Magetan (beritajatim.com) – Soal Eco Bamboo Park Magetan yang kabarnya bakal menelan anggaran Rp50 miliar, Bupati Magetan Suprawoto membantah informasi itu. Menurut Kang Woto, sapaan akrab Suprawoto, anggaran Rp50 miliar itu hanya versi kajian dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Itupun kalau ada beberapa bangunan yang lain. Tapi, kami sesuaikan. Kami harap tidak ada yang salah paham,” kata Suprawoto pada beritajatim.com, Rabu (28/6/2023).
Pria alumni Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM itu menerangkan, anggaran sebesar Rp50 miliar itu hanya versi berdasarkan kajian UGM. Namun, pada praktiknya, Pemkab Magetan tak akan memakai anggaran sebanyak itu. “Jadi ya hanya memoles jalan masuk ke area yang nantinya bakal jadi Eco Bamboo Park. Sebatas itu yang nilainya wajar,” katanya.
Eco Bamboo Park rencananya bakal dicarikan anggaran dari corporate social responsibility (CSR). Yang mencari bukan Pemkab Magetan, melainkan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK). “Saat ide ini muncul, dan terdengar sampai KLHK, mereka siap mencarikan CSR,” lanjutnya.
Namun, sampai kini, proses untuk mendapatkan CSR masih perlu pembahasan lagi dengan dirjen di KLHK. Sehingga, sampai kini masih belum bisa memastikan perusahaan mana yang bakal mengucurkan dana CSR untuk pembangunan taman bambu tersebut.
Mantan Sekjen Kementerian Kominfo itu mengatakan, urgensi taman bambu adalah untuk konservasi alam. Alasan tutupan lahan hijau yang masih kurang. “Untuk itulah sejak saya jadi bupati menanam itu jadi kebijakan saya. Menikah harus menanam, PNS naik pangkat dan diangkat menanam,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Soal Eco Bamboo Park Magetan, Fraksi Nasdem : Jangan Pakai APBD, Cari Investor Saja
Serta, lulusan S-3 Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya itu memandang beban Gunung Lawu cukup berat karena banyak wisata tujuan pegunungan. Karenanya, dia membuat Kebun Refugia di Plaosan. “Kemudian, di Eco Bamboo Park yang ada di Sukomoro ini. Dalam konsep itulah kemudian kita kerjasama dengan UGM studi Kelayakannya,” lanjutnya.
Konsep itu yang dijualnya, kemudian KLHK tertarik dan Dinas Lingkungan Hidup Magetan diminta presentasi hingga tertarik mencarikan pendanaan CSR.
Pada Agustus nanti, Kang Woto mengklaim jika hanya akan ada penanaman bambu pertama kali di lokasi Eco Bamboo Park. “Bambu dibentuk seperti lorong begitu. Jadi yang pertama nanti menanam dulu. Dan nanti itu berupa taman, bukan hutan,” pungkasnya. [fiq/suf]






