selain itu, menonton di bioskoponline.com sangat mudah. Bisa melalui website atau aplikasi bioskoponline.com dengan tarif hanya Rp15 ribu tanpa harus mendaftar lebih dulu menggunakan email atau nomor ponsel.
Uniknya, film ini juga mengkampanyekan sedekah. Sebagian pendapatan dari hasil tiket akan disalurkan untuk pemberdayaan sejumlah pesantren. Untuk kampanye ini, bioskoponline.com berkolaborasi dengan LAZ Rumah Zakat Indonesia.
“Bioskoponline.com berinisiatif memberikan 20 persen penghasilan dari hasil penjualan tiket ini untuk didistribusikan kepada para santri di beberapa pesantren yang membutuhkan. Nanti yang mendistribusikan bantuan ini adalah Rumah Zakat Indonesia,” kata Udin.
Lebih lanjut, Udin menyatakan film Pesantren sangat perlu disaksikan oleh masyarakat Indonesia. Mengingat, film ini mengetengahkan isu perempuan dan fanatisme dalam berbagai hal, khususnya agama.
“Buatku (menonton film ini) penting supaya kita tidak fanatik terhadap sesuatu. Kalau di Pesantren itu memang diajarkan untuk tidak fanatik terhadap agama,” kata dia. [beq]






