Jember (beritajatim.com) – Pidato Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam puncak peringatan Bulan Bung Karno di Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (24/6/2023), menyebut pentingnya memberikan perhatian kepada masyarakat akar rumput dalam politik dan menyinggung kembali marhaenisme.
Akar rumput adalah sebutan untuk kelompok masyarakat terbawah dalam klasifikasi sosial masyarakat Indonesia. Megawati mencontohkan bagaimana ayahandanya, Soekarno, berpolitik. “Di tangan Bung Karno, politik bergerak ke bawah. Ingat ke bawah, ke siapa? Ke akar rumput. Rakyat itu akar rumput. Karena ini ada rumputnya ditutupi. Kalau dibuka, dia cepat bertumbuh kembali. Jadi rakyat itu, akar rumput itu, tidak bisa dipunahkan,” katanya.
Airlangga Pribadi Kusman, akademisi Universitas Airlangga dan penulis buku ‘Merahnya Ajaran Bung Karno’ menyebut pidato Megawati merupakan langkah yang baik untuk memulai penggalian terhadap gagasan-gagasan Soekarno.
“Saya pikir Bu Megawati dan PDI Perjuangan memberikan starting point untuk menegaskan, menjelaskan, dan mengabarkan kepada rakyat Indonesia bahwa Bung Karno ini bukan semata-mata milik PDI Perjuangan, tapi juga milik Indonesia dan dunia,” kata Airlangga, usai acara diskusi dan bedah bukunya di kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (26/6/2023).
“Bu Mega dalam pidato kemarin sebetulnya menjelaskan secara singkat perjalanan politik dan pemikiran Bung Karno. Mulai dari Marhaen, beliau sampaikan dengan metafora akar rumput. Kemudian berjuang dengan teori perjuangan marhaenisme, isu nasionalisme, isu sosio-demokrasi. Beliau utarakan tentang Pancasila dan selanjutnya beliau tampilkan bahwa (pemikiran Soekarno) ini bukan hanya milik Indonesia. Tapi dalam Konferensi Asia Afrika berhasil menempatkan diri sebagai kekuatan dunia,” kata Airlangga.
Tiga pidato Soekarno, yakni podato di depan Konferensi Asia Afrika 1955, pidato di depan Gerakan Non Blok, dan depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa dinobatkan oleh PBB sebagai warisan dunia. “Sangat dihornati dan diakui kualitasnya. Indionesia sebagai bangsa yang melahirkan Bung Karno sudah seharusnya menegaskan kembali dia sebagau milik bangsa,” kata Airlangga.
Pidato Megawat penting sebagai titik awal menggali pemikiran Soekaeno.Pemerintahan Jokowi sudah melakukan ikhtiar dengan menjadikan bulan Juni sebagai Bulan Bung Karno dan menempatkan kembali fakta sejarah bahwa 1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila. “Itu capaian. Tapi warisan desoekarnoisasi kuat dan bukan hal mudah untuk meyakinkan rakyat Indonesia tentang urgensi menampilkan kembali gagasan Soekarno,” kata doktor lulusan Australia ini.
“Pada fase ke depan saya pikir harus diteruskan dengan penggalian terhadap gagasan-gagasan Soekarno secara sistematik dan intelektual, memahami betul kekuatannya di mana,” kata Airlangga.
Saat ini adalah momentum yang tepat untuk menggali pikiran-pikiran Bung Karno. “Ketika apresiasi terhadap gagasan Soekarno sudah mulai terbuka, maka ini menjadi hal penting. Kenapa? Karena kita tidak bisa memberikan edukasi dan pedagogi Pancasila dengan baik ketika gagasan Soekarno tidak digali,” kata Airlangga.
“Kita tak bisa menjelaskan Pancasila dengan meninggalkan kekuatan pikiran Soekarno. Oleh karena itu menjadi relevan apabila kita hendak menjaga dan merawat Republik Indonesia dan Pancasila, maka tampilkan kembali gagasan-gagasan Soekarno yang membentuk Pancasila ini dalam ruang publik secara bebas dan merdeka, dalam tradisi diskusi dan perdebatan yang memiliki kekuatan intelektual yang bagus,” kata Airlangga.
Mantan pegiat Himpunan Mahasiswa Islam ini menilai, cara mengembalikan tradisi politik dan intelektual pendirian Republik Indonesia adalah dengan memahami dan mempelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno dan para pendiri negara lainnya. [wir]






