Jember (beritajatim.com) – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, prihatin dengan meninggalnya seorang ibu karena gantung diri setelah membunuh dua orang anaknya di Kecamatan Patrang.
“Sang ibu dikabarkan melakukan pembekapan dan pemukulan benda tumpul terhadap kedua anaknya hingga meregang nyawa. Meninggalnya seorang ibu dan kedua anaknya ini membawa sebuah pertanyaan besar,” kata Ketua Fraksi PKB Sunarsi Khoris, dalam sidang paripurna akhir Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2022 di gedung DPRD Jember, Jumat (23/6/2023) malam.
“Menurut keterangan beberapa saksi dan tetangga sebagaimana diberitakan media, sang ibu tersebut disenyalir memiliki riwayat penyakit yang telah lama diderita dan tidak mampu untuk melakukan pengobatan secara intensif, sehingga yang bersangkutan mengalami tekanan psikis,” kata Sunarsi.
Di sini muncul pertanyaan dari PKB tentang jumlah masyarakat kurang mampu yang belum terlayani program Jaminan Kesehatan Nasional Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan program pengobatan gratis yang telah diprakarsau Pemerintah Kabupaten Jember.
“Apakah anggaran kesehatan yang tercantum untuk pagu anggaran sebesar Rp 832,066 miliar dengan angka realisasi sebesar 88,85 persen dalam Laporan Pertamggungjawaban Pelaksanaan ABPD 2022 belum tepat sasaran? Ataukah ini merupakan kelalaian pemerintah di tingkat desa juga kecamatan di dalam melakukan verifikasi penerima bantuan pengobatan gratis,” kata Sunarsi.
Tragedi di Jalan Kepodang II, Lingkungan Krajan, Dusun Krajan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, itu terjadi pada Sabtu (17/6/2023) dini hari. Khusnul Khotimah (31) bersama dua orang anaknya yang masing-masing berusia tujuh tahun dan delapan bulan ditemukan mati mengenaskan di rumahnya.
Khotimah mati dalam.keadaan leher terikat tali dan tubuh menggantung di kusen pintu kamar. Sementara dua anaknya teletang di kasur dalam keadaan tak bernyawa. Ada bekas jeratan pada leher anak pertama dan bekas pukulan benda tumpul pada anak ketiga. Luka lebam terlihat pada bagian punggung luar.
Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Moch. Nurhidayat mengatakan, Khotimah mengalami halusinasi, mendapatkan bisikan-bisikan tidak jelas. “Bisikan tanpa wujud, dalam hal ini bisikan gaib,” kata mantan kepala Kepolisian Resor Jombang ini.
Khotimah menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Daerah dr, Soebandi Jember. Namun pengobatannya terhenti sejak Mei 2023 lalu. “Dia berhenti minum obat karena menyusui,” kata Kepala Dinas Sosial Jember Akhmad Helmi Luqman, sebagaimana diberitakan Beritajatim.com, Minggu (18/6/2023).
Pemerintah Kabupaten Jember sebenarnya mempunyai pelayanan gratis untuk kesehatan jiwa di setiap puskesmas. “Tidak mungkin rumah sakit menjangkau sampai ke desa-desa. Obat di puskesmas gratis,” kata Helmi.
Pelayanan kesehatan di Jember saat ini gratis bagi warga tak mampu dengan program J-Pasti Keren (Pelayanan Kesehatan Gratis Khusus Penduduk Jember yang Efektif dan Efisien). Dinsos bersama Dinas Kesehatan akan menyosialisasikan pelayanan gratis untuk kesehatan jiwa ini kepada masyarakat.
“Kami dorong masyarakat mau terbuka dan tidak malu-malu melaporkan bila ada anggota keluarganya yang mengalami permasalahan kejiwaan. Seringkali keluarga malu menyampaikan. Penyakit jiwa bukan aib tapi penyakit yang harus disembuhkan,” kata Helmi. [wir]






